Pronoted.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar keuangan. Pada Kamis, 4 Juni 2026, rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS di pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
Pelemahan ini terjadi meski pemerintah telah menerapkan aturan baru terkait devisa hasil ekspor. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor global masih sangat memengaruhi pergerakan rupiah.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga terus meningkatkan ketidakpastian pasar.
“Baca Juga: Strategy Jual Bitcoin Perdana, Saham MSTR Turun 5%“
Aturan Devisa Ekspor Diharapkan Perkuat Rupiah
Pemerintah mulai menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 sejak 1 Juni 2026.
Melalui aturan tersebut, eksportir non-tambang wajib menempatkan seluruh devisa hasil ekspor di dalam negeri selama 12 bulan.
Sementara itu, eksportir sektor tambang dan energi wajib menempatkan 30 persen devisa selama tiga bulan.
Pemerintah berharap kebijakan ini dapat menambah pasokan dolar di dalam negeri. Selain itu, pemerintah ingin menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Namun, pasar belum menunjukkan respons yang sepenuhnya positif terhadap kebijakan tersebut.
Rupiah Melemah Meski Kebijakan Baru Berlaku
Pada hari pertama penerapan aturan baru, rupiah justru melemah di pasar luar negeri.
Padahal, sehari sebelumnya rupiah sempat menguat pada perdagangan domestik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih lebih fokus pada perkembangan global dibanding kebijakan dalam negeri.
Karena itu, efek positif aturan devisa ekspor diperkirakan membutuhkan waktu sebelum terlihat secara nyata.
Ketegangan AS dan Iran Tekan Sentimen Pasar
Faktor eksternal masih menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
Pasar terus memantau perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Selain itu, investor juga mencermati situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Ketidakpastian tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia.
Selat Hormuz masih menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak global. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi pasar internasional.
Harga Minyak Naik dan Investor Cari Aset Aman
Harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan lebih dari tiga persen. Harga tersebut mendekati 95 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil risiko.
Akibatnya, banyak investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Langkah tersebut sering memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, indeks dolar AS hanya bergerak tipis. Situasi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan penguatan dolar.
Investor Perlu Waspadai Risiko Pasar
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi kinerja berbagai instrumen investasi yang terkait dengan Indonesia.
Investor asing biasanya memperhatikan stabilitas nilai tukar sebelum menanamkan modal.
Ketika rupiah melemah, sebagian investor cenderung menunda atau mengurangi eksposur investasinya.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pasar saham dan pasar keuangan secara umum.
Selain itu, sentimen negatif terhadap negara berkembang juga berpotensi meningkat jika konflik global terus berlanjut.
Prospek Rupiah Bergantung pada Situasi Global
Dalam jangka pendek, arah pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dunia.
Investor perlu memantau negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran secara berkala.
Selain itu, pergerakan harga minyak dan indeks dolar AS juga akan menjadi faktor penting.
Jika ketegangan global mereda, tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang.
Sebaliknya, jika konflik meningkat, volatilitas pasar dapat kembali membesar.
Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati setiap perkembangan global sebelum mengambil keputusan investasi.
Rupiah Sentuh Rp18.000: Kebijakan Domestik Perlu Didukung Stabilitas Global
Pemerintah telah berupaya memperkuat fundamental ekonomi melalui aturan devisa hasil ekspor.
Namun, pasar keuangan saat ini bergerak dalam lingkungan yang sangat terhubung secara global.
Karena itu, keberhasilan kebijakan domestik juga bergantung pada kondisi eksternal yang lebih stabil.
Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, rupiah kemungkinan akan menghadapi tekanan yang cukup besar meski dukungan kebijakan terus diberikan.
“Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Canggih Deteksi Kecurangan Pangan“
















