Pronoted.com – Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah gagal menembus level psikologis 69.000 dolar AS. Saat ini, harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,08 miliar. Kapitalisasi pasarnya menyentuh sekitar Rp21.963 triliun. Volume perdagangan harian tercatat sekitar Rp718 triliun.
Namun demikian, pasar belum menunjukkan kekuatan beli yang konsisten. Beberapa indikator justru menunjukkan tekanan jual masih dominan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan koreksi lanjutan dalam waktu dekat.
“Baca Juga: Harga Dogecoin Uji Support, Arah Segera Ditentukan“
Tekanan Jual Masih Menguasai Pasar
Struktur pasar saat ini menunjukkan kecenderungan melemah. Data perbandingan aktivitas beli dan jual memperlihatkan volume jual lebih besar. Artinya, pelaku pasar lebih banyak melepas aset dibandingkan mengakumulasi.
Selama tekanan jual mendominasi, harga akan sulit menembus resistance kuat. Analis Joao Wedson dari Alphractal menilai reli jangka pendek belum memiliki fondasi kuat. Ia menekankan bahwa kenaikan tanpa dukungan pembeli aktif tidak akan bertahan lama.
Menurutnya, harga bisa saja naik ke 72.000 hingga 75.000 dolar AS. Namun, tanpa lonjakan minat beli, kenaikan itu berpotensi bersifat sementara. Oleh karena itu, pelaku pasar masih perlu waspada terhadap potensi pembalikan arah.
Zona Likuidasi Hambat Kenaikan
Selain tekanan jual, Bitcoin juga menghadapi hambatan di area 69.000 dolar AS. Data pasar menunjukkan banyak posisi leverage terkonsentrasi di level tersebut. Ketika harga mendekati area itu, volatilitas biasanya meningkat tajam.
Lonjakan harga dapat memicu penutupan posisi secara paksa. Sebaliknya, penolakan harga juga bisa memicu aksi jual lanjutan. Karena itu, zona ini menjadi area krusial dalam jangka pendek.
Di sisi lain, volume perdagangan derivatif justru menurun tajam. Data CoinGlass mencatat volume futures turun sekitar 48 persen. Volume options bahkan turun hingga 59 persen. Penurunan ini menunjukkan pelaku pasar belum menunjukkan keyakinan penuh.
Ketika volume melemah di tengah kenaikan harga moderat, reli sering kehilangan tenaga. Oleh sebab itu, pasar masih berada dalam fase tidak pasti.
Distribusi Kepemilikan Berubah
Selain faktor teknikal, data on-chain juga menunjukkan perubahan kepemilikan. Dompet besar mulai mengurangi porsi kepemilikan mereka. Sebaliknya, dompet kecil justru meningkatkan akumulasi secara bertahap.
Perubahan ini menandakan proses distribusi dari investor besar ke ritel. Biasanya, fase ini muncul setelah periode kenaikan panjang. Investor besar cenderung mengamankan keuntungan, sementara investor ritel mulai masuk.
Namun, proses ini membutuhkan waktu hingga pasar menemukan keseimbangan baru. Selama distribusi belum selesai, harga cenderung bergerak dalam rentang terbatas. Selain itu, potensi breakout besar masih tertahan.
Di sisi positif, akumulasi ritel dapat menjadi fondasi reli berikutnya. Namun, pasar membutuhkan sentimen kuat dan volume beli konsisten untuk memicu kenaikan berkelanjutan.
Bitcoin Gagal Tembus $69.000: Masih Bergerak dalam Fase Konsolidasi
Secara keseluruhan, Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi. Tekanan jual membatasi ruang kenaikan harga. Zona likuidasi di 69.000 dolar AS juga memperkuat hambatan jangka pendek.
Selain itu, penurunan volume derivatif menunjukkan minat spekulatif melemah. Distribusi kepemilikan juga menambah dinamika baru di pasar.
Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan volume dan sentimen global. Jika pembeli mulai mendominasi, harga berpeluang menembus resistance kuat. Namun, jika tekanan jual berlanjut, koreksi tetap terbuka.
Untuk saat ini, Bitcoin bergerak dalam pola stabil namun rapuh. Investor sebaiknya tetap berhati-hati dan melakukan riset sebelum mengambil keputusan.
“Baca Juga: Indonesia Percepat Pengembangan Drone Elang Hitam“
















