Pronoted.com – CEO Nvidia, Jensen Huang, kembali menyampaikan proyeksi besar tentang pertumbuhan industri kecerdasan buatan atau AI.
Huang memperkirakan pasar infrastruktur AI global bisa mencapai US$3 triliun hingga US$4 triliun pada 2030.
Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam Goldman Sachs Communacopia and Technology Conference 2026 pada 10 September.
Huang juga pernah menyampaikan proyeksi serupa dalam konferensi yang sama pada tahun sebelumnya.
Kali ini, Huang kembali menegaskan keyakinannya terhadap pertumbuhan infrastruktur AI. Menurutnya, industri semikonduktor memasuki fase pertumbuhan jangka panjang.
“Baca Juga: Penjualan Bitcoin 260.000 BTC Mulai Mereda“
Huang Melihat Dua Pendorong Utama Pasar AI
Huang menjelaskan dua faktor utama yang dapat mendorong pertumbuhan pasar infrastruktur AI.
Pertama, industri mulai mengubah cara sistem komputer memproses informasi. Sistem kini tidak hanya mencari data yang sudah tersimpan.
Sebaliknya, sistem AI generatif dapat membuat jawaban baru berdasarkan konteks yang pengguna berikan.
Perubahan tersebut membutuhkan kemampuan komputasi yang jauh lebih besar. Karena itu, kebutuhan terhadap chip dan pusat data terus meningkat.
Kedua, Huang melihat berakhirnya manfaat otomatis dari Hukum Moore. Selama puluhan tahun, perkembangan teknologi chip membantu meningkatkan kinerja sekaligus menekan biaya.
Namun, perkembangan tersebut kini menghadapi batas tertentu. Akibatnya, industri membutuhkan lebih banyak kapasitas komputasi untuk memenuhi permintaan AI.
Huang juga memperkirakan kebutuhan chip akan terus meningkat. Ia melihat munculnya berbagai lapisan komputasi baru dalam industri AI.
Kinerja Nvidia Mendukung Optimisme Huang
Nvidia juga mencatat pertumbuhan bisnis yang sangat kuat. Perusahaan melaporkan pendapatan kuartalan sebesar US$96,2 miliar.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 106 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, Nvidia memberikan panduan pertumbuhan pendapatan hingga 70 persen untuk tahun fiskal 2028.
Total pendapatan Nvidia dalam 12 bulan terakhir mencapai sekitar US$303 miliar. Perusahaan juga mencatat margin kotor mendekati 75 persen.
Kapitalisasi pasar Nvidia bahkan sempat mencapai sekitar US$5,1 triliun. Angka tersebut menempatkan Nvidia dalam jajaran perusahaan publik dengan nilai terbesar.
Namun, investor tetap menghadapi risiko ketika menilai saham Nvidia. Pergerakan saham perusahaan sangat berkaitan dengan sentimen terhadap industri AI.
Harga Sistem Komputasi AI Terus Meningkat
Huang juga menunjukkan perubahan harga sistem komputasi Nvidia. Menurutnya, permintaan terhadap sistem dengan kemampuan tinggi terus meningkat.
Satu sistem berbasis arsitektur Hopper kini memiliki harga sekitar US$18.000. Sementara itu, sistem Blackwell mencapai sekitar US$25.000.
Selanjutnya, generasi Vera Rubin mendatang dapat mencapai sekitar US$40.000. Nvidia juga menawarkan sistem GPU kelas atas dengan harga hingga US$8,5 juta.
Harga tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan perusahaan terhadap kemampuan komputasi AI. Karena itu, produsen terus mengembangkan chip dengan kemampuan yang semakin tinggi.
Nvidia Memperluas Kerja Sama dengan Perusahaan AI
Huang menyebut banyak pengembang AI besar menggunakan chip Nvidia. Nama tersebut mencakup OpenAI, Google DeepMind, xAI, dan Anthropic.
Perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan chip Nvidia untuk melatih dan menjalankan berbagai model AI.
Selain perusahaan AI, Nvidia juga bekerja sama dengan penyedia layanan komputasi awan. Nvidia juga menjalin kerja sama dengan perusahaan dari sektor keuangan dan farmasi.
Misalnya, Jane Street menggunakan teknologi Nvidia untuk kebutuhan komputasi. Perusahaan farmasi seperti Eli Lilly, Merck, dan Bristol Myers Squibb juga menjalin kerja sama.
Menurut Huang, posisi tersebut memberikan Nvidia peran penting dalam ekosistem AI. Industri AI sendiri terus berkembang dengan berbagai model dan pendekatan.
Kelangkaan Memori Masih Menghambat Pertumbuhan
Meski permintaan AI terus meningkat, Nvidia masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan chip memori.
Huang mengatakan pasokan menjadi salah satu tantangan utama perusahaan. Menurutnya, permintaan sebenarnya bisa tumbuh lebih dari 100 persen tanpa kendala pasokan.
Namun, Nvidia saat ini memberikan panduan pertumbuhan pendapatan sekitar 70 persen. Perusahaan juga menghadapi pembatasan ekspor chip pusat data ke China.
Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan Nvidia memenuhi seluruh permintaan pasar. Karena itu, pertumbuhan bisnis tidak hanya bergantung pada permintaan.
Investasi AI Masih Memasuki Tahap Awal
Huang menilai perkembangan komputasi generatif masih berada pada tahap awal. Ia memperkirakan perusahaan akan terus membangun infrastruktur AI dalam jangka panjang.
Dengan demikian, Huang tidak melihat AI sebagai tren singkat. Ia justru melihat kebutuhan komputasi sebagai bagian dari perubahan besar industri teknologi.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan berbagai risiko. Pasokan chip, aturan ekspor, persaingan, dan perubahan permintaan dapat memengaruhi perkembangan industri.
Proyeksi US$3 triliun hingga US$4 triliun juga tetap merupakan perkiraan Huang. Angka tersebut bukan jaminan terhadap ukuran pasar pada 2030.
Karena itu, perkembangan pendapatan Nvidia dan investasi pusat data menjadi indikator penting. Keduanya dapat membantu menggambarkan arah pertumbuhan industri AI dalam beberapa tahun mendatang.
















