Pronoted.com – Pekan kedua Oktober 2026 menghadirkan tiga agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menggerakkan pasar global. Agenda tersebut mencakup data inflasi konsumen, inflasi produsen, dan pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh.
Rangkaian agenda ini berlangsung menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Karena itu, investor mencermati setiap data untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga AS.
Perubahan kebijakan The Fed dapat memengaruhi dolar AS, imbal hasil obligasi, dan aset berisiko seperti Bitcoin. Dengan demikian, hasil data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral menjadi perhatian pelaku pasar kripto.
“Baca Juga: Tom Lee Waspadai Dampak KOSPI terhadap Harga Bitcoin“
1. Inflasi Konsumen AS Diproyeksi Naik ke 3,6%
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menjadwalkan rilis data indeks harga konsumen (CPI) September pada 14 Oktober 2026. Lembaga tersebut menetapkan waktu rilis pukul 08.30 waktu AS bagian timur atau 19.30 WIB.
Konsensus yang dihimpun investingLive memperkirakan inflasi tahunan mencapai 3,6%, naik dari 3,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi bulanan diproyeksikan mencapai 0,6%.
Untuk inflasi inti, pasar memperkirakan kenaikan bulanan sebesar 0,2%. Adapun inflasi inti tahunan diperkirakan mencapai 2,5%, sedikit meningkat dari 2,4% pada Agustus.
Perbedaan antara inflasi utama dan inti menunjukkan bahwa tekanan harga dapat berasal dari beberapa komponen ekonomi. Risalah FOMC yang terbit pada 7 Oktober menyoroti harga energi, belanja terkait kecerdasan buatan (AI), dan dampak tarif.
Staf The Fed juga memperkirakan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) mencapai 3,8% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi 2% yang ditetapkan bank sentral.
2. Data PPI dan Penjualan Ritel Menjadi Sorotan
Pada 15 Oktober 2026, BLS menjadwalkan rilis indeks harga produsen (PPI) September. Pasar memperkirakan harga produsen naik 0,5% secara bulanan, dibandingkan kenaikan 0,4% sebelumnya.
Sementara itu, PPI inti diproyeksikan meningkat 0,3%. Data ini membantu investor menilai tekanan biaya yang mungkin memengaruhi harga barang dan jasa.
Pada hari yang sama, pasar juga menantikan laporan penjualan ritel dan klaim pengangguran mingguan. Penjualan ritel diperkirakan tumbuh 0,3%, melambat dari 1,2% pada Agustus.
Klaim pengangguran mingguan diperkirakan mencapai 195.000. Data tersebut dapat membantu investor menilai kekuatan pasar tenaga kerja dan kondisi permintaan konsumen.
PPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi. Jika CPI dan PPI sama-sama menunjukkan tekanan harga, investor mungkin memperkirakan The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Namun, perlambatan penjualan ritel dapat memberikan sinyal berbeda. Pelemahan konsumsi berpotensi menunjukkan bahwa permintaan mulai mendingin setelah pertumbuhan kuat pada Agustus.
3. Kevin Warsh Berbicara di Pertemuan Tahunan IMF
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan tampil dalam sesi percakapan di Pertemuan Tahunan IMF, Bangkok, pada 16 Oktober 2026. Kalender investingLive mencantumkan sesi tersebut sekitar pukul 10.30 WIB.
Menurut informasi dalam laporan, Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada 2026. Pernyataannya menjadi perhatian karena pasar mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Pada rapat September, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%. Risalah rapat juga menunjukkan bahwa mayoritas pejabat menilai kenaikan tambahan mungkin diperlukan sebelum akhir tahun.
Karena itu, investor akan mencermati pilihan kata Warsh ketika membahas inflasi dan prospek ekonomi. Nada hawkish dapat menunjukkan kecenderungan mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkannya kembali.
Sebaliknya, pernyataan yang lebih lunak dapat mengurangi kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter.
4. Bagaimana Agenda The Fed Memengaruhi Bitcoin?
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut biasanya menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan kekhawatiran pasar. Investor mungkin kembali meningkatkan minat terhadap aset berisiko jika mereka memperkirakan The Fed akan melonggarkan kebijakan.
Menurut Babypips, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 20%–25%. Sementara itu, pelaku pasar hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan tambahan hingga akhir tahun.
Namun, proyeksi tersebut dapat berubah mengikuti data ekonomi terbaru. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan hasil CPI, PPI, penjualan ritel, dan pernyataan Warsh secara bersamaan.
5. Investor Kripto Perlu Mencermati Risiko Pasar
Ketiga agenda tersebut memberikan petunjuk mengenai inflasi, kekuatan konsumsi, dan arah kebijakan moneter AS. Kombinasi indikator tersebut dapat memengaruhi sentimen investor menjelang rapat FOMC pada akhir Oktober.
Meski demikian, data ekonomi tidak menentukan pergerakan Bitcoin secara pasti. Likuiditas pasar, arus dana investasi, dan sentimen global juga dapat memengaruhi harga aset kripto.
Karena itu, investor sebaiknya memantau perkembangan makroekonomi dan mengelola risiko dengan cermat. Setiap keputusan investasi perlu mempertimbangkan volatilitas pasar dan kemampuan finansial masing-masing.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: Sejarah Candi Batu Kalde dan Misteri Peninggalan Hindu“
















