Pronoted.com – ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus dana masuk bersih US$2,39 miliar.
Data tersebut mencakup periode 21 hingga 25 September 2026.
Angka tersebut menjadi arus masuk mingguan terbesar sepanjang 2026.
Selain itu, aliran dana tersebut membuat arus bersih ETF Bitcoin 2026 kembali positif.
Namun, analis masih memperdebatkan penyebab utama lonjakan tersebut.
Sebagian analis melihat peningkatan minat beli, sedangkan lainnya menyoroti pasokan Bitcoin yang semakin terbatas.
“Baca Juga: Emas vs Tembaga: Strategi Lindung Nilai Investasi“
Arus Dana ETF Bitcoin Capai Rekor
Data SoSoValue dan Farside Investors menunjukkan aliran dana terbesar terjadi pada Senin, 21 September 2026.
Investor memasukkan sekitar US$999 juta ke ETF Bitcoin spot pada hari tersebut.
Pada hari yang sama, harga Bitcoin melonjak sekitar 6,7 persen.
Kenaikan tersebut juga memicu likuidasi posisi short senilai sekitar US$262 juta.
Setelah itu, arus dana masuk mulai menurun setiap hari.
ETF Bitcoin mencatat inflow US$714,7 juta pada Selasa.
Kemudian, aliran dana mencapai US$347 juta pada Rabu.
Pada Kamis, ETF Bitcoin hanya mencatat inflow sekitar US$190,6 juta.
Selanjutnya, arus dana turun menjadi US$134,5 juta pada Jumat.
Meski melambat, total mingguan tetap mencetak rekor baru sepanjang 2026.
Menurut data tersebut, arus bersih ETF Bitcoin 2026 kini mencapai sekitar US$934 juta.
Total aset kelolaan ETF Bitcoin spot juga mencapai sekitar US$108,42 miliar.
BlackRock Pimpin Arus Dana Masuk
Dari sisi penerbit, BlackRock mencatat aliran dana terbesar melalui IBIT.
Produk tersebut menerima sekitar US$1,2 miliar selama periode tersebut.
Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund mengikuti dengan arus masuk US$701,7 juta.
Kemudian, ARK 21Shares Bitcoin ETF mencatat sekitar US$294,7 juta.
Morgan Stanley juga mencatat aliran dana sekitar US$203,3 juta.
Arus tersebut menunjukkan investor institusi masih memberikan perhatian besar kepada produk investasi Bitcoin.
Analis ETF Bloomberg Eric Balchunas turut menyoroti faktor pasar obligasi.
Menurutnya, rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang AS dapat memengaruhi aliran dana.
Data Blockchain Tunjukkan Minat Beli
Sejumlah data blockchain juga menunjukkan peningkatan aktivitas akumulasi Bitcoin.
CryptoQuant mencatat penarikan Bitcoin senilai sekitar US$2,52 miliar dari bursa.
Investor melakukan penarikan tersebut selama 22 hingga 24 September 2026.
Biasanya, investor memindahkan aset dari bursa untuk penyimpanan dalam waktu lebih panjang.
Santiment juga menemukan aktivitas akumulasi dari kelompok pemilik Bitcoin tertentu.
Dompet dengan saldo 100 hingga 1.000 BTC mengumpulkan sekitar 113.950 BTC sejak 15 Juli 2026.
Selain Bitcoin, investor juga meningkatkan aliran dana ke aset kripto lainnya.
ETF Ethereum spot mencatat inflow sekitar US$689,9 juta dalam pekan yang sama.
Sementara itu, ETF Solana mencatat rekor inflow harian sebesar US$86,7 juta.
Investor mencatat angka tersebut pada Jumat, 25 September 2026.
Pasokan Bitcoin yang Terbatas Jadi Perhatian
Namun, sebagian analis melihat kondisi tersebut dari sudut pandang berbeda.
Mereka menilai kenaikan harga Bitcoin lebih banyak mendapat dukungan dari pasokan yang terbatas.
Analisis yang dikutip BeInCrypto menyebut sekitar 81 persen pasokan Bitcoin tidak bergerak.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 16,3 juta BTC yang tidak berpindah selama enam bulan.
Volume perdagangan Bitcoin juga turun sekitar 30 persen secara tahunan.
Sementara itu, ETF Bitcoin hanya membeli sekitar 18.000 BTC sepanjang September.
Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata pembelian bulanan.
Selain itu, arus dana harian turun sekitar 87 persen dari Senin hingga Jumat.
Kondisi tersebut menunjukkan momentum aliran dana mulai kehilangan kekuatan.
Karena itu, investor masih perlu melihat perkembangan permintaan secara lebih luas.
Data Ekonomi AS Bisa Pengaruhi Bitcoin
Kondisi ekonomi Amerika Serikat juga memberikan tantangan bagi Bitcoin.
Survei S&P Global pada 23 September menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS semakin kuat.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi tercepat sejak Juli 2021.
Kondisi tersebut kemudian mendorong imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melewati 5 persen.
Bitcoin kini bergerak di sekitar US$84.000.
Harga tersebut masih jauh dari rekor US$126.296 pada Oktober 2025.
Selanjutnya, pasar menunggu data inflasi PCE Amerika Serikat untuk Agustus.
Pemerintah AS akan merilis data tersebut pada 30 September 2026.
Data inflasi tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Karena itu, investor akan mencermati dampaknya terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Investor Perlu Mencermati Dua Sisi Pasar
Rekor inflow ETF Bitcoin menunjukkan peningkatan aktivitas investasi pada produk tersebut.
Namun, data tersebut belum sepenuhnya membuktikan penguatan permintaan Bitcoin secara berkelanjutan.
Data blockchain menunjukkan sebagian investor melakukan akumulasi dalam jumlah besar.
Sebaliknya, penurunan volume perdagangan dan arus ETF harian menunjukkan momentum yang mulai melambat.
Karena itu, investor perlu mencermati arus ETF dan pergerakan pasokan Bitcoin.
Selain itu, kondisi ekonomi AS dan kebijakan Federal Reserve juga tetap penting.
Pergerakan Bitcoin juga membawa risiko volatilitas yang tinggi.
Karena itu, investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: 5 Tips Sehat Saat Naik Kendaraan Umum Setiap Hari“
















