Pronoted.com – Tom Lee, Co-founder Fundstrat sekaligus Chairman BitMine, memperingatkan potensi tekanan tambahan terhadap pasar kripto. Ia menilai kejatuhan bursa saham Korea Selatan dapat memicu aksi jual aset digital dalam waktu dekat.
Peringatan tersebut muncul ketika indeks KOSPI jatuh di bawah level 6.000 pada Selasa (13/10/2026). Pada saat yang sama, Bitcoin sudah turun ke kisaran US$81.000 dan likuidasi pasar kripto mencapai lebih dari US$770 juta dalam sehari.
Lee menyoroti risiko margin call yang dapat memaksa investor menjual aset kripto untuk memenuhi kewajiban keuangan. Namun, apakah tekanan dari Korea Selatan benar-benar menjadi penyebab utama pelemahan pasar kripto?
“Baca Juga: Man City vs PSG: Jadwal dan Link Live Streaming UCL“
1. KOSPI Anjlok di Bawah 6.000, Bursa Aktifkan Sidecar
KOSPI mengalami tekanan jual tajam pada Selasa dan sempat turun lebih dari 6%. Penurunan tersebut membawa indeks ke bawah level 6.000, posisi terendah sejak 31 Juli.
Menurut The Herald Business, bursa Korea Selatan mengaktifkan mekanisme sidecar sisi jual. Mekanisme ini menghentikan sementara order jual dari program perdagangan ketika pasar mengalami pergerakan tajam.
Bursa terakhir kali mengaktifkan mekanisme tersebut pada 20 Agustus. Sementara itu, tekanan pasar juga menjalar ke kawasan Asia. Indeks Nikkei Jepang tercatat melemah 2,6%.
Aksi jual saham semikonduktor menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap KOSPI. Saham perusahaan chip dan memori memiliki bobot besar dalam indeks tersebut.
Min Jung dari Presto Research menjelaskan bahwa pelemahan saham semikonduktor Amerika Serikat turut memengaruhi pasar Asia. Selain itu, kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran investor terhadap inflasi.
Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kenaikan inflasi, imbal hasil obligasi, dan penguatan dolar AS.
2. Tom Lee Soroti Risiko Margin Call terhadap Pasar Kripto
Melalui unggahan di X, Tom Lee memperingatkan kemungkinan penurunan saham Korea Selatan memengaruhi pasar kripto. Ia menilai investor ritel Korea memiliki keterlibatan besar dalam investasi aset digital.
Ketika harga saham jatuh, investor yang menggunakan pinjaman dapat menghadapi margin call. Kondisi ini mengharuskan investor menambah jaminan atau menjual aset untuk memenuhi kewajiban mereka.
Akibatnya, sebagian investor berpotensi menjual Bitcoin, Ethereum, atau aset kripto lainnya demi memperoleh uang tunai. Langkah tersebut dapat menambah tekanan jual ketika pasar sudah mengalami pelemahan.
Lee secara khusus menyoroti Ethereum (ETH) sebagai aset yang berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek. Namun, ia menggambarkan situasi tersebut sebagai short-term pain, bukan pertanda pasti tren penurunan berkepanjangan.
Meski demikian, Lee tidak menyertakan angka spesifik mengenai nilai margin call di Korea Selatan. Ia juga tidak memberikan data terperinci tentang aliran dana dari pasar saham Korea menuju pasar kripto.
Karena itu, pelaku pasar masih perlu memantau perkembangan bursa Seoul dan pergerakan aset digital. Tekanan lanjutan di pasar saham berpotensi memperburuk sentimen investor terhadap kripto.
3. Bitcoin Turun, Likuidasi Kripto Tembus US$771 Juta
Data The Block menunjukkan Bitcoin turun 2,8% dalam 24 jam menjadi US$81.382 pada Senin malam waktu Amerika Serikat. Sebelumnya, Bitcoin berada di sekitar US$84.200.
Ethereum juga melemah 4,6% ke US$2.425. Sementara itu, data CoinGlass mencatat likuidasi pasar kripto selama 24 jam mencapai US$771 juta.
Dari jumlah tersebut, likuidasi posisi long mencapai US$685,6 juta. Angka ini menunjukkan banyak trader yang bertaruh pada kenaikan harga mengalami kerugian ketika pasar bergerak turun.
Namun, waktu kejadian memberikan petunjuk penting. Pelemahan Bitcoin dan Ethereum sudah berlangsung sebelum KOSPI mengalami penurunan tajam pada Selasa pagi waktu Asia.
Dengan demikian, gejolak di Korea Selatan belum tentu menjadi pemicu awal aksi jual kripto. Faktor lain kemungkinan sudah menekan pasar sebelum bursa Seoul mengalami penurunan besar.
4. Tekanan Makro dan Arus Keluar ETF Turut Membebani Kripto
Dominick John dari Zeus Research menilai sejumlah faktor makro turut menekan pasar kripto. Faktor tersebut mencakup melemahnya permintaan institusional dan sikap investor yang menghindari aset berisiko.
Selain itu, investor juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat. Ketidakpastian ekonomi dapat mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi.
Arus dana ETF spot kripto di Amerika Serikat turut menunjukkan tekanan. ETF spot Bitcoin mencatat arus keluar bersih sebesar US$681,1 juta pada pekan sebelumnya.
Pada periode yang sama, ETF spot Ethereum kehilangan dana sekitar US$542 juta. Arus keluar tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor mengurangi eksposur terhadap kedua aset tersebut.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa tekanan kripto berasal dari beberapa faktor sekaligus. Oleh karena itu, investor tidak sebaiknya mengaitkan seluruh penurunan harga hanya dengan margin call di Korea Selatan.
5. Apakah Kejatuhan Saham Korea Akan Memperpanjang Koreksi Kripto?
Peringatan Tom Lee menyoroti hubungan antara pasar saham dan aset kripto saat investor menghadapi tekanan keuangan. Ketika investor membutuhkan uang tunai, mereka dapat menjual aset digital untuk menutup kerugian atau memenuhi kewajiban margin.
Namun, data yang tersedia belum membuktikan bahwa margin call di Korea Selatan menjadi penyebab utama penurunan kripto. Pelemahan harga, arus keluar ETF, dan kekhawatiran makro juga menunjukkan tekanan yang lebih luas.
Karena itu, investor perlu memantau perkembangan KOSPI, arus dana ETF, harga Bitcoin, dan likuidasi pasar. Kombinasi indikator tersebut dapat membantu memberikan gambaran lebih lengkap tentang kondisi pasar.
Pada akhirnya, tekanan dari Korea Selatan berpotensi memperburuk sentimen kripto dalam jangka pendek. Namun, arah pasar berikutnya tetap bergantung pada perkembangan ekonomi, permintaan investor, dan kondisi likuiditas global.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.
“Baca Juga: Man City vs PSG: Jadwal dan Link Live Streaming UCL“
















