Pronoted.com – Kekhawatiran keluarga super kaya dunia mengalami perubahan besar dalam satu tahun terakhir. Inflasi kini menjadi perhatian utama pengelola kekayaan keluarga.
Laporan Global Family Office Report 2026 dari Citi Wealth mencatat perubahan tersebut. Citi Wealth merilis laporan itu pada Selasa, 22 September 2026.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa inflasi menggeser tarif perdagangan sebagai ancaman utama. Kondisi ini turut memengaruhi strategi pengelolaan aset keluarga kaya.
Menariknya, banyak family office tidak memilih menambah simpanan tunai. Mereka justru meningkatkan porsi saham dalam portofolionya.
“Baca Juga: ETF Bitcoin Cetak Inflow $2,39 Miliar, Ini Faktornya“
Inflasi Menggeser Tarif sebagai Risiko Utama
Citi Wealth mengumpulkan data dari 351 family office di 41 negara. Survei tersebut berlangsung pada Juni hingga Juli 2026.
Sebanyak 63% responden menyebut inflasi sebagai kekhawatiran terbesar. Angka tersebut meningkat dari 37% dalam survei tahun 2025.
Sementara itu, perhatian terhadap tarif perdagangan mengalami penurunan tajam. Hanya 18% responden yang kini menganggap tarif sebagai kekhawatiran utama.
Pada tahun sebelumnya, angka tersebut mencapai 60%. Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran perhatian pengelola kekayaan global.
Namun, kekhawatiran terhadap inflasi tidak langsung menekan kinerja portofolio. Sekitar 90% family office mencatat hasil investasi positif sepanjang 2026.
Selain itu, sekitar 41% responden menargetkan imbal hasil tahunan sebesar 7% hingga 10%.
Alexandre Monnier dari Citi Wealth mengatakan family office semakin matang dalam menghadapi risiko. Mereka kini mengelola risiko secara lebih aktif.
Family Office Meningkatkan Porsi Saham
Family office justru meningkatkan eksposur terhadap saham publik ketika inflasi menjadi perhatian utama. Strategi tersebut menunjukkan perubahan cara mereka menghadapi tekanan harga.
Sebanyak 46% family office meningkatkan porsi saham dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, hanya 12% responden yang mengurangi porsi tersebut.
Untuk tahun depan, 37% responden berencana meningkatkan saham negara maju. Hanya 5% yang berencana mengurangi kepemilikan tersebut.
Data tersebut menunjukkan peningkatan minat terhadap saham dibandingkan survei tahun sebelumnya. Saham publik kini menjadi pilihan utama untuk dana baru.
Family office melihat saham sebagai salah satu aset yang mampu menghadapi inflasi. Perusahaan dapat menaikkan harga ketika biaya produksi meningkat.
Kenaikan harga tersebut dapat membantu perusahaan menjaga pendapatan dan keuntungan. Kondisi itu kemudian dapat mendukung nilai saham dalam jangka panjang.
Sebaliknya, inflasi dapat mengurangi daya beli uang tunai. Obligasi dengan jangka panjang juga menghadapi tekanan ketika harga terus meningkat.
Private Equity Tetap Menjadi Bagian Strategis
Selain saham publik, private equity tetap memiliki posisi penting dalam portofolio family office. Namun, pengelola kekayaan kini memilih investasi secara lebih selektif.
Mereka mempertimbangkan peluang, risiko, serta potensi hasil sebelum menempatkan dana. Strategi tersebut membantu mereka menghadapi kondisi ekonomi yang terus berubah.
Tren kepemilikan saham juga terlihat pada rumah tangga Amerika Serikat. Data Federal Reserve menunjukkan porsi saham mencapai 39,9% dari kekayaan bersih.
Angka tersebut melampaui porsi ekuitas rumah yang mencapai 19,3%. Data ini menunjukkan pentingnya saham dalam kekayaan rumah tangga Amerika.
Emas Menjadi Pilihan untuk Menghadapi Inflasi
Family office juga meningkatkan perhatian terhadap emas sebagai pelindung nilai. Emas kembali masuk dalam pembahasan investasi para klien Citi Wealth.
Selain itu, ETF emas global mencatat arus dana masuk sekitar 50 ton pada September. Produk tersebut juga mencatat arus masuk selama tiga bulan berturut-turut.
Citigroup bahkan memperluas kapasitas penyimpanan logam mulia di London. Langkah tersebut mengikuti peningkatan permintaan terhadap emas.
Investor biasanya menggunakan emas sebagai salah satu aset pelindung ketika inflasi meningkat. Namun, setiap aset tetap memiliki risiko dan pergerakan harga berbeda.
Family Office Mengurangi Minat terhadap Crypto
Berbeda dengan emas dan saham, minat family office terhadap aset crypto mengalami penurunan. Hanya 3% responden yang berencana menambah kepemilikan crypto tahun depan.
Sebaliknya, sebanyak 14% responden berencana mengurangi kepemilikan crypto. Data tersebut menunjukkan sikap yang lebih hati-hati terhadap aset digital.
Menariknya, regulasi bukan menjadi hambatan utama bagi sebagian besar responden. Sebanyak 46% family office tidak melihat hambatan regulasi yang berarti.
Namun, 27% responden menyebut keterbatasan keahlian dan tata kelola sebagai kendala. Angka tersebut mencapai 34% di kawasan Amerika Utara.
Karena itu, minat rendah terhadap crypto lebih berkaitan dengan kesiapan internal. Family office membutuhkan kemampuan dan sistem pengelolaan yang lebih matang.
Strategi Investasi Family Office Mulai Berubah
Perubahan kekhawatiran tersebut turut mengubah strategi investasi family office. Mereka kini lebih banyak mempertimbangkan saham, emas, dan aset lainnya.
Inflasi menjadi faktor penting dalam menentukan alokasi dana. Namun, setiap family office tetap memiliki strategi berdasarkan kebutuhan dan tujuan masing-masing.
Data Citi Wealth menunjukkan pengelola kekayaan tidak hanya mengambil posisi defensif. Mereka juga mencari aset yang berpotensi menjaga nilai kekayaan.
Dengan demikian, perubahan strategi tersebut mencerminkan respons terhadap kondisi ekonomi global. Family office terus menyesuaikan portofolio ketika risiko dan peluang mengalami perubahan.
















