Pronoted.com – Dua perusahaan treasury Bitcoin, Strategy dan Strive, kembali menambah kepemilikan BTC pada awal Oktober 2026.
Namun, aksi pembelian tersebut belum mampu mendorong Bitcoin keluar dari kisaran US$85.000.
Pada Selasa, 6 Oktober 2026, CoinGecko mencatat harga Bitcoin sekitar US$85.436. Harga tersebut turun 1 persen dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin bergerak dalam rentang US$85.009 hingga US$86.662 pada periode tersebut. Selain itu, BTC masih berada di bawah level pembukaan tahun 2026.
“Baca Juga: Cara Daftar Bitcoin 2026 Lewat HP dengan Aman“
Strive Tambah 2.000 Bitcoin
Strive membeli 2.000 BTC senilai sekitar US$169 juta pada 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Perusahaan membayar rata-rata US$84.422 untuk setiap Bitcoin dalam transaksi tersebut. Menurut The Block, pembelian itu menjadi akumulasi terbesar Strive sejak Juni.
Tambahan tersebut membuat total kepemilikan Strive mencapai 29.462 BTC. Jumlah tersebut hanya terpaut 6.115 BTC dari kepemilikan MARA.
Strive menggunakan beberapa sumber dana untuk pembelian tersebut. Perusahaan mengandalkan penjualan saham preferen SATA dan eksekusi warrant senilai US$56,7 juta.
Sepanjang kuartal ketiga 2026, Strive telah mengakumulasi 8.137 BTC. Perusahaan membeli Bitcoin tersebut dengan harga rata-rata US$78.885.
Sementara itu, Metaplanet kini menguasai sekitar 44.000 BTC. Perusahaan tersebut juga terus memperkuat strategi akumulasi Bitcoin.
Strategy Beli 334 Bitcoin
Strategy juga kembali membeli Bitcoin pada awal Oktober. Namun, jumlah pembelian perusahaan jauh lebih kecil dibandingkan Strive.
Strategy membeli 334 BTC senilai US$28,7 juta pada 1 hingga 4 Oktober 2026. Perusahaan membayar rata-rata US$85.839 untuk setiap Bitcoin.
Strategy menggunakan dana dari penjualan 92.894 saham MSTR dan kas perusahaan. Penjualan saham tersebut menghasilkan dana sekitar US$15,7 juta.
Setelah transaksi tersebut, Strategy memiliki sekitar 848.000 BTC. Perusahaan mencatat harga pembelian rata-rata sebesar US$75.441 per Bitcoin.
Namun, Strategy juga melakukan aksi korporasi lain pada periode yang sama. Perusahaan membeli kembali 1,77 juta saham preferen STRC senilai US$176,3 juta.
Karena itu, Strategy mengalokasikan sebagian dana untuk pembelian kembali saham preferen. Kondisi tersebut membuat pembelian Bitcoin perusahaan terlihat lebih kecil.
Yield Obligasi AS Tekan Harga Bitcoin
Meskipun perusahaan terus membeli Bitcoin, kondisi makroekonomi masih memberikan tekanan.
Menurut CoinMarketCap, imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun mencapai 5,35 persen. Kenaikan tersebut mengikuti data ISM sektor jasa.
Data tersebut menunjukkan kenaikan harga input yang perusahaan hadapi. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan perhatian pasar terhadap inflasi.
Selain itu, real yield yang mendekati 3 persen membuat Bitcoin menghadapi persaingan dari aset berbunga. Investor dapat memperoleh imbal hasil dari instrumen berbasis obligasi.
Akibatnya, Bitcoin masih berada sekitar 2,5 persen di bawah harga pembukaan 2026. Bitcoin memulai tahun tersebut pada level sekitar US$87.508.
Pasar Derivatif Tambah Tekanan
Tekanan juga muncul dari aktivitas perdagangan derivatif Bitcoin. Pasar tersebut menggunakan kontrak yang mengikuti pergerakan harga aset.
The Crypto Times melaporkan Bitcoin sempat turun menuju US$84.600 pada 3 Oktober. Sebelumnya, BTC gagal melewati level US$87.100.
Penolakan tersebut menjadi yang kedua di sekitar level US$87.000 dalam dua pekan. Setelah itu, tekanan jual mendorong harga Bitcoin kembali turun.
Koreksi tersebut memicu likuidasi sekitar US$433,6 juta di pasar kripto. Posisi long menyumbang sekitar 74 persen dari total likuidasi.
Selain itu, open interest Bitcoin masih berada di level tinggi. Data menunjukkan nilainya mencapai sekitar US$67,9 miliar.
Angka tersebut menunjukkan banyak pelaku pasar masih menggunakan posisi dengan leverage. Karena itu, volatilitas Bitcoin masih berpotensi tinggi.
Bitcoin Menghadapi Level Penting
Analis Rekt Capital menilai Bitcoin masih bergerak di antara dua level penting. Ia melihat area US$82.500 sebagai support utama.
Sementara itu, level US$86.700 menjadi resistance penting bagi Bitcoin. Pergerakan harga melewati salah satu level tersebut dapat menentukan arah berikutnya.
Pasar juga menantikan beberapa agenda ekonomi penting. Risalah rapat Federal Reserve menjadi salah satu perhatian utama.
Selain itu, investor akan memantau lelang obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun. Data inflasi CPI pada 14 Oktober juga akan memengaruhi sentimen pasar.
Probabilitas kenaikan suku bunga Oktober juga mengalami perubahan. Pasar kini memperkirakan peluang tersebut turun dari 70 persen menjadi 18 persen.
Arus ETF Bitcoin Jadi Perhatian
Selain kebijakan moneter, arus dana ETF Bitcoin spot juga dapat memengaruhi harga BTC.
Inflow ETF yang kuat berpotensi membantu Bitcoin menguji level US$90.000. Namun, kondisi tersebut membutuhkan dukungan sentimen positif dari pasar.
Sebaliknya, outflow ETF dapat meningkatkan tekanan jual terhadap Bitcoin. Kondisi tersebut berpotensi mendorong BTC kembali menuju US$83.000.
Pada 1 Oktober, ETF Bitcoin spot kembali mencatat inflow bersih. The Crypto Times mencatat nilainya mencapai US$102,67 juta.
Namun, investor masih perlu memperhatikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Yield yang tinggi dapat membatasi minat terhadap aset berisiko.
Karena itu, pembelian Strategy dan Strive belum cukup untuk memicu reli baru. Aksi akumulasi tersebut saat ini lebih berperan menjaga permintaan Bitcoin.
Pergerakan Bitcoin selanjutnya akan bergantung pada kondisi makroekonomi dan arus dana ETF. Investor juga perlu memperhatikan level support dan resistance utama.
Disclaimer
Informasi ini bertujuan memberikan wawasan mengenai perkembangan pasar kripto. Kinerja masa lalu aset tidak menjamin hasil investasi pada masa mendatang.
Bitcoin memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi. Karena itu, lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Gunakan dana yang sesuai dengan kemampuan finansial dan pahami risiko setiap transaksi. Keputusan jual beli aset kripto sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.
“Baca Juga: Pengaruh India di Asia Tenggara: Sejarah dan Dampaknya“
















