Pronoted.com – Saham Robinhood Markets Inc. dengan kode HOOD mengalami tekanan besar setelah rilis laporan Q4 2025. Investor langsung merespons data pendapatan yang meleset dari ekspektasi.
Perusahaan memang mencatat pertumbuhan tahunan yang positif. Namun, pasar fokus pada penurunan pendapatan dari trading crypto. Karena itu, harga saham langsung melemah setelah laporan keluar.
Kondisi pasar crypto yang belum stabil ikut memperbesar tekanan. Selain itu, sentimen makro global masih membebani sektor teknologi dan fintech.
“Baca Juga: Emas & Perak Naik, Apa Dampaknya ke Crypto?“
Pendapatan Kuartal Keempat Tidak Penuhi Target
Robinhood melaporkan pendapatan Q4 2025 sebesar USD 1,28 miliar. Angka ini naik sekitar 26,5 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Namun, analis Wall Street memperkirakan pendapatan sekitar USD 1,34 miliar. Selisih tersebut memicu kekecewaan investor.
Di sisi lain, laba per saham non-GAAP sedikit melampaui estimasi. Meski begitu, investor tetap menyoroti turunnya margin operasi.
Selain itu, penurunan pendapatan dari trading crypto menjadi perhatian utama. Investor menilai segmen ini sangat penting bagi pertumbuhan Robinhood.
Pendapatan Crypto Melemah dan Tekan Sentimen
Pendapatan transaksi dari aset crypto mengalami kontraksi signifikan. Aktivitas trading aset digital menurun sepanjang kuartal tersebut.
Penurunan volume terjadi pada aset besar seperti Bitcoin dan sejumlah altcoin utama. Kondisi pasar yang lesu mengurangi minat investor ritel untuk bertransaksi.
Akibatnya, kontribusi crypto terhadap total pendapatan ikut menurun. Padahal, pada periode sebelumnya, crypto menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Investor melihat kondisi ini sebagai dampak lanjutan dari crypto winter. Tren lesu tersebut masih memengaruhi volume dan minat pasar.
Walau total pendapatan naik, pasar tetap fokus pada tren jangka panjang. Karena itu, ekspektasi pertumbuhan Robinhood menjadi lebih konservatif.
Saham HOOD Turun dan Bergerak Sejalan dengan Bitcoin
Setelah laporan Q4 rilis, saham HOOD langsung terkoreksi tajam. Penurunan ini bahkan memperpanjang tren pelemahan sejak awal 2026.
Analis mencatat bahwa pergerakan saham HOOD kini sangat berkorelasi dengan harga Bitcoin. Fenomena ini terjadi meski Robinhood memiliki produk selain crypto.
Namun, pasar tetap mengaitkan kinerja Robinhood dengan sentimen aset digital. Ketika harga Bitcoin turun, saham HOOD sering ikut melemah.
Sebaliknya, saat harga crypto menguat, saham Robinhood cenderung naik. Korelasi ini menunjukkan kuatnya pengaruh sektor crypto terhadap valuasi perusahaan.
Selain itu, tekanan makro global ikut memperburuk sentimen. Suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi membuat investor lebih berhati-hati.
Strategi Ekspansi dan Harapan Jangka Panjang
Meski menghadapi tekanan, manajemen tetap menyiapkan strategi pertumbuhan baru. CEO Vlad Tenev menyoroti peluang besar di segmen prediction markets.
Ia bahkan menyebut potensi “supercycle” pada segmen tersebut. Perusahaan juga mengembangkan tokenisasi saham dan layanan keuangan lain.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan transaksi crypto. Selain itu, Robinhood ingin memperluas basis pengguna aktif.
Beberapa analis tetap melihat potensi jangka panjang. Mereka menilai diversifikasi produk bisa memperkuat model bisnis.
Namun, investor tetap berhati-hati. Ketergantungan pada volume transaksi masih menjadi risiko utama.
Selain itu, volatilitas pasar crypto dapat kembali menekan pendapatan. Karena itu, pasar memantau strategi peningkatan margin dan efisiensi biaya.
Dampak bagi Sektor Fintech dan Crypto
Penurunan saham HOOD memberi sinyal penting bagi sektor fintech. Perusahaan yang bergantung pada trading crypto sangat sensitif terhadap siklus pasar.
Ketika volume turun, pendapatan langsung tertekan. Situasi ini menegaskan bahwa diversifikasi menjadi langkah penting.
Investor kini lebih selektif dalam memilih saham fintech berbasis trading. Mereka mempertimbangkan korelasi dengan dinamika crypto secara lebih cermat.
Di sisi lain, langkah ekspansi Robinhood menunjukkan komitmen untuk memperkuat model bisnis. Perusahaan berusaha membangun sumber pendapatan yang lebih stabil.
Ke depan, pasar akan menilai keberhasilan strategi ini dari pertumbuhan pengguna dan peningkatan margin. Selain itu, pergerakan harga Bitcoin tetap menjadi faktor kunci.
Jika pasar crypto kembali pulih, Robinhood berpotensi menikmati lonjakan volume transaksi. Namun, jika tekanan berlanjut, saham HOOD bisa tetap volatil.
Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan sektor crypto dan laporan keuangan berikutnya sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: Robot Otonom BRIN Uji Pengantaran Barang di Area Terbatas“

















