Pronoted.com – Vitalik Buterin menilai Ethereum masih membutuhkan stablecoin terdesentralisasi yang lebih kuat.
Ia ingin Ethereum benar-benar memberi kemandirian finansial bagi masyarakat global.
Buterin menyampaikan pandangan tersebut melalui unggahan di platform X.
Ia menanggapi pernyataan Gabriel Shapiro dari Delphi Labs.
Shapiro menyebut Ethereum semakin fokus melawan konsentrasi kekuasaan finansial.
Namun, Buterin menilai tujuan itu belum tercapai tanpa stablecoin yang solid.
“Baca Juga: Prediksi Harga Pi Network 2026–2030, Peluang Bangkit PI“
Stablecoin Jadi Kunci Kemandirian Finansial
Buterin melihat stablecoin sebagai fondasi penting ekosistem Ethereum.
Stablecoin membantu pengguna bertransaksi tanpa bergantung pada bank.
Selain itu, stablecoin memudahkan penyimpanan nilai dalam ekosistem kripto.
Karena itu, kualitas stablecoin menentukan arah desentralisasi ke depan.
Namun, Buterin menilai stablecoin saat ini masih menyimpan banyak kelemahan.
Ia lalu menyoroti tiga masalah utama yang perlu segera diselesaikan.
Masalah Pertama: Ketergantungan pada Dolar AS
Masalah terbesar stablecoin terdesentralisasi adalah patokan dolar AS.
Sekitar 95 persen stablecoin saat ini mengikuti nilai USD.
Buterin menganggap patokan ini berisiko dalam jangka panjang.
Nilai stablecoin ikut terpengaruh kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Ia mempertanyakan stabilitas dolar dalam 20 tahun ke depan.
Inflasi ringan saja bisa menggerus daya tahan stablecoin.
Karena itu, Buterin mendorong pengembangan indeks alternatif.
Indeks tersebut harus lebih stabil dan berkelanjutan dari USD.
Masalah Kedua: Sistem Oracle Masih Rentan
Masalah berikutnya berkaitan dengan oracle.
Oracle berfungsi membawa data dunia nyata ke blockchain.
Buterin menilai banyak oracle masih mudah dimanipulasi.
Pihak bermodal besar bisa memengaruhi harga dan data.
Selain itu, oracle yang aman sering memicu biaya tinggi.
Kondisi ini menyulitkan pengguna kecil.
Buterin ingin oracle yang kuat dan terdesentralisasi.
Namun, sistem tersebut juga harus tetap terjangkau.
Masalah Ketiga: Imbal Hasil Staking Tidak Sehat
Masalah ketiga menyangkut imbal hasil staking.
Menurut Buterin, imbal hasil tinggi justru menciptakan persaingan tidak sehat.
Imbal hasil besar mendorong risiko terhadap agunan stablecoin.
Situasi ini juga menghambat penggunaan stablecoin sehari-hari.
Buterin mengusulkan imbal hasil sekitar 0,2 persen.
Ia juga menyarankan model staking baru tanpa risiko pemotongan dana.
Dengan cara ini, stabilitas sistem bisa lebih terjaga.
Pengguna juga tidak perlu mengejar imbal hasil berlebihan.
Keamanan Stablecoin Perlu Pendekatan Ganda
Buterin menekankan pentingnya keamanan stablecoin.
Ia membagi risiko menjadi dua aspek utama.
Aspek pertama mencakup kesalahan pada protokol.
Aspek kedua berkaitan dengan serangan terhadap jaringan.
Ia menegaskan cadangan Ethereum besar belum tentu cukup.
Stablecoin tetap membutuhkan mekanisme penahan gejolak harga.
Karena itu, desain stablecoin harus memikirkan skenario ekstrem.
Fluktuasi besar harus bisa dihadapi tanpa merusak sistem.
Pasar Stablecoin Terus Tumbuh Pesat
Pasar stablecoin mencatat pertumbuhan signifikan pada 2026.
Nilainya mencapai sekitar 311,5 miliar dolar AS.
Angka tersebut naik hampir 50 persen dari awal 2025.
Pertumbuhan ini menunjukkan peran penting stablecoin secara global.
Masyarakat negara berkembang banyak memanfaatkan stablecoin.
Mereka menggunakannya untuk pengiriman uang lintas negara.
Di sisi lain, institusi memakai stablecoin untuk transaksi besar.
Dan Stablecoin juga membantu pengelolaan likuiditas keuangan.
Stablecoin Terdesentralisasi Masih Tertinggal
Stablecoin terpusat masih mendominasi pasar saat ini.
Tether dan USDC menguasai lebih dari 83 persen pasar.
Keduanya juga memimpin volume perdagangan harian.
Dominasi ini sulit disaingi stablecoin terdesentralisasi.
Inovasi stablecoin terdesentralisasi melambat sejak 2022.
Saat itu, TerraClassicUSD kehilangan patokan nilainya.
Kejadian tersebut memicu kerugian sekitar 60 miliar dolar.
Kepercayaan pasar pun ikut terpukul.
Pemain Terdesentralisasi Masih Berjuang
Setelah krisis Terra, hanya sedikit pemain baru yang menonjol.
Ethena USDe muncul sebagai salah satu contoh terbaru.
Sementara itu, Dai tetap digunakan luas di DeFi.
DAI mendukung pinjaman, likuiditas, dan berbagai layanan kripto.
Namun, USDe dan DAI belum mampu menyaingi raksasa pasar.
Kapitalisasi keduanya masih jauh di bawah USDT dan USDC.
Vitalik Buterin Ethereum: Tantangan Besar Menanti Ethereum
Vitalik Buterin melihat peluang besar di balik tantangan stablecoin.
Ethereum bisa memimpin jika mampu memperbaiki desain stablecoin.
Namun, perubahan membutuhkan waktu dan konsistensi.
Indeks baru, oracle kuat, dan staking sehat menjadi kunci.
Jika berhasil, Ethereum bisa memperkuat visinya tentang kedaulatan finansial.
Stablecoin terdesentralisasi pun berpeluang bangkit dan berkembang.
“Baca Juga: Teknologi Norwegia Ubah Air Laut Jadi Air Bersih“
















