Pronoted.com – Harga minyak Brent kembali menunjukkan kekuatan setelah sempat mengalami koreksi cukup dalam. Sebelumnya, harga Brent turun hampir 20 persen karena optimisme terhadap perdamaian di kawasan Selat Hormuz.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Saat ini, harga Brent kembali bergerak di sekitar level 94 dolar AS per barel.
Selain itu, harga masih bertahan di area tren naik yang terbentuk sejak Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat beli masih cukup kuat.
Banyak pelaku pasar kini memperhatikan pergerakan Brent karena sejumlah eksekutif perusahaan energi mengeluarkan peringatan serius terkait pasokan minyak dunia.
“Baca Juga: HYPE, LAB, dan VVV Pimpin Tren Altcoin Juni 2026“
Tiga CEO Energi Ingatkan Risiko Krisis Pasokan
Beberapa pemimpin perusahaan energi besar menilai pasar minyak fisik menghadapi tekanan yang semakin besar.
Mereka melihat persediaan minyak global terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Jika kondisi ini berlanjut, harga minyak berpotensi naik tajam.
Neil Chapman dari ExxonMobil bahkan memperkirakan harga Brent bisa mencapai 150 hingga 160 dolar AS per barel.
Menurutnya, dunia hanya memiliki waktu beberapa minggu sebelum inventori minyak mencapai level yang sangat rendah.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan menunjukkan cadangan minyak global terus menyusut.
Stok Minyak Dunia Terus Menurun
Data International Energy Agency menunjukkan penurunan persediaan minyak dalam jumlah besar.
Lembaga tersebut mencatat penurunan sekitar 246 juta barel hanya dalam dua bulan.
Angka tersebut menggambarkan tingginya kebutuhan energi global. Sementara itu, pasokan belum mampu mengikuti permintaan secara optimal.
Karena itu, banyak analis memperkirakan tekanan kenaikan harga masih berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Selain faktor fundamental, pergerakan teknikal juga mendukung peluang kenaikan harga.
Pasar Mulai Menunjukkan Sinyal Positif
Harga Brent saat ini berada di dekat beberapa level penting.
Jika harga mampu melewati area 96 hingga 101 dolar AS, peluang kenaikan akan semakin besar.
Sebelumnya, Brent beberapa kali mencatat lonjakan kuat setelah berhasil menembus area penting tersebut.
Sebaliknya, kegagalan menembus level tersebut bisa memicu tekanan jual jangka pendek.
Karena itu, pelaku pasar terus memantau perkembangan harga dalam beberapa pekan ke depan.
Investor Mulai Beralih ke Posisi Bullish
Sentimen pasar juga menunjukkan perubahan yang cukup jelas.
Banyak trader mulai meninggalkan posisi yang mengandalkan penurunan harga.
Sebaliknya, mereka mulai membangun posisi yang mengantisipasi kenaikan harga minyak.
Perubahan tersebut terlihat dari aktivitas pasar opsi yang menunjukkan peningkatan optimisme.
Kondisi ini sejalan dengan pandangan para pelaku industri energi.
Chevron Sebut Kekurangan Minyak Sudah Terjadi
CEO Chevron, Mike Wirth, menilai kekurangan minyak fisik sudah mulai terasa.
Ia menjelaskan bahwa persediaan bahan bakar di Amerika Serikat berada pada level yang sangat rendah.
Selain itu, beberapa negara di Asia juga mulai menghadapi keterbatasan pasokan.
Wirth menilai pasar terlalu fokus pada isu geopolitik. Sementara itu, banyak pihak mengabaikan fakta bahwa pasokan fisik terus berkurang.
Karena itu, ia memperkirakan harga minyak akan segera menyesuaikan kondisi pasar yang sebenarnya.
Analisis Teknikal Buka Peluang Kenaikan Besar
Selain faktor pasokan, indikator teknikal juga menunjukkan peluang kenaikan.
Beberapa analis melihat munculnya pola yang sering mendahului kenaikan harga besar.
Jika pola tersebut kembali bekerja, Brent berpotensi menuju level 119 dolar AS per barel.
Setelah itu, target berikutnya berada di kisaran 137 dolar AS.
Bahkan, beberapa proyeksi jangka menengah membuka peluang harga bergerak menuju area 150 dolar AS.
Target tersebut sejalan dengan prediksi yang disampaikan ExxonMobil sebelumnya.
Selat Hormuz Masih Menjadi Faktor Penting
Pasokan global juga masih dipengaruhi kondisi Selat Hormuz.
Sultan Al Jaber dari ADNOC menilai aliran minyak penuh kemungkinan baru pulih pada 2027.
Artinya, kesepakatan politik belum tentu langsung meningkatkan pasokan dalam waktu singkat.
Karena itu, pasar tetap menghadapi risiko ketatnya pasokan dalam beberapa tahun ke depan.
Harga Brent Hadapi Momen Penentuan
Harga Brent kini berada di titik yang sangat penting.
Di satu sisi, penurunan persediaan minyak mendukung kenaikan harga.
Di sisi lain, investor menunggu konfirmasi lanjutan dari pasar.
Jika Brent berhasil menembus level 101 dolar AS, peluang menuju 119 hingga 150 dolar AS akan semakin terbuka.
Namun, jika harga gagal mempertahankan momentum, Brent bisa kembali menguji area dukungan yang lebih rendah.
Karena itu, perkembangan pasokan global dan pergerakan pasar akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak selanjutnya.
“Baca Juga: SAW: Genesis Resmi Diumumkan di Summer Game Fest 2026“
















