Pronoted.com – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Harga emas turun ke sekitar US$4.322 per troy ons.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan dari perdagangan sebelumnya. Pada awal pekan, emas sempat bergerak di atas US$4.330 per troy ons.
Namun, harga emas kemudian ditutup pada US$4.284 pada Senin, 14 September. Penurunan harian tersebut mencapai sekitar 1,25 persen.
Tekanan pasar muncul menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Bank sentral Amerika Serikat akan mengumumkan keputusan tersebut pada Rabu, 16 September 2026.
“Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.682, Pasar Cermati The Fed“
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Tekan Harga Emas
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Data CME FedWatch menunjukkan perubahan besar dalam perkiraan pasar.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin mencapai 86,5 hingga 87 persen. Sebelumnya, pasar hanya memperkirakan peluang tersebut sekitar 59,5 persen.
Data inflasi Amerika Serikat memicu perubahan ekspektasi tersebut. Inflasi Agustus 2026 menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan.
Inflasi inti berdasarkan CPI naik 0,4 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahunan bertahan pada level 3,4 persen.
Selain itu, PPI tahunan mencapai 5,4 persen. Data tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Kenaikan suku bunga biasanya memberikan tekanan terhadap emas. Emas tidak memberikan imbal hasil bunga seperti instrumen keuangan berbasis bunga.
Karena itu, investor dapat memilih aset berbunga ketika suku bunga meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat mengurangi daya tarik emas.
Analisis Teknikal Menunjukkan Momentum Emas Melemah
Analisis FXStreet menunjukkan harga emas bergerak di bawah rata-rata 20-EMA. Level 20-EMA tersebut berada sekitar US$4.393.
Level tersebut kini menjadi resistance jangka pendek bagi emas. Artinya, emas perlu melewati level tersebut untuk membuka peluang penguatan berikutnya.
Selain itu, indikator RSI berada pada level 46. Angka tersebut menunjukkan momentum emas masih cenderung lemah.
Namun, RSI belum memasuki area jenuh jual. Karena itu, emas masih memiliki ruang untuk bergerak turun sebelum mencapai kondisi tersebut.
Support terdekat berada pada sekitar US$4.297. Level tersebut mengikuti titik terendah emas pada 2 September 2026.
Jika harga menembus support tersebut, emas berpotensi menguji area US$4.166. Level tersebut mencerminkan titik tertinggi emas pada 22 Juli lalu.
Sebaliknya, emas perlu melewati US$4.393 untuk membuka peluang kenaikan lebih lanjut.
Harga Minyak dan Yield Obligasi Ikut Menekan Emas
Selain suku bunga, kenaikan harga minyak turut memberikan tekanan terhadap emas. Harga minyak Brent bergerak menuju level tertinggi dalam empat bulan.
Penutupan jalur pipa energi di Arab Saudi memicu kekhawatiran pasar. Investor khawatir gangguan tersebut dapat mempertahankan tekanan inflasi dari sektor energi.
Pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mendekati 4,99 persen. Level tersebut mendekati posisi tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Yield yang lebih tinggi membuat emas semakin kurang menarik bagi sebagian investor. Kondisi tersebut terjadi karena emas tidak memberikan pendapatan bunga.
Penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan. Harga emas menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan global.
Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap emas.
Harga Perak Ikut Mengalami Tekanan
Tekanan pasar juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan emas.
Pergerakan tersebut menunjukkan sensitivitas perak terhadap kebijakan moneter dan permintaan industri. Karena itu, investor menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus.
Rasio harga emas terhadap perak kemudian melebar menuju level 68. Angka tersebut menunjukkan perak mengalami koreksi lebih dalam daripada emas.
Namun, sebagian pelaku pasar fisik mulai membeli emas secara selektif. Aktivitas tersebut menunjukkan sebagian investor masih melihat peluang dari pelemahan harga.
Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa koreksi emas lebih banyak mengikuti perubahan ekspektasi suku bunga jangka pendek. Permintaan jangka panjang terhadap emas belum menunjukkan perubahan fundamental yang besar.
Emas Crypto Menawarkan Alternatif Investasi
Perkembangan teknologi blockchain kini memberikan cara lain untuk memiliki aset berbasis emas. Investor dapat menggunakan aset crypto yang nilainya mengikuti harga emas.
PAX Gold atau PAXG menjadi salah satu aset tersebut. Tether Gold atau XAUT juga menawarkan konsep serupa bagi investor crypto.
Namun, investor tetap perlu memahami risiko aset crypto sebelum melakukan transaksi. Harga aset crypto dapat bergerak cepat dan mengalami volatilitas tinggi.
Selain itu, investor perlu melakukan riset mandiri sebelum membeli aset. Penggunaan dana dingin juga penting untuk mengelola risiko investasi.
Investor Menunggu Keputusan The Fed
Harga emas kini menghadapi tekanan menjelang keputusan The Fed. Data inflasi Amerika Serikat membuat pasar meningkatkan perkiraan kenaikan suku bunga.
Selain itu, kenaikan yield obligasi dan harga minyak turut memengaruhi sentimen. Penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Meski demikian, investor masih menunjukkan minat terhadap emas saat harga mengalami koreksi. Karena itu, keputusan The Fed akan menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan emas berikutnya.
Disclaimer: Informasi ini hanya bertujuan menambah wawasan pembaca. Pergerakan harga aset dapat berubah sewaktu-waktu.
Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi pada masa mendatang. Setiap aktivitas jual beli aset memiliki risiko dan volatilitas.
Karena itu, investor perlu melakukan riset sebelum mengambil keputusan. Gunakan dana yang sesuai dengan kemampuan dan toleransi risiko masing-masing.
“Baca Juga: Sejarah Candi Ngawen di Magelang dan Keunikannya“
















