Pronoted.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah pada Sabtu, 24 Oktober 2026. BTC sempat menyentuh US$79.146, level terendahnya dalam lebih dari sebulan.
Menurut CoinCentral dan Yahoo Finance, Bitcoin kemudian pulih ke sekitar US$80.936 pada Minggu dini hari waktu Amerika Serikat. Namun, penurunan tersebut memicu gelombang likuidasi besar di pasar kripto.
Aset kripto utama lainnya juga mengalami tekanan. Ethereum (ETH), XRP, dan Solana (SOL) mencatat pelemahan sekitar 3–4%.
Selain itu, pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Mereka juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi pergerakan aset berisiko.
“Baca Juga: 5 Altcoin Potensial yang Layak Dipantau Jelang Bull Run“
Likuidasi Kripto Tembus US$810 Juta dalam 24 Jam
Data Coinglass yang dikutip CoinCentral mencatat likuidasi posisi kripto lebih dari US$810 juta dalam 24 jam. Dari jumlah tersebut, sekitar US$689 juta berasal dari posisi long.
Posisi long merupakan taruhan trader terhadap kenaikan harga aset. Ketika harga bergerak berlawanan dengan perkiraan mereka, bursa dapat menutup posisi secara otomatis.
Sekitar US$219 juta posisi long bahkan mengalami likuidasi hanya dalam satu jam. Sementara itu, BeInCrypto mencatat likuidasi mencapai US$837,12 juta dari 227.681 trader.
BeInCrypto juga melaporkan bahwa posisi long menyumbang sekitar 82,8% dari total likuidasi tersebut. Perbedaan angka antarlaporan dapat muncul karena waktu pengambilan data yang berbeda.
Khusus Bitcoin, The Crypto Times mencatat likuidasi senilai US$239,65 juta dalam 24 jam. Sekitar 93,1% dari jumlah itu berasal dari posisi long.
Ethereum menyusul dengan likuidasi sekitar US$188,21 juta. Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang menimpa trader ketika harga bergerak turun secara tajam.
Arus Keluar ETF Bitcoin Menambah Tekanan Jual
Selain likuidasi, arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot Amerika Serikat turut menekan pasar. Data Farside Investors yang dikutip crypto.news mencatat arus keluar sekitar US$635,6 juta pada 22 Oktober.
Kemudian, investor menarik sekitar US$137,9 juta pada 23 Oktober. Dengan demikian, total arus keluar selama dua sesi mencapai sekitar US$773,5 juta.
The Crypto Times, yang mengutip SoSoValue, menyebut penarikan pada 22 Oktober sebagai yang terbesar sejak 25 Juni. Pada hari tersebut, ETF IBIT milik BlackRock kehilangan US$254,1 juta.
Sementara itu, ETF FBTC milik Fidelity mencatat arus keluar sekitar US$217,5 juta. Arus dana tersebut menjadi salah satu indikator sentimen investor terhadap Bitcoin.
Tekanan Makro Membayangi Pasar Kripto
Faktor ekonomi juga memengaruhi pergerakan aset digital. BeInCrypto mencatat harga minyak Brent mencapai US$116,72 per barel pada Jumat.
Pada saat yang sama, total kapitalisasi pasar kripto turun 4,06% menjadi US$2,72 triliun dalam 24 jam. Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan yang meluas di pasar aset digital.
Kini, investor menantikan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober. Mereka juga mencermati data inflasi PCE Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober.
Kedua agenda tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga. Karena itu, pelaku pasar kemungkinan akan memperhatikan perubahan sentimen menjelang pengumuman tersebut.
Support US$78.400 Menjadi Level Penting Bitcoin
Setelah Bitcoin turun di bawah US$80.000, perhatian investor tertuju pada sejumlah level harga penting. CoinCentral dan Yahoo Finance menyoroti US$78.400 serta US$77.876 sebagai area support terdekat.
BeInCrypto juga menilai US$77.876 sebagai area yang perlu diperhatikan jika tekanan jual berlanjut. Jika Bitcoin menembus area tersebut, harga berpotensi menguji zona US$76.700 hingga US$72.500.
Sebaliknya, Bitcoin perlu merebut kembali level resistance untuk memperkuat pemulihan. Crypto.news menempatkan resistance terdekat di sekitar US$82.368, berdasarkan rata-rata pergerakan 20 hari.
Sementara itu, harga BTC masih berada di bawah rata-rata pergerakan 50 hari sekitar US$81.700. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk memulihkan momentum kenaikannya.
Analis kripto Ted, seperti dikutip CoinCentral, memperkirakan skenario terburuk dapat membawa Bitcoin menuju US$74.000–US$75.000. Namun, perkiraan tersebut merupakan pandangan analis, bukan kepastian pergerakan harga.
Di sisi lain, Glassnode yang dikutip crypto.news melihat US$80.000–US$81.500 sebagai zona permintaan penting. Area tersebut berdekatan dengan rata-rata harga modal ETF spot Amerika Serikat dan perusahaan yang menyimpan Bitcoin.
CoinCentral juga mencatat indeks Fear & Greed berada di angka 42, yang menunjukkan sentimen netral. Meski begitu, investor tetap perlu mencermati perubahan harga dan arus dana.
Investor Menanti Arah Bitcoin Berikutnya
Pergerakan Bitcoin selanjutnya bergantung pada kemampuan harga mempertahankan area support. Selain itu, arus dana ETF dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat dapat memengaruhi sentimen pasar.
Jika BTC kembali menguat di atas US$80.000, investor dapat mencermati peluang pemulihan berikutnya. Namun, penurunan di bawah US$78.400 dapat meningkatkan perhatian terhadap area support yang lebih rendah.
Karena itu, investor perlu mempertimbangkan volatilitas dan risiko sebelum mengambil keputusan. Harga kripto dapat berubah tajam dalam waktu singkat, terutama ketika pasar menghadapi likuidasi besar dan agenda ekonomi penting.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri serta sesuaikan keputusan investasi dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Baca Juga: Sejarah Pemerintahan B.J. Habibie: Ekonomi dan Politik“
















