Pronoted.com – Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah mengalami tekanan sepanjang pertengahan Oktober 2026. Menurut Coinpaper, BTC sempat mendekati US$84.800 pada 21 Oktober.
Harga tersebut menunjukkan pemulihan sekitar 6% dari titik terendah Oktober. Pada 15 Oktober, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$79.800.
Benzinga juga melaporkan bahwa BTC kembali menembus US$84.000 pada Rabu, 21 Oktober. Pemulihan ini muncul setelah inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga, dan pelemahan saham teknologi menekan pasar kripto.
Kini, investor memantau arus dana institusional, pergerakan harga, serta keputusan suku bunga Federal Reserve. Sejumlah faktor tersebut dapat memengaruhi arah Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang.
“Baca Juga: Saham Netflix Anjlok, Ini Penyebab dan Prospeknya“
Arus Masuk ETF Bitcoin Dorong Pemulihan Harga
Permintaan institusional menjadi salah satu pendorong utama pemulihan Bitcoin. Mengutip data Farside Investors, Coinpaper melaporkan arus masuk bersih ETF Bitcoin spot Amerika Serikat mencapai US$526,7 juta pada 19 Oktober.
Pada 20 Oktober, ETF tersebut kembali menarik dana bersih sekitar US$23,2 juta. Dengan demikian, total arus masuk selama dua sesi mendekati US$550 juta.
BlackRock melalui iShares Bitcoin Trust juga menarik dana dalam jumlah besar. Produk tersebut mencatat arus masuk US$665,2 juta pada Senin dan US$29,9 juta sehari berikutnya.
Arus dana ini membalik tren penarikan sebelumnya. Sebagai perbandingan, ETF Bitcoin spot AS mengalami arus keluar US$484,9 juta pada 7 Oktober.
Meski demikian, permintaan institusional belum menunjukkan kekuatan yang merata. Arus masuk pada Selasa jauh lebih kecil daripada pencapaian sehari sebelumnya.
Benzinga juga menyoroti penurunan rata-rata volume perdagangan ETF selama 30 hari. Volume tersebut kini kurang dari seperempat level yang tercapai setahun sebelumnya.
Glassnode Soroti Resistance Bitcoin di US$85.000–87.500
Dalam analisis pada 21 Oktober, Glassnode mengidentifikasi area US$85.000 hingga US$87.500 sebagai zona tekanan jual. Area ini mempertemukan harga modal sejumlah investor dan kelompok posisi yang berisiko terkena likuidasi.
Karena itu, Bitcoin perlu menembus zona tersebut untuk memperkuat momentum kenaikannya. Jika BTC berhasil melewati US$85.000 secara berkelanjutan, harga berpeluang menguji US$87.500.
Selanjutnya, pasar dapat memperhatikan level psikologis US$90.000. Namun, skenario tersebut bergantung pada kekuatan permintaan dan kondisi pasar.
Di sisi lain, Glassnode menyoroti area US$80.000 hingga US$81.500 sebagai zona dukungan penting. Kepemilikan perusahaan treasury dan harga modal ETF spot turut mendukung area tersebut.
Data on-chain juga menunjukkan penurunan aktivitas pengambilan keuntungan. Realisasi profit kini mencapai sekitar separuh laju pada pekan ketika harga mencapai puncak September.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian tekanan jual jangka pendek mulai mereda. Namun, Bitcoin tetap menghadapi risiko koreksi jika pembeli gagal mempertahankan momentum.
Menurut Benzinga, penurunan di bawah US$80.000 berpotensi membawa BTC menuju US$77.600. Sementara itu, kegagalan menembus resistance dapat mendorong harga kembali menguji US$82.000.
Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Katalis Berikutnya
Investor kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pada 28 Oktober 2026. Kebijakan bank sentral AS dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Inflasi yang tinggi masih menjadi perhatian pasar. Selain itu, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menambah tekanan terhadap aset berisiko.
Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun mendekati 4,8% menurut laporan sumber. Kondisi tersebut membuat instrumen berbunga semakin menarik bagi sebagian investor.
Sebaliknya, Bitcoin tidak memberikan imbal hasil kontraktual seperti instrumen berbunga. Oleh sebab itu, suku bunga tinggi dapat mengurangi minat investor terhadap aset kripto.
Jika The Fed mempertahankan kebijakan ketat, pasar mungkin menghadapi tekanan tambahan. Namun, perubahan ekspektasi suku bunga juga dapat mengubah arah pergerakan Bitcoin.
Rebalancing MSCI Memunculkan Kekhawatiran Baru
Selain keputusan The Fed, investor juga memperhatikan langkah MSCI terkait klasifikasi perusahaan. MSCI berencana merilis daftar final perusahaan terdampak pada 11 November.
Aturan tersebut menyangkut klasifikasi perusahaan yang menjalankan aktivitas non-operasional tertentu. MSCI menjadwalkan penerapan perubahan pada 30 November.
Menurut Benzinga, Strategy (MSTR) dan Metaplanet termasuk perusahaan dalam daftar uji sebelumnya. Kedua perusahaan tersebut menarik perhatian karena keterkaitannya dengan kepemilikan Bitcoin.
Investor khawatir perubahan indeks dapat memicu penyesuaian portofolio. Jika investor institusional mengurangi kepemilikan saham perusahaan terkait, sentimen terhadap Bitcoin juga berpotensi terpengaruh.
Meski demikian, dampak akhirnya bergantung pada keputusan MSCI dan respons pasar. Karena itu, investor perlu memantau pengumuman resmi serta perkembangan arus dana.
Prospek Bitcoin Masih Bergantung pada Sejumlah Faktor
Pemulihan menuju US$84.800 menunjukkan bahwa pembeli kembali memasuki pasar Bitcoin. Namun, kenaikan harga belum menjamin tren bullish akan berlanjut.
Arus masuk ETF dapat membantu menopang permintaan. Sebaliknya, tekanan inflasi, kebijakan The Fed, dan perubahan indeks berpotensi meningkatkan volatilitas.
Dalam jangka pendek, investor dapat memantau zona dukungan US$80.000–81.500 dan resistance US$85.000–87.500. Pergerakan di sekitar area tersebut dapat membantu menggambarkan kekuatan pasar.
Meski begitu, level harga tidak menjamin arah pergerakan selanjutnya. Investor perlu mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi dan bukan rekomendasi investasi. Harga aset kripto memiliki volatilitas tinggi, sehingga investor perlu melakukan riset mandiri. Sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing.
“Baca Juga: Sejarah Apartheid di Afrika Selatan dan Perjuangan Mengakhirinya“
















