Pronoted.com – ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sebesar US$526,7 juta pada Senin, 19 Oktober 2026. Data Farside Investors menunjukkan angka tersebut sebagai arus masuk harian terbesar sejak 22 September.
Saat itu, ETF Bitcoin spot menghimpun dana sebesar US$714,7 juta. Lonjakan terbaru ini juga membalikkan arus keluar US$82,4 juta pada Jumat sebelumnya.
Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan penting bagi investor. Apakah peningkatan aliran dana institusi menandakan Bitcoin mulai mendekati titik harga terendah atau bottom?
“Baca Juga: Harga ARC Hari Ini Naik 26%, Tembus Rp1.129“
1. IBIT BlackRock Memimpin Arus Masuk ETF Bitcoin
iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock menjadi pendorong utama aliran dana pada Senin. Produk tersebut menarik dana sebesar US$665,2 juta dalam satu hari.
Jumlah itu bahkan melampaui total arus masuk bersih seluruh ETF Bitcoin spot. Sebab, beberapa produk lain justru mencatat penarikan dana.
Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) kehilangan US$83,6 juta. Sementara itu, Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) mengalami arus keluar sebesar US$54,9 juta.
ETF Bitcoin spot lainnya tidak mencatat pergerakan dana pada hari tersebut. Dengan demikian, IBIT memainkan peran penting dalam mendorong pemulihan aliran dana institusi.
Namun, investor tetap perlu melihat tren yang lebih luas. Arus masuk besar dalam satu hari belum cukup untuk memastikan pemulihan pasar berlangsung secara berkelanjutan.
2. Arus Dana Oktober Masih Menunjukkan Tekanan
Sebelum lonjakan terbaru, ETF Bitcoin spot menghadapi tekanan selama beberapa pekan. Produk investasi tersebut mencatat arus keluar sekitar US$229 juta pada pekan sebelumnya.
Pada pekan sebelumnya lagi, arus keluar mencapai US$681 juta. Bahkan, ETF Bitcoin spot kehilangan US$483,9 juta pada 7 Oktober.
Angka tersebut menjadi penarikan harian terbesar sejak Juni, menurut data yang disampaikan dalam laporan sumber. Meskipun aliran dana kembali positif, total arus dana Oktober masih mencatat defisit sekitar US$88 juta.
Sementara itu, ETF Ether spot juga mengalami tekanan. Produk investasi tersebut kehilangan dana sebesar US$103,3 juta pada Senin yang sama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa minat investor belum pulih secara merata. Karena itu, pelaku pasar perlu mengamati aliran dana selama beberapa hari berikutnya.
3. Pemegang Besar Bitcoin Mulai Mengakumulasi BTC
Selain ETF, perilaku pemegang besar Bitcoin juga memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar. Analisis XWIN Finance yang merujuk data CryptoQuant menunjukkan perubahan aktivitas kelompok pemilik BTC dalam jumlah besar.
Kelompok tersebut mencakup dompet yang menyimpan 1.000 hingga 10.000 BTC. Akumulasi bersih selama 60 hari berubah dari minus 62.600 BTC menjadi positif 5.230 BTC.
Perubahan ini mengindikasikan bahwa kelompok tersebut mulai menambah kepemilikan Bitcoin. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan indikator lain sebelum menyimpulkan bahwa pasar telah mencapai titik terendah.
Cadangan USDT di salah satu bursa global juga meningkat. Nilainya naik dari sekitar US$790 juta menjadi US$1,76 miliar.
Sebagian pelaku pasar melihat peningkatan cadangan stablecoin sebagai potensi tambahan daya beli. Meski demikian, dana tersebut tidak selalu langsung mengalir ke pasar Bitcoin.
4. Permintaan Spot Belum Menunjukkan Pemulihan Kuat
Sejumlah indikator masih menunjukkan bahwa permintaan Bitcoin belum sepenuhnya pulih. Premi harga Bitcoin di pasar spot Amerika Serikat masih negatif sekitar 0,14%.
Selain itu, data arus mingguan ke bursa menunjukkan masuknya 8.428 BTC. Indikator STH-SOPR juga berada di sekitar 0,998.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa pemegang jangka pendek rata-rata masih merealisasikan kerugian kecil. Dengan kata lain, sebagian investor belum mampu menjual Bitcoin dengan keuntungan.
Menurut analisis yang dikutip dalam laporan sumber, reli berkelanjutan membutuhkan permintaan spot yang lebih kuat. Oleh sebab itu, arus masuk ETF perlu berjalan seiring dengan peningkatan aktivitas pembelian Bitcoin secara langsung.
5. Harga Bitcoin Masih Menghadapi Level Penting
Arus masuk ETF yang besar belum langsung mendorong kenaikan harga Bitcoin secara konsisten. Data CoinGecko yang dikutip FinanceFeeds mencatat BTC di US$81.364 pada Selasa, 20 Oktober, waktu UTC.
Harga tersebut turun 1,39% dalam 24 jam. Setelah itu, Bitcoin kembali bergerak di atas US$82.000.
Pekan sebelumnya, BTC sempat jatuh di bawah US$80.000. Karena itu, level tersebut menjadi salah satu acuan penting bagi pelaku pasar.
Analis That Martini Guy menyoroti hilangnya dukungan harga di sekitar US$81.500. Ia juga menempatkan US$79.500 sebagai level berikutnya yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, Bitcoin beberapa kali menghadapi penolakan harga di sekitar US$83.500. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih membatasi kenaikan BTC.
6. Apakah Bitcoin Sudah Mencapai Titik Terendah?
Tekanan ekonomi global juga memengaruhi sentimen investor. Laporan sumber menyoroti kenaikan harga minyak Brent hingga melampaui US$111 per barel.
Selain itu, pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada bulan berikutnya. Perkembangan tersebut dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Secara keseluruhan, arus masuk ETF memberikan sinyal positif bagi pasar kripto. Namun, tekanan pada permintaan spot dan hambatan harga masih memerlukan perhatian.
Investor sebaiknya tidak menyimpulkan bahwa Bitcoin telah mencapai titik terendah hanya berdasarkan satu hari arus masuk besar. Konfirmasi pemulihan membutuhkan aliran dana yang konsisten, permintaan spot yang menguat, dan kemampuan BTC menembus level resistensi penting.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia di Piala Asia 2027 Lengkap“
















