Pronoted.com – Bursa saham Korea Selatan kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Menurut Yonhap, indeks KOSPI membuka perdagangan dengan penurunan 0,6% ke level 5.733,57.
Tekanan jual kemudian semakin kuat hingga membawa KOSPI ke level 5.493,24 pada sesi pagi. BeInCrypto mencatat penurunan sekitar 3,5% pada awal perdagangan tersebut.
Koreksi ini memangkas kenaikan KOSPI sepanjang 2026 menjadi sekitar 31%. Padahal, indeks tersebut sempat mencatat kenaikan hingga 116% sebelum mencapai rekor penutupan pada Juni.
Kini, KOSPI berada sekitar 39% di bawah level tertingginya. Sejumlah faktor turut menekan pasar, mulai dari pelemahan saham semikonduktor hingga meningkatnya risiko investasi bermargin.
“Baca Juga: 3 Token Unlock Kripto Terbesar pada Oktober 2026“
Saham Samsung dan SK Hynix Tekan KOSPI
Saham semikonduktor menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi KOSPI. Dua perusahaan besar, Samsung Electronics dan SK Hynix, memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan indeks.
Pada Mei 2026, kedua perusahaan tersebut menguasai sekitar 44% bobot KOSPI. Karena itu, pelemahan saham mereka memberikan dampak besar terhadap kinerja pasar Korea Selatan.
Sepanjang 1–16 Oktober, saham Samsung Electronics turun 19,74%. Pada periode yang sama, saham SK Hynix merosot 28,38%.
Tekanan berlanjut pada Selasa pagi. Saham SK Hynix kembali melemah 2,74%, sedangkan saham Samsung Electronics turun 1,15%.
Investor mulai mempertanyakan kemampuan investasi besar pada infrastruktur kecerdasan buatan atau AI dalam menghasilkan keuntungan sepadan. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi global turut menekan valuasi saham teknologi.
Financial News melaporkan KOSPI merosot 17,11% selama 1–16 Oktober. Penurunan tersebut menjadikan KOSPI salah satu indeks saham utama dengan kinerja terburuk pada periode itu.
Sementara itu, investor asing terus mengurangi kepemilikan saham Korea Selatan. Mereka mencatat aksi jual bersih selama delapan sesi berturut-turut sejak 2 Oktober, dengan total sekitar 18,13 triliun won.
Pinjaman Margin Memperbesar Tekanan Jual
Selain pelemahan saham teknologi, pinjaman margin turut memperburuk situasi pasar. Investor ritel sebelumnya menggunakan dana pinjaman dari perusahaan sekuritas untuk membeli saham selama reli KOSPI.
Saldo pinjaman margin mencapai puncak 38,63 triliun won pada 24 Juni 2026. Pada periode yang sama, KOSPI juga mencetak rekor tertingginya.
Namun, penurunan harga saham kemudian memperkecil nilai jaminan milik investor. Kondisi tersebut memaksa investor menambah dana atau menghadapi penjualan paksa dari perusahaan sekuritas.
The Korea Times mencatat saldo pinjaman margin mencapai sekitar 34,25 triliun won pada 13 Oktober. Angka tersebut menembus 34 triliun won untuk pertama kalinya sejak Juli.
Pada hari yang sama, nilai likuidasi paksa mencapai 59,35 miliar won. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat nilai sehari sebelumnya.
Sebagai perbandingan, nilai likuidasi paksa rata-rata hanya sekitar 6,4 miliar won per hari pada 8–9 Oktober. BeInCrypto juga melaporkan likuidasi paksa melampaui 50 miliar won selama empat sesi berturut-turut hingga 16 Oktober.
Apa Penyebab Koreksi Tajam KOSPI?
Pinjaman margin bukanlah pemicu awal penurunan KOSPI. Tekanan pertama muncul ketika investor menjual saham semikonduktor karena meragukan prospek investasi AI.
Selain itu, kekhawatiran kredit meningkat setelah harga obligasi CoreWeave jatuh. Data inflasi Amerika Serikat pada 15 Oktober yang melampaui perkiraan juga menambah tekanan terhadap pasar.
Namun, penggunaan pinjaman margin memperbesar dampak penurunan tersebut. Ketika harga saham merosot, perusahaan sekuritas dapat menjual paksa posisi investor untuk memenuhi persyaratan jaminan.
Penjualan paksa kemudian menambah tekanan jual di pasar. Akibatnya, pelemahan harga saham dapat mendorong likuidasi tambahan dan memperpanjang koreksi.
Tekanan besar terlihat pada 15 Oktober, ketika KOSPI anjlok 7,57% ke level 5.554,22. Peristiwa tersebut memperlihatkan besarnya risiko ketika investor menggunakan pinjaman untuk membeli saham.
Risiko Likuidasi Masih Membayangi Pasar Korea Selatan
Di tengah gejolak tersebut, investor ritel masih menunjukkan minat membeli saham. Mereka mencatat pembelian bersih sekitar 568,7 miliar won pada Selasa pagi.
Sebaliknya, investor asing dan institusi terus melepas kepemilikan saham. Perbedaan langkah ini menunjukkan bahwa pelaku pasar memiliki pandangan berbeda terhadap prospek pemulihan KOSPI.
Selama saldo pinjaman margin masih tinggi, pasar berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Risiko tersebut juga bergantung pada stabilitas saham semikonduktor dan perkembangan sentimen terhadap investasi AI.
Koreksi KOSPI menjadi pengingat bahwa penggunaan leverage dapat memperbesar keuntungan sekaligus kerugian. Karena itu, investor perlu memahami risiko pinjaman sebelum mengambil keputusan investasi.
Akses Trading Tokenized Stocks melalui Pintu
Pintu menyediakan layanan perdagangan aset kripto dan akses ke sejumlah saham tertokenisasi melalui Pintu Market. Pengguna dapat mempelajari produk yang tersedia melalui situs resmi Pintu.
Platform tersebut juga menyediakan materi edukasi melalui Pintu Academy. Namun, investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap produk sebelum melakukan transaksi.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa mendatang. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan investasi dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Baca Juga: Pan-Islamisme: Pengertian, Sejarah, Tokoh, dan Tujuannya“
















