Pronoted.com – Investor terkenal Michael Burry kembali menarik perhatian pasar saham teknologi China. Kali ini, Burry menyoroti keputusan Alibaba menerbitkan saham baru untuk mendanai pengembangan kecerdasan buatan atau AI.
Alibaba mengumumkan penjualan 710 juta saham baru di bursa Hong Kong. Perusahaan menetapkan harga penjualan sebesar HK$112,70 per saham.
Dari aksi tersebut, Alibaba mengumpulkan dana sekitar HK$80 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar US$10,2 miliar.
Alibaba akan menggunakan dana tersebut untuk memperkuat bisnis AI. Strateginya mencakup pengembangan chip, pembangunan pusat data, dan pengembangan model AI.
“Baca Juga: Saham Circle CRCL Anjlok 70%, ARK Invest Tetap Beli“
Alibaba Tingkatkan Belanja AI hingga Tekan Laba
Alibaba terus meningkatkan investasi untuk mengejar perkembangan teknologi AI. Belanja modal perusahaan bahkan meningkat sekitar 75 persen pada kuartal terakhir.
Namun, peningkatan investasi tersebut juga memberikan tekanan terhadap laba. Laba bersih Alibaba turun sekitar 76 persen pada periode yang sama.
Kondisi tersebut membuat investor mempertanyakan strategi perusahaan. Pasar juga merespons penerbitan saham baru dengan tekanan terhadap harga saham Alibaba.
Saham Alibaba di Hong Kong sempat turun hampir 10 persen. Harga sahamnya bahkan menyentuh sekitar HK$110,80 setelah pengumuman tersebut.
Sementara itu, saham Alibaba yang tercatat di Amerika Serikat juga mengalami penurunan. ADR Alibaba turun lebih dari 8 persen pada perdagangan sebelumnya.
Michael Burry Kritik Penerbitan Saham Alibaba
Michael Burry kemudian menyampaikan pandangannya terhadap strategi Alibaba. Ia menilai penerbitan saham baru dapat mengurangi keuntungan investor lama.
Menurut Burry, Alibaba mulai menjadikan penerbitan saham sebagai pola pendanaan. Ia juga mengaku tidak lagi tertarik membeli saham Alibaba dalam waktu dekat.
Burry sebelumnya sempat mempertimbangkan untuk membeli kembali saham Alibaba. Namun, rencana tersebut berubah setelah Alibaba mengumumkan penjualan saham baru.
Burry bahkan menilai Alibaba akan lebih menarik jika harganya turun sekitar 50 persen. Pernyataan tersebut menunjukkan keraguan besar terhadap valuasi Alibaba saat ini.
Namun, Burry tidak menjelaskan bahwa Alibaba kehilangan seluruh daya tarik bisnisnya. Ia justru mempertanyakan cara perusahaan membiayai ekspansi AI.
Burry Sudah Keluar dari Alibaba Sejak Juni
Burry sebenarnya sudah menjual kepemilikan Alibaba sebelum pengumuman terbaru. Ia keluar dari posisi tersebut pada akhir Juni 2026.
Setelah menjual Alibaba, Burry mengalihkan dananya ke beberapa perusahaan lain. Pilihannya mencakup JD.com, Adobe, dan Fiserv.
Menariknya, Burry kemudian meningkatkan investasi pada JD.com. Perusahaan tersebut menjadi salah satu pesaing utama Alibaba di pasar China.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan strategi Burry di sektor teknologi China. Ia masih melihat peluang pada e-commerce China, tetapi memilih perusahaan berbeda.
Mengapa Burry Khawatir dengan Investasi AI?
Burry sudah lama mempertanyakan tingginya belanja perusahaan teknologi untuk AI. Ia menilai sebagian perusahaan mengeluarkan modal besar sebelum mendapatkan hasil yang jelas.
Penerbitan saham baru juga menambah kekhawatiran tersebut. Pasalnya, jumlah saham yang beredar meningkat setelah perusahaan menerbitkan saham tambahan.
Kondisi itu dapat mengurangi porsi kepemilikan investor lama. Karena itu, investor perlu memperhatikan manfaat investasi AI sekaligus sumber pendanaannya.
Burry juga melihat ketidakseimbangan antara investasi dan keuntungan Alibaba. Belanja besar untuk chip dan pusat data belum mampu mendorong laba secara langsung.
Namun, Alibaba tetap yakin investasi tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang. Perusahaan ingin membangun kemampuan AI dari infrastruktur hingga pengembangan model.
Pasar Mengawasi Dampak Penerbitan Saham Baru
Penurunan saham Alibaba menunjukkan kekhawatiran investor terhadap aksi korporasi tersebut. Investor tampaknya mempertimbangkan risiko dilusi bersama peluang pertumbuhan AI.
Di sisi lain, Alibaba memiliki bisnis besar di sektor e-commerce dan layanan digital. Perusahaan juga terus mengembangkan layanan cloud serta teknologi AI.
Karena itu, pasar masih memperdebatkan dampak strategi tersebut. Sebagian investor melihat investasi AI sebagai peluang pertumbuhan baru.
Namun, investor lain mengkhawatirkan kebutuhan modal yang semakin besar. Mereka juga mempertanyakan waktu yang dibutuhkan Alibaba untuk menghasilkan keuntungan dari investasi tersebut.
Burry Pilih Strategi Berbeda di China
Burry tetap melihat peluang dalam persaingan e-commerce China. Namun, ia kini lebih banyak memberikan perhatian kepada JD.com.
Sikap tersebut sesuai dengan gaya investasi Burry yang sering mengambil posisi berbeda. Ia biasanya mencari peluang ketika pasar memberikan valuasi yang menurutnya terlalu rendah.
Dalam kasus Alibaba, Burry memilih menunggu penurunan harga yang lebih besar. Sementara itu, Alibaba terus menjalankan strategi agresif untuk memperkuat bisnis AI.
Perkembangan berikutnya akan menunjukkan apakah strategi tersebut mampu meningkatkan kinerja Alibaba. Investor juga akan melihat apakah investasi AI dapat menghasilkan pertumbuhan laba yang sebanding.
Disclaimer: Artikel ini hanya menyajikan informasi pasar dan bukan rekomendasi investasi. Saham memiliki risiko, sehingga investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.
















