pronoted.com – Pasar kripto memasuki kuartal ketiga 2026 dengan tekanan yang masih kuat. Harga Bitcoin bertahan di bawah level US$60.000 dan belum menunjukkan pemulihan yang konsisten.
Selain itu, indeks Fear and Greed berada di angka 13 atau kategori Extreme Fear. Kondisi tersebut menunjukkan mayoritas investor masih memilih berhati-hati.
Tekanan juga datang dari arus keluar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang berlangsung selama enam pekan berturut-turut.
Situasi ini membuat banyak investor bertanya mengapa pasar belum mampu bangkit. Setidaknya ada tiga faktor utama yang masih membebani pergerakan aset kripto.
“Baca Juga: Pi2Day 2026: Tiga Produk Baru Pi Network, PI Coin Turun“
Arus Keluar ETF Bitcoin Masih Berlanjut
Tekanan terbesar datang dari investor institusi melalui ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Selama Juni 2026, total dana yang keluar mencapai sekitar US$4,06 miliar. Angka tersebut menjadi arus keluar bulanan terbesar sejak ETF Bitcoin resmi diperdagangkan pada Januari 2024.
ETF BlackRock IBIT menjadi penyumbang terbesar. Produk tersebut mencatat sekitar 73 hingga 75 persen dari total dana yang keluar selama Juni.
Dalam periode 22 hingga 26 Juni saja, IBIT mengalami penarikan dana lebih dari US$1,3 miliar.
Kondisi ini menunjukkan investor institusi sedang menyesuaikan portofolio mereka. Mereka mengurangi kepemilikan aset kripto dan mengalihkan dana ke instrumen lain.
Salah satu penyebabnya ialah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Obligasi menawarkan keuntungan yang lebih stabil. Sebaliknya, Bitcoin tidak memberikan imbal hasil tetap sehingga menjadi kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Akibatnya, tekanan jual dari investor besar terus membayangi pasar kripto.
Sentimen Pasar Masih Sangat Negatif
Faktor kedua berasal dari psikologi pasar yang belum membaik.
Indeks Fear and Greed berada di angka 13. Nilai tersebut menunjukkan mayoritas pelaku pasar masih merasa khawatir terhadap kondisi kripto.
Harga Bitcoin juga mengalami koreksi sekitar 32 persen sejak awal 2026.
Jika dibandingkan dengan puncak harga pada Oktober 2025, penurunannya bahkan melampaui 50 persen.
Penurunan tersebut berlangsung secara bertahap selama dua kuartal terakhir.
Kondisi makroekonomi ikut memperburuk situasi.
Investor memperkirakan bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi hingga akhir tahun.
Suku bunga tinggi membuat banyak investor memilih aset yang memiliki risiko lebih rendah.
Akibatnya, dana yang masuk ke pasar kripto semakin terbatas.
Di sisi lain, data on-chain juga menunjukkan permintaan baru terhadap Bitcoin terus melemah.
Jumlah investor baru belum cukup besar untuk menyerap tekanan jual dari pemegang lama.
Tanpa tambahan pembeli, harga aset digital sulit membentuk tren naik yang kuat.
Ketidakpastian Regulasi Masih Menghambat Pasar
Faktor berikutnya berasal dari regulasi di Amerika Serikat.
Rancangan aturan CLARITY Act memang telah melewati tahap penting di Komite Perbankan Senat.
Namun, proses menuju pengesahan penuh masih cukup panjang.
Rancangan tersebut masih membutuhkan dukungan minimal 60 senator sebelum berubah menjadi undang-undang.
Setelah itu, pemerintah juga harus menyelaraskan isi aturan dengan versi yang telah disetujui DPR Amerika Serikat.
Tahapan tersebut membuat banyak investor institusi memilih menunggu.
Mereka belum ingin menambah investasi besar sebelum regulasi benar-benar jelas.
Beberapa analis juga menilai CLARITY Act sebaiknya lolos sebelum akhir Juli 2026.
Jika prosesnya melewati masa reses Agustus, peluang pengesahannya diperkirakan semakin kecil.
Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Awal kuartal ketiga 2026 masih memperlihatkan tekanan besar bagi pasar kripto.
Arus keluar ETF Bitcoin belum berhenti. Sentimen investor juga masih berada di level terendah.
Selain itu, ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat membuat investor institusi belum kembali masuk ke pasar.
Meski demikian, kondisi ini belum tentu berlangsung selamanya.
Perubahan kebijakan moneter, berhentinya arus keluar ETF, atau kejelasan regulasi dapat menjadi pemicu pemulihan pasar.
Karena itu, investor perlu memantau perkembangan tersebut sebelum mengambil keputusan.
Strategi yang disiplin dan pengelolaan risiko tetap menjadi langkah penting selama volatilitas pasar masih tinggi.
“Baca Juga: NASA Uji X-59, Jet Supersonik dengan Suara Lebih Senyap“
















