Pronoted.com – Harga saham Apple (AAPL) menguat pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Saham perusahaan teknologi tersebut ditutup pada US$340,42 per lembar.
Berdasarkan data StockAnalysis.com, harga tersebut naik US$3,75 atau 1,11% dari penutupan sebelumnya sebesar US$336,67. Bursa saham Amerika Serikat telah menyelesaikan sesi perdagangan Kamis dan akan kembali beroperasi pada Jumat, waktu New York.
Sementara itu, harga saham Apple pada sesi perdagangan setelah penutupan atau after-hours mencapai US$340,60. Angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,05%.
“Baca Juga: Harga QQQ Hari Ini Turun 1,34% ke US$747,58“
1. Pergerakan Harga Saham Apple pada 8 Oktober 2026
Saham AAPL memulai perdagangan pada harga US$336,82. Sepanjang sesi, harga saham Apple bergerak antara US$335,90 dan US$341,57.
Volume perdagangan reguler mencapai sekitar 35,3 juta saham. Pergerakan positif tersebut membawa harga penutupan Apple semakin dekat dengan rekor tertinggi dalam 52 minggu.
Berikut ringkasan pergerakan saham Apple berdasarkan data yang tersedia:
| Data perdagangan | Nilai |
|---|---|
| Harga penutupan | US$340,42 |
| Perubahan harian | +1,11% |
| Penutupan sebelumnya | US$336,67 |
| Harga pembukaan | US$336,82 |
| Kisaran harga harian | US$335,90–US$341,57 |
| Harga after-hours | US$340,60 |
| Kapitalisasi pasar | Sekitar US$4,97 triliun |
| Volume perdagangan reguler | Sekitar 35,3 juta saham |
Data tersebut menunjukkan bahwa harga saham Apple hanya berjarak sekitar 1,4% dari batas tertinggi 52 minggu sebesar US$345,34. Dalam periode yang sama, harga terendah saham AAPL mencapai US$243,42.
2. Kapitalisasi Pasar Apple Mendekati US$5 Triliun
Kenaikan harga saham turut menjaga kapitalisasi pasar Apple di sekitar US$4,97 triliun. CompaniesMarketCap.com mencatat nilai perusahaan tersebut sekitar US$4,968 triliun.
Angka itu menempatkan Apple pada peringkat kedua perusahaan paling bernilai di dunia menurut data yang dirujuk artikel tersebut. Dengan demikian, penguatan harga saham membawa valuasi Apple semakin dekat ke angka US$5 triliun.
Selain kapitalisasi pasar, investor juga memperhatikan rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings (P/E). Data yang tersedia mencatat rasio P/E Apple sekitar 39,05 kali.
Rasio tersebut membantu investor menilai harga saham dibandingkan laba perusahaan. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan pertumbuhan pendapatan, keuntungan, dan risiko bisnis Apple.
3. Dan Ives Memasang Target Harga US$400
Analis teknologi Daniel Ives memulai cakupan saham Apple dengan rekomendasi Buy atau beli. Ia menetapkan target harga US$400 per saham.
Dalam ulasan TipRanks pada 8 Oktober 2026, Ives menyoroti potensi kecerdasan buatan atau AI sebagai pendorong pertumbuhan Apple. Menurut analisisnya, strategi AI Apple berpotensi menambah nilai sekitar US$75 per saham.
Ives juga memperkirakan AI dapat menyumbang lebih dari 15% pendapatan segmen Services. Segmen ini mencakup berbagai layanan digital dalam ekosistem Apple.
Selain itu, Apple memiliki basis lebih dari 2,5 miliar perangkat aktif. Sekitar 1,5 miliar perangkat tersebut merupakan iPhone.
Ives juga menyoroti sekitar 375 juta iPhone yang berusia lebih dari empat tahun. Pengguna perangkat lama tersebut berpotensi mendorong siklus pembelian iPhone baru.
Untuk perangkat lipat yang disebut iPhone Duo, Ives memperkirakan penjualan awal sekitar 10 juta unit. Dalam skenario optimistis, penjualan perangkat tersebut dapat mencapai 15 juta unit.
4. Citi Mempertahankan Rekomendasi Buy
Analis Citi, Atif Malik, mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham Apple. Ia menetapkan target harga US$365 menjelang laporan kinerja perusahaan yang diperkirakan terbit pada awal November.
Menurut laporan Invezz, Citi menaruh perhatian pada pertumbuhan pendapatan Services. Namun, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu investor cermati.
Pendapatan App Store yang melemah menjadi salah satu perhatian analis. Selain itu, perkembangan AI agentik dan kenaikan biaya memori dapat menekan margin keuntungan Apple.
Data StockAnalysis.com juga mencatat konsensus Buy dari 44 analis. Mereka menetapkan target harga rata-rata US$328,09 dan nilai tengah US$340.
Harga penutupan terakhir Apple telah melampaui target rata-rata tersebut. Namun, harga itu masih perlu investor bandingkan dengan proyeksi pertumbuhan dan risiko bisnis perusahaan.
5. Apple Menyiapkan Acara “Welcome Home” pada 13 Oktober
Apple mengumumkan acara bertajuk “Welcome Home” di New York City pada 13 Oktober 2026. Pengumuman ini memicu perhatian terhadap kemungkinan peluncuran produk rumah pintar terbaru.
Menurut laporan yang dirangkum TipRanks dan Invezz, Apple berpotensi memperkenalkan perangkat penghubung rumah pintar dengan layar. Perusahaan juga diperkirakan menyiapkan HomePod mini generasi baru dan Apple TV versi terbaru.
Selain itu, sejumlah perangkat rumah pintar bermerek LG turut muncul dalam laporan tersebut. Perangkat itu mencakup bel pintu video, kamera, kunci pintar, dan termostat.
Namun, konsumen masih perlu menunggu pengumuman resmi untuk memastikan produk yang akan hadir. Langkah ini menunjukkan upaya Apple memperkuat ekosistem rumah pintar dan bersaing dengan Amazon serta Google.
6. Apple Mengubah Struktur Tim Akuisisi
Apple juga menunjuk Steve Smith sebagai kepala merger dan akuisisi atau M&A yang baru. Smith sebelumnya bekerja sebagai orang dekat Adrian Perica.
Dalam struktur baru, Smith akan melapor kepada CFO Kevan Parekh. Perubahan ini mengembalikan fungsi M&A ke bawah divisi keuangan untuk pertama kalinya sejak 2019.
Sementara itu, Perica tetap bekerja di Apple. Ia akan mengawasi iCloud, Fitness+, dan pengembangan bisnis baru di bawah pimpinan Services, Eddy Cue.
Perubahan tersebut menarik perhatian investor karena Apple sedang memasuki fase kepemimpinan baru. John Ternus menggantikan Tim Cook sebagai CEO pada 1 September 2026, menurut informasi dalam artikel sumber.
Kesimpulan: Investor Perlu Memantau Kinerja Apple
Harga saham Apple menguat 1,11% dan mendekati rekor tertinggi dalam 52 minggu. Analis juga menyoroti potensi pertumbuhan dari AI, layanan digital, dan perangkat baru.
Meski demikian, investor perlu mencermati laporan keuangan mendatang, biaya memori, serta perkembangan persaingan teknologi. Target harga analis juga merupakan proyeksi, bukan jaminan keuntungan.
Karena itu, investor sebaiknya melakukan riset mandiri dan menyesuaikan keputusan dengan toleransi risiko masing-masing.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor.
“Baca Juga: Prediksi XI Barcelona vs Getafe: Jesus Starter?“
















