Pronoted.com – Harga Ethereum (ETH) saat ini berada di sekitar Rp32,6 juta setelah turun dari puncak US$2.150.
Sebelumnya, harga sempat menyentuh sekitar Rp36 juta sebelum kembali melemah di bawah US$2.000.
Kini, analis menilai level Rp35 juta menjadi penentu arah berikutnya.
Penutupan harian di atas US$2.100 atau sekitar Rp35,2 juta akan memberi sinyal penting.
Level tersebut bertepatan dengan harga rata-rata beli para whale besar.
Whale yang memegang 100.000 ETH atau lebih sering memengaruhi pergerakan pasar.
Sejak 2020, area ini kerap menjadi titik balik siklus kripto.
Karena itu, pelaku pasar menunggu konfirmasi dari penutupan harian.
Tanpa konfirmasi tersebut, reli harga masih terlihat rapuh.
“Baca Juga: Harga XRP Turun 5 Bulan, Prediksi Reli Besar 2026“
Level Rp35 Juta Jadi Penentu Arah
Data on-chain menunjukkan mayoritas whale kembali untung jika harga berada di atas US$2.100.
Kondisi itu biasanya memperkuat kepercayaan pasar.
Secara historis, ETH jarang bertahan lama di bawah harga rata-rata beli whale.
Jika harga mampu bertahan di atas US$2.140, momentum naik bisa terbentuk.
Sebaliknya, kegagalan bertahan akan mendorong harga kembali ke fase konsolidasi.
Selain itu, struktur harga kini menyentuh rata-rata transaksi bulanan.
Harga juga bergerak di area volume tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut sering menandakan fase akumulasi.
Namun, pasar tetap membutuhkan dorongan volume yang kuat.
Tanpa dorongan tersebut, harga sulit melanjutkan kenaikan.
Ancaman Likuidasi Dekat Rp30 Juta
Sementara itu, pasar derivatif mencatat likuidasi short lebih dari US$220 juta dalam dua hari.
Tekanan jual memang mulai berkurang.
Namun, risiko lain justru muncul dari posisi long yang terlalu padat.
Data menunjukkan eksposur likuidasi long mencapai US$2,66 miliar di sekitar US$1.800.
Level itu setara dengan Rp30,2 juta.
Area tersebut menjadi kantong likuiditas besar.
Jika momentum melemah, harga bisa turun untuk menyentuh area tersebut.
Pergerakan seperti itu sering terjadi saat pasar mencari keseimbangan baru.
Selain itu, funding rate kembali positif dalam beberapa sesi terakhir.
Artinya, trader lebih banyak membuka posisi beli.
Kondisi ini memang mencerminkan optimisme.
Namun, posisi yang terlalu ramai bisa memicu koreksi tajam.
Karena itu, area Rp30 juta kini menjadi support penting.
Jika harga bertahan di atas level itu, struktur naik tetap terjaga.
Namun, jika harga menembusnya, tekanan jual bisa meningkat.
Hambatan Menuju Rp41 Juta
Di sisi lain, harga juga menghadapi resistensi kuat di sekitar US$2.250.
Level tersebut setara dengan Rp37,7 juta.
Indikator tren harian masih menunjukkan tekanan jual.
Selama harga berada di bawah resistensi itu, tren belum sepenuhnya berubah naik.
Untuk membuka jalan menuju US$2.500 atau sekitar Rp41,9 juta, harga harus menembus US$2.250.
Breakout yang kuat membutuhkan volume besar dan sentimen positif.
Jika harga gagal menembus resistensi, pasar bisa kembali melemah.
Dalam skenario tersebut, area US$1.500 atau sekitar Rp25 juta menjadi zona permintaan berikutnya.
Zona itu sebelumnya menarik minat beli cukup besar.
Investor Tunggu Konfirmasi Tren
Saat ini, pergerakan Ethereum mencerminkan pertarungan antara akumulasi dan tekanan teknikal.
Whale besar terlihat mulai kembali ke zona untung.
Namun, risiko likuidasi long tetap membayangi pasar.
Karena itu, level Rp35 juta menjadi ambang krusial.
Penutupan harian di atas level tersebut dapat memperkuat sentimen bullish.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level itu akan menjaga pasar dalam fase ragu.
Dalam beberapa sesi mendatang, trader akan mencermati volume dan reaksi harga.
Mereka juga memantau pergerakan pasar global yang memengaruhi aset kripto.
Pada akhirnya, arah jangka pendek ETH sangat bergantung pada kemampuan harga menembus dan bertahan di atas Rp35 juta.
Jika skenario positif terwujud, target Rp41 juta kembali terbuka.
Namun, jika tekanan meningkat, area Rp30 juta akan kembali diuji.
“Baca Juga: Observatorium Mini Unisba dan Teknologi Astronomi“
















