Pronoted.com – Performa Bitcoin kembali tertinggal dibandingkan emas di pasar keuangan global.
Kondisi ini memicu anggapan melemahnya minat investor terhadap aset digital.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat menurut analis makro global.
Bitcoin saat ini bergerak lebih lambat meski emas mencetak rekor baru.
Banyak investor menilai situasi ini sebagai sinyal bearish bagi pasar crypto.
Padahal, pergerakan tersebut mencerminkan siklus ekonomi yang lebih luas.
“Baca Juga: IHSG Anjlok 8%, Trading Halt Picu Dampak ke Pasar Crypto“
Likuiditas Global Jadi Kunci Pergerakan Aset
Raoul Pal menilai pergerakan Bitcoin dan emas sangat bergantung pada likuiditas global.
Likuiditas mencerminkan jumlah uang yang mengalir dalam sistem keuangan dunia.
Ketika likuiditas meningkat, aset berisiko cenderung ikut menguat.
Emas biasanya bereaksi lebih cepat terhadap tekanan ekonomi global.
Investor menggunakan emas sebagai pelindung nilai saat risiko meningkat.
Akibatnya, harga emas sering bergerak lebih dulu dibandingkan Bitcoin.
Setelah itu, likuiditas mulai menyebar ke aset lain termasuk crypto.
Bitcoin kemudian mengikuti arah pergerakan emas dengan jeda waktu tertentu.
Pola ini berulang dalam banyak siklus ekonomi sebelumnya.
Perbedaan Respons Bitcoin dan Emas
Perbedaan pergerakan bukan berarti emas lebih unggul dari Bitcoin.
Dan Perbedaan tersebut muncul karena sensitivitas likuiditas yang tidak sama.
Emas merespons tekanan ekonomi lebih cepat dibandingkan aset digital.
Bitcoin membutuhkan kondisi likuiditas yang lebih stabil untuk bergerak.
Namun, ketika likuiditas menguat, Bitcoin sering mencatat kenaikan lebih agresif.
Oleh karena itu, keterlambatan Bitcoin masih tergolong wajar.
Jika investor membandingkan grafik emas dan Bitcoin dengan jeda waktu enam bulan, polanya terlihat selaras.
Keselarasan tersebut memperkuat pandangan tentang siklus yang berulang.
Pasar Crypto Masih Minim Kepemilikan Investor
Selain faktor likuiditas, kepemilikan crypto masih relatif rendah.
Banyak investor menganggap siklus bullish telah berakhir lebih cepat.
Akibatnya, mereka mengurangi eksposur terhadap Bitcoin dan aset digital lain.
Sentimen hati-hati tersebut menahan aliran modal ke pasar crypto.
Harga Bitcoin pun terlihat bergerak lebih lambat dibandingkan aset lain.
Namun, kondisi ini justru menciptakan peluang di masa depan.
Pasar yang minim kepemilikan sering bereaksi lebih kuat saat tren berubah.
Investor biasanya mengejar ketertinggalan ketika harga mulai naik konsisten.
Situasi tersebut mendorong pembelian cepat dan agresif.
Underowned Bisa Jadi Pemicu Kenaikan
Raoul Pal melihat kondisi underowned sebagai potensi katalis harga.
Ketika Bitcoin menunjukkan tren naik, investor menyadari posisi mereka terlalu kecil.
Kesadaran tersebut mendorong arus beli dalam waktu singkat.
Pola ini telah muncul dalam beberapa siklus sebelumnya.
Likuiditas yang kembali menguat sering memicu lonjakan harga Bitcoin.
Oleh karena itu, fase saat ini belum mencerminkan akhir siklus.
Mengapa Tahun 2026 Dinilai Sangat Penting
Raoul Pal menggunakan kerangka analisis bernama Everything Code.
Kerangka ini menempatkan likuiditas global sebagai faktor utama harga Bitcoin.
Ia menilai sekitar 90 persen pergerakan Bitcoin berasal dari perubahan likuiditas.
Tahun lalu, pasar tidak menerima dorongan likuiditas yang besar.
Pemerintah memilih memperpanjang jatuh tempo utang daripada mencetak stimulus baru.
Kebijakan tersebut memperpanjang siklus ekonomi global.
Selain itu, kejadian tak terduga turut menekan pasar crypto.
Penarikan likuiditas memicu tekanan besar pada aset berisiko.
Pada Oktober, pasar crypto mengalami gelombang likuidasi besar.
Likuidasi tersebut menekan Bitcoin meski saham dan emas menguat.
Dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Bitcoin pun bergerak mendatar dalam waktu cukup lama.
Bitcoin Berada di Spektrum Risiko Tinggi
Crypto berada di ujung spektrum risiko pasar keuangan.
Saat likuiditas menghilang, aset ini biasanya terkena dampak paling awal.
Namun, saat likuiditas kembali, pemulihannya juga paling cepat.
Berdasarkan pola tersebut, Pal menilai tahun 2026 berpotensi krusial.
Bitcoin berpeluang mengejar ketertinggalannya dari emas.
Momentum likuiditas global akan menjadi penentu utama.
Bitcoin Tertinggal dari Emas: Keterlambatan Bukan Tanda Kelemahan
Pergerakan lambat Bitcoin tidak selalu menandakan lemahnya fundamental.
Kondisi tersebut mencerminkan siklus likuiditas yang sedang berlangsung.
Investor perlu melihat konteks makro secara menyeluruh.
Jika likuiditas global kembali menguat, Bitcoin berpotensi bergerak agresif.
Tahun 2026 bisa menjadi fase penting dalam siklus berikutnya.
Oleh karena itu, keterlambatan saat ini masih tergolong wajar.
“Baca Juga: Highguard Tuai Ulasan Negatif, Respons Penonton Mengejutkan“
















