pronoted.com – Federal Reserve kembali menjadi perhatian pelaku pasar global.
Bank sentral Amerika Serikat memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat yang dipimpin Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Meski begitu, risalah rapat menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara para pejabat.
Perdebatan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar keuangan, termasuk aset kripto.
Harga Bitcoin pun mengalami tekanan setelah dokumen rapat dipublikasikan.
“Baca Juga: Harga Emas 22 Karat Hari Ini dan Tips Investasinya“
Perdebatan Soal Inflasi dan Suku Bunga Masih Berlanjut
Risalah rapat mengungkap sebagian pejabat mendukung kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Namun, seluruh anggota akhirnya memilih mempertahankan kebijakan saat ini.
Mayoritas pejabat masih mengkhawatirkan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Mereka menilai beberapa faktor masih mendorong kenaikan harga.
Tarif impor, kenaikan harga energi, dan lonjakan investasi AI menjadi perhatian utama.
Selain itu, permintaan terhadap pusat data juga terus meningkat.
Sebanyak sembilan dari sembilan belas pejabat memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Prediksi tersebut berbeda dengan proyeksi sebelumnya yang tidak memperkirakan kenaikan suku bunga.
Kevin Warsh juga tidak menyampaikan proyeksi pribadinya.
Kondisi tersebut menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Investasi AI Dorong Tekanan Inflasi
The Fed menilai perkembangan industri kecerdasan buatan memberikan dampak ganda terhadap ekonomi.
Investasi besar pada pusat data meningkatkan permintaan perangkat keras dan energi.
Akibatnya, tekanan terhadap harga berbagai komoditas ikut meningkat.
Tim ekonomi The Fed kemudian menaikkan proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027.
Mereka juga mempertimbangkan dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi.
Selain itu, tarif perdagangan masih menjadi faktor yang memperbesar risiko inflasi.
Sebagian pejabat percaya investasi AI akan meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang.
Namun, manfaat tersebut diperkirakan baru terlihat beberapa tahun mendatang.
Sementara itu, tekanan harga masih membayangi perekonomian saat ini.
Harga Bitcoin Langsung Mengalami Koreksi
Pasar kripto merespons risalah The Fed dengan cukup cepat.
Harga Bitcoin turun sekitar 2,7 persen dalam 24 jam setelah dokumen tersebut dirilis.
Sebelumnya, Bitcoin sempat menguat karena arus dana ke ETF Bitcoin.
Optimisme tersebut juga muncul akibat harapan bahwa The Fed akan mengambil sikap lebih longgar.
Namun, isi risalah mengubah sentimen pasar.
Investor kembali berhati-hati karena peluang kenaikan suku bunga masih terbuka.
Aktivitas perdagangan opsi Bitcoin juga menunjukkan perubahan sikap pelaku pasar.
Sebagian investor mulai mengurangi posisi optimistis dan memilih strategi yang lebih defensif.
Kebijakan The Fed Terus Pengaruhi Pasar Kripto
Pergerakan Bitcoin kini semakin berkaitan dengan kondisi ekonomi global.
Keputusan suku bunga, inflasi, dan nilai dolar menjadi faktor utama yang memengaruhi harga aset digital.
Selain itu, harga minyak dan imbal hasil obligasi juga ikut membentuk sentimen pasar.
Karena itu, investor kripto tidak hanya memperhatikan perkembangan teknologi blockchain.
Mereka juga terus mengikuti kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Selama inflasi masih tinggi dan arah suku bunga belum pasti, volatilitas pasar kripto diperkirakan tetap berlangsung.
Investor pun perlu mencermati perkembangan ekonomi global sebelum mengambil keputusan investasi.
Meski demikian, setiap keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
“Baca Juga: Prediksi Norwegia vs Inggris: Duel Sengit Menuju Semifinal“
















