Pronoted.com – Harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran Rp1,11 miliar atau sekitar US$66.000. Kapitalisasi pasar mencapai Rp22.125 triliun. Volume perdagangan harian menyentuh Rp772,43 triliun. Sementara itu, suplai beredar mendekati 19,99 juta BTC.
Sejak awal tahun, harga BTC sempat turun hingga 35 persen. Namun, saat ini Bitcoin bergerak dalam rentang US$60.000–US$70.000. Jika dikonversi dengan kurs Rp16.789, rentang itu setara Rp1,00–Rp1,17 miliar. Pergerakan ini menunjukkan fase konsolidasi.
Meski harga terlihat datar, data adopsi justru bergerak berbeda. Beberapa indikator menunjukkan adanya akumulasi jangka panjang. Karena itu, pasar mulai membaca potensi divergensi antara harga dan fundamental.
“Baca Juga: Alasan Bitcoin Belum Tembus $150.000 Terungkap“
Arus ETF Negatif Tekan Likuiditas Pasar
Rata-rata arus dana 90 hari untuk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat minus US$2,18 miliar. Angka itu setara sekitar Rp36,6 triliun. Data ini menunjukkan lebih banyak investor menarik dana dibanding menambah posisi.
Kondisi tersebut mengurangi dorongan beli dari institusi besar. Dalam dua tahun terakhir, pola arus negatif sering mendahului koreksi harga. Oleh sebab itu, pelaku pasar memantau perubahan arus ETF dengan cermat.
ETF sering mencerminkan sentimen investor besar terhadap kripto. Ketika inflow kembali positif, harga biasanya ikut menguat. Sebaliknya, arus keluar berkelanjutan dapat membatasi reli.
Saat ini, likuiditas pasar terlihat terbatas. Tanpa arus dana baru, harga cenderung bergerak dalam rentang sempit. Karena itu, pemulihan inflow ETF dapat menjadi pemicu reli berikutnya.
Whale Kembali Akumulasi Saat Harga Sideways
Data on-chain menunjukkan pergerakan menarik dari kelompok whale. Alamat dengan kepemilikan 1.000 hingga 10.000 BTC pernah menambah lebih dari 200.000 BTC pada 2023. Saat itu, harga bergerak datar sebelum akhirnya melonjak.
Akumulasi tersebut mendahului reli besar pada periode berikutnya. Indikator pentingnya terletak pada perubahan tahunan kepemilikan whale. Ketika angka ini melampaui rata-rata 365 hari, pasar biasanya memasuki fase penyerapan suplai.
Saat harga bergerak sideways, investor besar sering membeli secara diam-diam. Strategi ini membantu mereka mengumpulkan aset tanpa mendorong harga terlalu cepat. Oleh karena itu, pola akumulasi sering menjadi sinyal bullish tersembunyi.
Kini, pasar kembali mengamati pergerakan kelompok whale. Jika pola lama terulang, suplai di pasar bisa semakin berkurang. Dengan suplai yang menyusut, tekanan beli dapat mendorong harga naik.
Hash Rate Stabil Perkuat Fundamental Jaringan
Rata-rata hash rate 30 hari berada di sekitar 0,99 ZH/s. Angka ini menunjukkan penambang tetap aktif menjaga jaringan. Bahkan saat harga bergerak datar, mereka terus berinvestasi pada infrastruktur.
Kenaikan hash rate mencerminkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Penambang biasanya meningkatkan kapasitas ketika mereka yakin terhadap masa depan jaringan. Karena itu, stabilitas hash rate memperkuat fondasi fundamental.
Di sisi lain, akumulasi dari perusahaan publik melambat. Dalam 30 hari terakhir, treasury perusahaan hanya bertambah sekitar 0,1 persen. Artinya, perusahaan memilih mempertahankan posisi yang ada.
Perusahaan belum menunjukkan agresivitas pembelian seperti periode sebelumnya. Namun, mereka juga tidak melepas kepemilikan besar. Sikap ini menunjukkan fase menunggu arah pasar yang lebih jelas.
Konsolidasi Sehat, Pasar Tunggu Katalis Baru
Kombinasi arus ETF negatif, akumulasi whale, dan hash rate stabil menggambarkan fase konsolidasi. Pasar belum menerima katalis kuat untuk mendorong reli besar. Namun, fundamental jaringan tetap terjaga.
Selain itu, suplai Bitcoin yang terbatas mendukung potensi kenaikan jangka panjang. Jika likuiditas institusional kembali masuk, harga bisa bergerak lebih agresif. Terlebih lagi, percepatan akumulasi dari whale dapat mempercepat penyerapan suplai.
Untuk saat ini, Bitcoin bergerak dalam pola sideways yang relatif stabil. Meski begitu, dinamika di balik layar terus berkembang. Oleh sebab itu, investor perlu memantau arus dana ETF dan pergerakan whale.
Pada akhirnya, arah Bitcoin akan ditentukan oleh kombinasi likuiditas dan kepercayaan pasar. Jika kedua faktor itu menguat, reli baru bisa terbentuk. Sebaliknya, tanpa dorongan dana segar, harga mungkin tetap bergerak dalam rentang terbatas.
“Baca Juga: One Battle After Another Sapu Bersih BAFTA 2026“
















