Pronoted.com – Pasar kripto menunjukkan tanda kehati-hatian setelah pelaku pasar mengurangi suplai stablecoin dan aktivitas pembelian aset. Rekap mingguan Lookonchain yang dikutip BeInCrypto mencatat arus keluar stablecoin sekitar US$856 juta hingga pekan yang berakhir pada 11 Oktober 2026.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,3% dari total stablecoin yang beredar. Selain itu, volume perdagangan spot di bursa terdesentralisasi atau DEX mengalami penurunan tajam.
Sebaliknya, aktivitas perdagangan kontrak derivatif justru meningkat. Perubahan ini mengindikasikan bahwa sebagian trader lebih memilih mengelola risiko daripada membeli aset kripto secara langsung.
Kombinasi tersebut juga dapat mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan harga. Meski begitu, indikator ini belum cukup untuk memastikan arah pergerakan pasar selanjutnya.
“Baca Juga: Harga Minyak Dunia Hari Ini, Brent dan WTI Turun“
1. Arus Keluar Stablecoin Terbesar Terjadi di Ethereum dan Solana
Data mingguan menunjukkan bahwa penurunan suplai stablecoin terkonsentrasi di beberapa jaringan blockchain. Ethereum dan Solana mencatat pengurangan suplai yang besar selama periode tersebut.
Di jaringan Ethereum, suplai USDT berkurang sekitar US$726 juta. Sementara itu, Solana kehilangan sekitar US$619 juta USDC.
Namun, jaringan Tron justru mencatat tambahan stablecoin sekitar US$526 juta. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pergerakan dana tidak berlangsung seragam di setiap jaringan.
Menurut data DefiLlama yang dikutip dalam laporan tersebut, suplai USDT mencapai sekitar US$184,1 miliar. Sementara itu, suplai USDC berada di kisaran US$73 miliar.
Tren penurunan suplai stablecoin juga pernah muncul pada periode sebelumnya. Crypto Briefing mencatat pengurangan suplai sekitar US$414,38 juta selama pekan 7–13 September 2026.
Stablecoin sering berfungsi sebagai dana yang siap digunakan untuk membeli aset kripto. Karena itu, penurunan suplai dapat mengurangi likuiditas yang tersedia untuk transaksi pembelian.
Namun, arus keluar stablecoin tidak selalu berarti investor menjual aset kripto. Pelaku pasar juga dapat memindahkan dana antarjaringan atau menggunakannya untuk kebutuhan lain.
2. Volume Perdagangan Spot Turun, Kontrak Derivatif Meningkat
Perubahan aktivitas perdagangan turut memperlihatkan sikap hati-hati para pelaku pasar. Volume perdagangan spot di DEX turun 19,34% secara mingguan menjadi US$47,84 miliar.
Uniswap mencatat penurunan volume yang lebih besar, yakni sekitar 25,8%. Angka tersebut menunjukkan pelemahan aktivitas pembelian dan penjualan langsung pada platform tersebut.
Sebaliknya, volume perdagangan kontrak perpetual meningkat 8,2% menjadi US$149,39 miliar. Kontrak perpetual memungkinkan trader mengambil posisi berdasarkan perkiraan pergerakan harga tanpa membeli aset secara langsung.
Sebagian trader menggunakan instrumen tersebut untuk melindungi portofolio dari risiko penurunan harga. Trader lain memanfaatkannya untuk mengambil posisi jangka pendek, termasuk memperkirakan harga akan turun.
Meski demikian, kenaikan volume derivatif tidak otomatis membuktikan bahwa mayoritas trader mengambil posisi jual. Data tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas, tetapi tidak menjelaskan seluruh arah posisi pasar.
Di sisi lain, pendapatan biaya aplikasi kripto meningkat 4,44% dibandingkan pekan sebelumnya. Tether memimpin perolehan biaya dengan nilai sekitar US$122,06 juta.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas aplikasi kripto masih berlangsung. Namun, peningkatan aktivitas tersebut belum tentu mencerminkan kenaikan minat membeli aset di pasar spot.
3. Perusahaan Publik Mengurangi Kepemilikan Bitcoin
Aktivitas perusahaan publik juga menunjukkan perubahan dalam pengelolaan aset kripto. Secara keseluruhan, perusahaan tercatat mengurangi kepemilikan Bitcoin sebanyak 89 BTC.
Nilai pengurangan tersebut mencapai sekitar US$7,37 juta. CleanSpark menjual 173 BTC, sedangkan Silvia, Inc. melepas 165 BTC.
Sebaliknya, Strategy membeli tambahan 250 BTC selama periode yang sama. Perbedaan tindakan ini menunjukkan bahwa strategi perusahaan terhadap Bitcoin tidak selalu sejalan.
Pada pekan 7–13 September 2026, perusahaan publik justru menambah kepemilikan sebanyak 1.615 BTC. Perubahan dari pembelian bersih menjadi pengurangan kepemilikan layak mendapat perhatian pelaku pasar.
Sementara itu, perusahaan BitMine tetap mengakumulasi Ethereum. Perusahaan tersebut membeli 12.532 ETH dengan nilai sekitar US$31,75 juta.
Dengan demikian, data perusahaan memperlihatkan pola yang beragam. Sebagian perusahaan mengurangi Bitcoin, sementara pihak lain tetap menambah kepemilikan aset kripto tertentu.
4. Harga Bitcoin Bertahan di Bawah US$85.000
Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$82.859 ketika BeInCrypto menerbitkan laporan pada 12 Oktober 2026. Harga tersebut mencerminkan penurunan sekitar 5% selama sepekan.
Selain itu, Bitcoin bertahan di bawah level US$85.000 selama beberapa hari. Laporan tersebut juga menggambarkan volume perdagangan yang relatif tipis.
Kondisi ini memperkuat gambaran pasar yang sedang berhati-hati. Namun, investor tetap perlu mengamati perkembangan likuiditas dan aktivitas perdagangan sebelum menyimpulkan tren berikutnya.
Jika suplai stablecoin terus menurun dan volume spot belum pulih, pasar berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, pertumbuhan likuiditas dan peningkatan pembelian spot dapat membantu memperbaiki sentimen.
Karena itu, pelaku pasar perlu memantau arus stablecoin, volume perdagangan, dan perubahan kepemilikan perusahaan publik. Ketiga indikator tersebut dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi pasar, meskipun tidak menjamin arah harga.
5. Apa yang Perlu Diperhatikan Investor Kripto?
Investor sebaiknya tidak menggunakan satu indikator sebagai dasar tunggal untuk mengambil keputusan. Arus keluar stablecoin, misalnya, dapat menunjukkan perubahan likuiditas, tetapi belum tentu menandakan penurunan harga.
Selain itu, peningkatan transaksi derivatif dapat mencerminkan aktivitas lindung nilai maupun spekulasi. Investor perlu membandingkan data tersebut dengan pergerakan harga dan volume perdagangan spot.
Perubahan kepemilikan perusahaan publik juga layak mendapat perhatian. Namun, setiap perusahaan memiliki kebutuhan likuiditas dan strategi investasi yang berbeda.
Oleh karena itu, investor perlu melakukan riset mandiri sebelum membeli atau menjual aset kripto. Pengelolaan risiko dan penggunaan dana sesuai kemampuan tetap menjadi bagian penting dari keputusan investasi.
Kesimpulan: Pasar kripto menunjukkan sejumlah sinyal kehati-hatian pada pekan yang berakhir 11 Oktober 2026. Arus keluar stablecoin, penurunan volume spot, dan perubahan kepemilikan Bitcoin menjadi indikator penting untuk dipantau. Meski demikian, data tersebut belum memastikan bahwa pasar akan terus melemah.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi dan bukan merupakan saran investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Lakukan riset mandiri dan gunakan dana sesuai kemampuan sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: Prediksi Man City vs PSG: Duel Sengit di Liga Champions“
















