pronoted.com – Harga saham Alphabet atau Google dengan kode GOOG ditutup di level 346,12 dolar AS per lembar. Data tersebut berasal dari penutupan sesi reguler Nasdaq pada Selasa, 21 Juli 2026.
Harga saham turun 2,17 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Bursa saham Amerika Serikat masih tutup saat data tersebut dicatat pada pukul 12.20 WIB.
Meski mengalami pelemahan, Alphabet tetap memiliki kapitalisasi pasar sekitar 4,31 triliun dolar AS. Nilai tersebut menempatkan perusahaan sebagai salah satu raksasa teknologi dunia.
“Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini Naik Tipis ke US$64.149“
Performa GOOG Masih Positif dalam Jangka Panjang
Saham GOOG melemah 2,49 persen selama lima hari terakhir. Namun, kinerja jangka panjang masih menunjukkan tren positif.
Sejak awal 2026, harga saham naik sekitar 8,98 persen. Selain itu, kenaikan dalam satu tahun terakhir mencapai 89,02 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi bisnis cloud dan kecerdasan buatan. Kedua sektor itu terus menjadi mesin pertumbuhan utama Alphabet.
Meski begitu, aksi ambil untung pada saham teknologi turut menekan harga GOOG. Kekhawatiran terhadap besarnya belanja infrastruktur AI juga memengaruhi sentimen pasar.
Analis Wall Street Naikkan Target Harga GOOG
Sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek Alphabet. Mereka menilai perusahaan masih memiliki peluang pertumbuhan yang kuat.
Analis Morgan Stanley, Brian Nowak, menaikkan target harga GOOG dari 375 dolar menjadi 415 dolar AS.
Ia juga mempertahankan rekomendasi Overweight. Menurutnya, Alphabet memiliki posisi kuat di sektor AI, layanan cloud, semikonduktor, dan periklanan digital.
Selain itu, Alphabet baru masuk ke indeks Dow Jones Industrial Average. Perusahaan menggantikan Verizon Communications pada akhir Juni 2026.
Langkah tersebut memperkuat posisi Alphabet sebagai salah satu emiten teknologi terbesar di pasar saham Amerika Serikat.
Sementara itu, analis TD Cowen, John Blackledge, menaikkan target harga menjadi 475 dolar AS. Sebelumnya, ia menetapkan target di level 450 dolar AS.
Ia mempertahankan rekomendasi Buy karena yakin bisnis cloud Alphabet masih akan berkembang pesat.
John memperkirakan kapasitas pusat data Alphabet meningkat lebih dari sepuluh kali lipat hingga 2031. Peningkatan tersebut bertujuan memenuhi permintaan layanan AI dari pelanggan bisnis maupun konsumen.
Investor Menanti Laporan Keuangan Kuartal II
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan keuangan kuartal II 2026. Alphabet dijadwalkan merilis laporan tersebut setelah penutupan pasar Amerika Serikat pada 22 Juli 2026.
Analis memperkirakan pendapatan perusahaan mencapai sekitar 116,9 miliar dolar AS. Mereka juga memproyeksikan laba per saham sebesar 2,90 dolar AS.
Investor akan mencermati pertumbuhan Google Cloud. Mereka juga akan menilai kinerja bisnis iklan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI.
Selain itu, pasar akan memantau arah belanja modal Alphabet. Perusahaan sebelumnya menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi 180 hingga 190 miliar dolar AS.
Investor juga menunggu kepastian peluncuran Gemini 3.5 Pro. Produk AI tersebut sempat mengalami penundaan sehingga memicu perhatian pasar.
Tekanan Regulasi Masih Membayangi Alphabet
Selain faktor bisnis, Alphabet juga menghadapi tantangan regulasi di Eropa.
Pengadilan Uni Eropa menguatkan denda antimonopoli sebesar 4,1 miliar euro terhadap Alphabet. Kasus tersebut berkaitan dengan praktik bisnis Android.
Di sisi lain, Komisi Eropa mengeluarkan aturan baru melalui Digital Markets Act.
Aturan tersebut mewajibkan Google membuka sejumlah fitur Android bagi asisten AI pesaing. Google juga harus menyediakan akses terhadap data pencarian yang telah dianonimkan.
Regulator menargetkan penerapan penuh aturan tersebut pada 2027. Karena itu, investor terus memantau dampaknya terhadap strategi bisnis Alphabet.
Prospek Saham GOOG Masih Bergantung pada Kinerja Perusahaan
Dalam jangka pendek, harga saham GOOG masih bergerak di bawah tekanan. Namun, sebagian besar analis tetap melihat prospek positif untuk jangka panjang.
Kinerja Google Cloud, perkembangan teknologi AI, serta pengendalian belanja modal akan menjadi faktor utama.
Selain itu, laporan keuangan kuartal II 2026 berpotensi menentukan arah pergerakan saham dalam beberapa waktu mendatang.
Jika hasil keuangan melampaui ekspektasi, sentimen positif dapat kembali mendorong harga saham Alphabet. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan dapat memperpanjang tekanan di pasar.
“Baca Juga: 8 Bintang Sepak Bola Pensiun dari Timnas Usai Piala Dunia“
















