Pronoted.com – Firma riset aset digital CoinShares melihat Bitcoin menghadapi tantangan untuk mempertahankan kenaikan kuat hingga akhir 2026.
Head of Research CoinShares James Butterfill menyampaikan pandangan tersebut dalam catatan pasar pada 18 September 2026.
CoinShares menilai Bitcoin membutuhkan perubahan kondisi makroekonomi untuk mencatat kenaikan berkelanjutan di atas US$80.000.
Namun, beberapa jam setelah catatan tersebut terbit, Bitcoin justru menembus level US$80.000. Harga Bitcoin sempat mencapai sekitar US$80.800 pada Jumat.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tetap bergerak dinamis meski menghadapi sejumlah tekanan ekonomi.
“Baca Juga: Grayscale: Kenaikan Suku Bunga Tak Guncang Kripto“
The Fed Menjadi Salah Satu Hambatan Bitcoin
CoinShares menempatkan kebijakan Federal Reserve sebagai salah satu hambatan utama Bitcoin. Bank sentral AS menaikkan suku bunga pada 16 September 2026.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.
Selain itu, proyeksi terbaru The Fed menghapus ekspektasi pelonggaran kebijakan hingga 2027. Kondisi tersebut dapat menjaga tekanan terhadap aset berisiko.
Butterfill menilai Bitcoin membutuhkan data inflasi yang lebih baik untuk menciptakan peluang kenaikan berkelanjutan. Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga dapat membantu Bitcoin.
Sementara itu, konflik Iran turut meningkatkan tekanan terhadap harga energi. Kenaikan harga energi dapat menjaga inflasi tetap tinggi.
Karena itu, CoinShares melihat peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika tekanan inflasi terus meningkat.
Kegagalan CLARITY Act Tambah Ketidakpastian
Selain kebijakan The Fed, CoinShares menyoroti perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat.
Senat AS menolak rancangan aturan tersebut dalam pemungutan suara pada September 2026. Hasil pemungutan suara mencapai 49 suara berbanding 50 suara.
CoinShares menilai kegagalan tersebut dapat memperlambat perkembangan regulasi aset digital. Namun, Butterfill tidak menganggap proses regulasi tersebut akan berhenti dalam waktu lama.
Menurut Butterfill, CLARITY Act masih memiliki kepentingan bipartisan karena berkaitan dengan regulasi stablecoin. Karena itu, pembahasan versi revisi masih dapat berlanjut.
CoinShares juga melihat dampak regulasi yang berbeda terhadap setiap aset kripto. Bitcoin relatif lebih terlindungi karena status regulasinya lebih jelas.
Sebaliknya, Ethereum dan altcoin lain memiliki keterkaitan lebih besar dengan infrastruktur stablecoin. Karena itu, ketidakpastian regulasi dapat memberikan tekanan lebih besar kepada aset tersebut.
Bitcoin Justru Menembus US$80.000
Terlepas dari dua hambatan tersebut, Bitcoin mencatat kenaikan kuat pada 18 September 2026. Harga Bitcoin naik sekitar 6 persen dan menembus US$80.000.
Bitcoin bahkan mencapai sekitar US$80.800 dalam perdagangan hari tersebut. Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar menghadapi tekanan dari keputusan The Fed.
Selain itu, investor juga menghadapi ketidakpastian akibat kegagalan CLARITY Act. Namun, Bitcoin mampu kembali bergerak melewati level penting tersebut.
Pergerakan itu tidak otomatis membatalkan pandangan CoinShares. CoinShares menyoroti kemungkinan kenaikan berkelanjutan, bukan sekadar penembusan sementara.
Karena itu, investor masih perlu memperhatikan data inflasi dan arah kebijakan The Fed. Perkembangan konflik Iran juga dapat memengaruhi harga energi.
Prospek Bitcoin hingga Akhir 2026
CoinShares melihat kondisi pasar kripto masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Kebijakan moneter yang ketat dapat menunda pemulihan Bitcoin.
Namun, CoinShares tetap melihat peluang positif dalam jangka panjang. Perubahan kebijakan moneter dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan lebih kuat.
CoinShares juga melihat pasar obligasi AS sebagai faktor penting. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan tekanan terhadap kebijakan pemerintah AS.
Dalam skenario tertentu, tekanan tersebut dapat mendorong pemerintah mengambil kebijakan likuiditas lebih agresif. Kondisi itu berpotensi memberikan katalis bagi Bitcoin dan emas.
Dengan demikian, Bitcoin menghadapi dua dinamika berbeda menjelang akhir 2026. Tekanan The Fed dan regulasi membatasi momentum, sementara permintaan pasar tetap mendukung harga.
Investor sebaiknya memantau perkembangan ekonomi dan regulasi sebelum mengambil keputusan investasi. Aset kripto juga tetap memiliki risiko volatilitas yang tinggi.
“Baca Juga: Atletico Madrid Tekuk Real Madrid 2-1 di La Liga“
















