Pronoted.com – Harga Bitcoin turun tajam melewati ambang batas psikologis di kisaran $100 ribu pada Kamis, 13 November 2025. Aset kripto utama ini sempat menyentuh titik terendah di $98.200 sebelum sedikit pulih ke sekitar $98.400.
Penurunan lebih dari 2% ini mengejutkan banyak investor. Sebelumnya, Bitcoin sempat stabil di atas $100 ribu selama beberapa minggu terakhir. Namun kini, tren harga menunjukkan tekanan jual yang kuat di tengah perubahan sentimen pasar global.
“Baca Juga: Ripple (XRP) Bertahan di Level Kunci, Sinyal Rebound Muncul“
Aksi Jual Whale Tekan Harga Bitcoin
Menurut data dari CryptoQuant, penurunan harga Bitcoin dipicu oleh aksi jual besar-besaran dari investor besar atau whale. Para pemegang jangka panjang melakukan penjualan masif, mirip dengan pola yang terjadi pada akhir 2024.
Dalam 30 hari terakhir, pemegang jangka panjang dilaporkan telah menjual lebih dari 815.000 BTC. Salah satu whale bahkan menjual Bitcoin senilai $290 juta melalui bursa Kraken.
Data dari Arkham mengungkap bahwa investor bernama Owen Gunden memindahkan seluruh sisa kepemilikannya ke Kraken. Ia menjual lebih dari setengah portofolionya dan kini hanya menyisakan sekitar $250 juta dalam bentuk Bitcoin.
Aksi jual seperti ini sering kali memicu kepanikan di pasar. Para trader ritel cenderung mengikuti langkah para whale, sehingga tekanan jual meningkat dengan cepat.
Emas Menguat, Kripto Tertekan
Menariknya, saat Bitcoin melemah, harga emas justru naik. Banyak investor global memilih mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih stabil.
Meski pemerintah Amerika Serikat telah kembali membuka aktivitas ekonomi secara penuh, aliran modal ke pasar kripto belum cukup kuat. Para investor tampaknya lebih berhati-hati karena volatilitas tinggi di pasar aset digital.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pasar kripto masih rapuh. Bitcoin harus bersaing dengan aset konvensional seperti emas dan saham yang kini sedang menguat.
Likuidasi Besar Tekan Pasar Derivatif
Setelah aksi jual besar tersebut, pasar kripto berjangka mengalami likuidasi besar-besaran. Berdasarkan data dari CoinGlass, lebih dari $647 juta posisi terlikuidasi dalam 24 jam terakhir.
Sekitar $519 juta di antaranya berasal dari posisi long yang kalah akibat penurunan mendadak harga Bitcoin. Dari total tersebut, Bitcoin sendiri menyumbang lebih dari $234 juta.
Fenomena ini memicu efek long squeeze, di mana penurunan harga semakin dalam karena banyak trader terpaksa menutup posisi mereka. Akibatnya, indeks ketakutan pasar kripto turun ke angka 25, yang menandakan kondisi “ketakutan ekstrem”.
Analisis Teknis: Tren Bullish Mulai Melemah
Secara teknikal, Bitcoin gagal mempertahankan level dukungan di $107 ribu. Kegagalan ini menandakan pembalikan arah tren yang sebelumnya bullish menjadi korektif.
Analis memperkirakan bahwa Bitcoin akan menguji kembali garis tren dukungan jangka panjang di kisaran $94.000 hingga $90.000. Area ini menjadi titik penting yang menentukan arah pasar selanjutnya.
Sementara itu, pasar CME masih memiliki celah harga di sekitar $92.000 yang belum tertutup. Banyak trader meyakini bahwa harga Bitcoin berpotensi turun ke level itu sebelum memulai pemulihan baru.
Prospek Selanjutnya: Peluang Rebound Masih Ada
Meski harga turun tajam, sebagian analis tetap optimis terhadap prospek Bitcoin. Fokus investor kini tertuju pada kebijakan Federal Reserve yang kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneter pada Desember.
Kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) biasanya mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin. Banyak analis memperkirakan bahwa sebagian keuntungan dari emas akan beralih ke kripto dalam beberapa minggu mendatang.
Jika hal itu terjadi, Bitcoin bisa mengalami rebound dan kembali menuju zona $105.000 hingga $110.000. Namun, pemulihan ini masih bergantung pada seberapa cepat pasar dapat menyeimbangkan tekanan jual dan minat beli baru.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor
Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi di pasar kripto. Data on-chain menunjukkan pergerakan besar dari dompet whale, yang bisa memicu perubahan harga signifikan.
Bagi trader jangka pendek, menjaga disiplin dalam mengatur posisi dan risiko menjadi hal penting. Sementara investor jangka panjang sebaiknya tetap fokus pada nilai fundamental Bitcoin dan perkembangan kebijakan ekonomi global.
Kesimpulan: Harga Bitcoin Anjlok?
Harga Bitcoin turun di bawah $100 ribu akibat aksi jual besar oleh investor besar dan likuidasi posisi long di pasar derivatif. Tekanan jual ini diperparah oleh penguatan emas dan melemahnya kepercayaan terhadap aset digital.
Meski demikian, peluang pemulihan masih terbuka jika Federal Reserve benar-benar melonggarkan kebijakan moneternya. Investor perlu tetap tenang dan menyiapkan strategi yang matang menghadapi perubahan arah pasar.
Apakah penurunan ini menjadi awal dari fase koreksi besar, atau justru peluang beli baru di pasar kripto? Waktu yang akan menjawab.
“Baca Juga: Toyota Tampilkan Robot Kursi Canggih Walk Me di Japan Mobility Show“
















