Pronoted.com – Harga saham Microsoft (MSFT) melemah pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Saham perusahaan teknologi tersebut mengakhiri sesi di level US$522,61, turun 1,35% dari penutupan sebelumnya.
Bursa Amerika Serikat telah mengakhiri sesi perdagangan Kamis. Karena itu, investor di Indonesia dapat menggunakan harga penutupan tersebut sebagai acuan terbaru pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026.
Menurut data StockAnalysis.com, Microsoft membuka perdagangan di US$529,81. Saham ini sempat menyentuh US$533,51 sebelum tekanan jual membawanya turun ke US$518,79.
“Baca Juga: Saham Apple Naik 1,11% ke US$340,42, Mendekati Rekor“
Rincian Harga Saham Microsoft pada 8 Oktober 2026
Berikut rangkuman pergerakan saham MSFT selama sesi perdagangan Kamis waktu New York.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Harga penutupan | US$522,61 |
| Perubahan harian | -US$7,15 (-1,35%) |
| Penutupan sebelumnya | US$529,76 |
| Harga pembukaan | US$529,81 |
| Harga tertinggi | US$533,51 |
| Harga terendah | US$518,79 |
| Harga after-hours | US$522,33 |
| Kapitalisasi pasar | Sekitar US$3,88 triliun |
| Volume perdagangan reguler | Sekitar 20,23 juta saham |
Pada perdagangan setelah jam bursa, saham MSFT bergerak tipis ke US$522,33. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 0,05% dari harga penutupan reguler.
Sementara itu, Microsoft memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$3,88 triliun. Data CompaniesMarketCap.com menempatkan perusahaan ini di posisi keempat dalam daftar perusahaan paling bernilai di dunia.
Dalam 52 minggu terakhir, saham MSFT bergerak antara US$349,20 dan US$553,72. Harga terakhir berada sekitar 5,6% di bawah puncak periode tersebut. Adapun rasio harga terhadap laba atau P/E berada di kisaran 29,11 kali.
Analis Pertahankan Rekomendasi Beli Saham MSFT
Pelemahan harga belum mengubah pandangan positif sejumlah analis terhadap Microsoft. Pada 8 Oktober 2026, Rishi Jaluria dari RBC Capital mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga US$640.
Target tersebut membuka potensi kenaikan sekitar 22,46% dari harga penutupan terakhir. Pada hari yang sama, Adam Wood dari Morgan Stanley juga mempertahankan rekomendasi Buy dengan target US$600.
Sehari sebelumnya, Daniel Ives dari Yorkville Ives & Co memulai cakupan saham Microsoft. Ia memberikan rekomendasi Buy dengan target harga US$615. Kirk Materne dari Evercore ISI juga mempertahankan rekomendasi serupa.
StockAnalysis.com mencatat target harga rata-rata konsensus analis sebesar US$587,63. Angka tersebut menunjukkan potensi kenaikan sekitar 12,44% dari harga terakhir.
Dari 56 analis dalam data tersebut, 41 memberikan rekomendasi Strong Buy, 14 memilih Buy, dan satu memberikan Hold. Namun, target harga analis tetap berupa proyeksi, bukan jaminan keuntungan bagi investor.
Laporan Keuangan Microsoft Jadi Perhatian Pasar
Investor kini menantikan laporan kinerja Microsoft untuk kuartal pertama tahun fiskal 2027. Berdasarkan pengumuman resmi perusahaan melalui PR Newswire pada 7 Oktober 2026, Microsoft menjadwalkan laporan tersebut pada Rabu, 28 Oktober 2026 setelah penutupan pasar.
Laporan ini dapat membantu investor menilai perkembangan bisnis Microsoft. Kinerja pendapatan, laba, dan bisnis kecerdasan buatan berpotensi memengaruhi arah saham berikutnya.
Karena itu, investor perlu mencermati hasil keuangan serta panduan bisnis perusahaan. Pasalnya, harga saham tidak hanya bergerak mengikuti rekomendasi analis, tetapi juga merespons ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan.
Isu Visa H-1B Menambah Tekanan terhadap Microsoft
Pada 8 Oktober 2026, TipRanks melaporkan kabar mengenai pencabutan akses Microsoft ke program visa H-1B oleh pemerintahan Donald Trump. Laporan tersebut menyebut kebijakan itu mungkin bersifat sementara.
Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menuding Microsoft mengganti karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja dengan pekerja asing. Ia menyebut rasio sekitar 1,5 pekerja asing untuk setiap karyawan yang terkena PHK.
Microsoft memberikan tanggapan melalui laporan TheFly yang dikutip TipRanks. Perusahaan menyatakan sekitar 80% dari kurang lebih 6.000 petisi H-1B pada tahun fiskal sebelumnya berkaitan dengan perpanjangan atau perubahan status karyawan yang sudah bekerja.
Microsoft juga menyatakan akan memberikan informasi tambahan kepada pemerintah. Meski demikian, investor perlu membedakan perkembangan kebijakan tersebut dari faktor lain yang memengaruhi pergerakan saham.
Microsoft Perluas Produk AI dan Ekosistem Windows
Selain menghadapi tekanan pasar, Microsoft terus mengembangkan produk untuk mendukung penggunaan kecerdasan buatan. TechCrunch melaporkan pada 7 Oktober 2026 bahwa perusahaan meluncurkan Surface Laptop Ultra mulai US$2.600.
Microsoft juga memperkenalkan Surface RTX Spark Dev Box dengan harga mulai US$6.000. Kedua produk tersebut menggunakan chip Nvidia RTX Spark untuk menjalankan model AI secara lokal.
Di sisi perangkat lunak, Microsoft mengembangkan fitur Execution Containers untuk Windows 11. Fitur ini bertujuan mengisolasi agen AI agar sistem dapat membatasi ruang gerak proses tersebut.
Sementara itu, Microsoft membentuk divisi baru Xbox bernama XP. Menurut TipRanks, divisi ini berfokus pada film, televisi, produk konsumen, dan kemitraan. Kayleen Walters memimpin divisi tersebut.
Level Harga MSFT yang Perlu Dipantau Investor
Rentang US$518,79 hingga US$533,51 menjadi acuan awal untuk mengamati pergerakan saham Microsoft setelah sesi Kamis. Level terendah harian dapat menjadi perhatian ketika tekanan jual berlanjut. Sebaliknya, investor dapat mengamati kemampuan saham untuk kembali melewati area pembukaan sebelumnya.
Namun, rentang tersebut bukan jaminan bahwa harga akan bertahan di dalamnya. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan kebijakan, dan laporan keuangan mendatang.
Bagi investor Indonesia, Pintu juga menyediakan akses ke sejumlah produk tokenized stocks, termasuk aset yang mengikuti saham perusahaan global. Sebelum bertransaksi, pelajari struktur produk, biaya, risiko, serta ketentuan yang berlaku.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa mendatang. Setiap investor perlu melakukan riset mandiri dan menyesuaikan keputusan dengan toleransi risiko masing-masing.
“Baca Juga: Prediksi XI Barcelona vs Getafe: Jesus Starter?“
















