Pronoted.com – Harga Ethereum (ETH) menjadi perhatian investor setelah aset kripto ini menunjukkan pemulihan usai tekanan pasar sebelumnya. Berdasarkan data terakhir dalam naskah sumber pada 16 Oktober 2026, ETH diperdagangkan di sekitar Rp43.959.434 atau US$2.435,02 per koin.
Pada saat itu, Ethereum mencatat kenaikan 3,01% dalam 24 jam. Namun, angka tersebut mengacu pada data 16 Oktober, bukan pembaruan harga langsung untuk 18 Oktober 2026.
Kapitalisasi pasar Ethereum mencapai sekitar Rp5.369 triliun atau US$297,40 miliar. Sementara itu, volume perdagangan global selama 24 jam mencapai Rp282,66 triliun atau US$15,66 miliar.
Data tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan Ethereum di pasar kripto. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan perubahan harga dan sentimen pasar sebelum mengambil keputusan.
“Baca Juga: Harga HYPE Hari Ini Menguat 2,14% ke US$80,85“
1. Ethereum Bangkit Setelah Tekanan Inflasi AS
Pemulihan Ethereum terjadi setelah pasar kripto mengalami tekanan akibat data inflasi Amerika Serikat. Laporan sebelumnya menyebut inflasi konsumen tahunan atau CPI September mencapai 3,7%, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%.
Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,6%. Kenaikan harga produsen atau PPI sebesar 6,3% juga memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko. Akibatnya, pasar kripto mengalami aksi jual yang memicu likuidasi besar-besaran.
Data dalam naskah sumber mencatat total likuidasi kripto sekitar US$948 juta dalam 24 jam. Posisi long menyumbang sebagian besar likuidasi tersebut.
Ethereum mencatat nilai likuidasi terbesar, yakni sekitar US$282 juta. Sebelum pulih, harga ETH sempat turun hingga US$2.324.
Namun, pasar kemudian menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada sesi perdagangan Asia. Sejumlah aset kripto besar, termasuk Solana (SOL) dan XRP, juga mencatat penguatan.
2. Kebijakan The Fed Masih Memengaruhi Pasar
Selain data inflasi, investor juga memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve. Pernyataan pejabat bank sentral Amerika Serikat dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan minat terhadap aset berisiko.
Naskah sumber menyebut Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal kebijakan baru menjelang pertemuan Oktober dan Desember. Sikap tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Di pasar saham Asia, indeks MSCI Asia Pasifik menguat 1,3% dalam laporan sebelumnya. Indeks Kospi Korea Selatan juga mencatat kenaikan hampir 3%.
Penguatan pasar saham dapat mencerminkan membaiknya minat investor terhadap aset berisiko. Namun, pergerakan tersebut tidak selalu menjamin kenaikan harga Ethereum secara berkelanjutan.
3. Analisis Teknikal Ethereum: Support dan Resistance
Analisis teknikal dalam laporan sebelumnya menempatkan harga ETH di sekitar US$2.435. Pada level tersebut, Ethereum kembali bergerak di atas garis tren yang sebelumnya mengalami tekanan.
Area US$2.400 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan investor. Jika harga melemah, level US$2.356 dan US$2.309 juga menjadi area penting berdasarkan indikator rata-rata pergerakan harga.
Sebaliknya, Ethereum menghadapi resistance awal di sekitar US$2.493. Jika tekanan beli meningkat, harga berpotensi menguji area US$2.770.
Meski demikian, indikator teknikal belum menunjukkan momentum kenaikan yang kuat. Indeks RSI berada di level 39, sedangkan indikator MACD masih bergerak di bawah nol.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan harga belum sepenuhnya mengonfirmasi tren kenaikan baru. Oleh karena itu, investor perlu memantau volume perdagangan dan pergerakan harga berikutnya.
Catatan: Level teknikal tersebut berasal dari laporan sebelumnya dan bukan hasil pengukuran langsung pada 18 Oktober 2026.
4. Arus Keluar ETF Ether Membayangi Pemulihan
Selain kondisi ekonomi, aliran dana investor institusi juga memengaruhi pergerakan Ethereum. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah arus dana pada ETF Ether spot di Amerika Serikat.
Data SoSoValue yang dikutip dalam naskah sumber mencatat arus keluar sekitar US$130 juta pada 14 Oktober. Total arus keluar sepanjang pekan tersebut mencapai US$190 juta.
Angka itu mengikuti arus keluar sekitar US$542 juta pada pekan sebelumnya. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor masih mengurangi eksposur terhadap produk investasi Ether.
Iliya Kalchev dari Nexo menilai tekanan pasar sebelumnya mencerminkan pengurangan risiko secara luas. Menurutnya, pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan arus masuk ETF dan pembelian konsisten.
Dengan demikian, kenaikan harga dalam waktu singkat belum cukup untuk memastikan pemulihan jangka panjang. Investor juga perlu memantau perkembangan arus dana institusi.
5. Prospek Ethereum dan Risiko bagi Investor
Ethereum masih menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harganya. Data inflasi, kebijakan The Fed, arus dana ETF, dan minat investor dapat mendorong perubahan harga dalam waktu singkat.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan kenaikan harga harian. Analisis terhadap kondisi pasar dan pengelolaan risiko tetap menjadi bagian penting sebelum bertransaksi.
Perlu diingat, angka harga dan indikator dalam artikel ini mengacu pada data yang tersedia dalam naskah sumber hingga 16 Oktober 2026. Data tersebut tidak dapat dianggap sebagai harga Ethereum terkini pada 18 Oktober 2026 tanpa verifikasi tambahan.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan bukan merupakan saran investasi. Aset kripto memiliki risiko serta volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan investasi dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Baca Juga: Resume Buku Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia“
















