Pronoted.com – Robinhood merilis laporan keuangan kuartal kedua dengan hasil yang menarik perhatian investor.
Perusahaan berhasil melampaui perkiraan analis meski pendapatan dari transaksi kripto menurun.
Robinhood membukukan pendapatan kripto sebesar 100 juta dolar AS.
Angka tersebut memang turun 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, hasil itu masih lebih tinggi daripada proyeksi analis sebesar 86,6 juta dolar AS.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa bisnis Robinhood tetap bertahan di tengah perlambatan pasar kripto.
“Baca Juga: Laba Meta Tertekan Meski Pendapatan Kuartal II Melonjak“
Aktivitas Perdagangan Kripto Masih Melemah
Penurunan pendapatan kripto terjadi karena aktivitas perdagangan terus melambat.
Volume perdagangan kripto di aplikasi Robinhood turun 35 persen menjadi 18 miliar dolar AS.
Sementara itu, kontribusi dari Bitstamp menambah volume sebesar 22 miliar dolar AS.
Dengan tambahan tersebut, total volume perdagangan mencapai 40 miliar dolar AS.
Di sisi lain, pasar aset digital masih menghadapi tekanan.
Harga Bitcoin masih berada jauh di bawah level tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat minat investor belum kembali pulih sepenuhnya.
Meski begitu, Robinhood tetap menjadi salah satu perusahaan yang mencerminkan kondisi industri kripto.
Pendapatan Transaksi Lain Tumbuh Pesat
Robinhood tidak hanya mengandalkan bisnis kripto.
Perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan dari berbagai layanan lainnya.
Pendapatan berbasis transaksi naik 44 persen menjadi 776 juta dolar AS.
Kontrak event menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar.
Pendapatan dari segmen tersebut mencapai 156 juta dolar AS.
Nilai tersebut meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pendapatan dari perdagangan opsi naik 29 persen menjadi 342 juta dolar AS.
Pendapatan dari transaksi saham juga hampir dua kali lipat menjadi 129 juta dolar AS.
Diversifikasi bisnis membantu Robinhood menjaga pertumbuhan ketika pasar kripto melemah.
Jumlah Pengguna Terus Bertambah
Robinhood juga mencatat pertumbuhan jumlah pelanggan.
Jumlah akun yang memiliki dana mencapai 28,4 juta pengguna.
Selain itu, pelanggan Robinhood Gold mencetak rekor baru sebanyak 4,8 juta pengguna.
Chief Financial Officer Robinhood, Shiv Verma, menilai perusahaan sedang berada dalam performa terbaiknya.
Ia menyebut pendapatan dan volume transaksi mencapai rekor baru di beberapa lini bisnis.
Pertumbuhan pelanggan juga memperkuat fondasi bisnis perusahaan.
Saham HOOD Turun Setelah Laporan Keuangan
Meskipun laporan keuangan melampaui ekspektasi, harga saham Robinhood justru melemah.
Saham HOOD ditutup pada level 89,84 dolar AS.
Nilai tersebut turun sekitar 3,15 persen pada hari pengumuman laporan.
Setelah itu, saham kembali turun hingga sekitar 87 dolar AS pada perdagangan setelah jam bursa.
Sebagian investor menilai kualitas laba masih perlu diperhatikan.
Laba per saham terdilusi mencapai 0,62 dolar AS.
Namun, sebagian keuntungan berasal dari faktor yang tidak berulang.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.
Robinhood Perluas Bisnis Kripto
Robinhood tetap melanjutkan ekspansi di sektor aset digital.
Perusahaan meluncurkan Robinhood Chain pada kuartal ini.
Jaringan tersebut menggunakan teknologi Ethereum Layer 2.
Robinhood mengembangkan platform tersebut untuk mendukung aset dunia nyata yang ditokenisasi.
Dalam satu minggu, Robinhood Chain menghasilkan pendapatan biaya aplikasi sebesar 25 juta dolar AS.
Selain itu, perusahaan juga memperkenalkan Robinhood Earn.
Layanan tersebut menjadi produk pinjaman berbasis blockchain pertama milik Robinhood.
Perusahaan juga meluncurkan token saham di lebih dari 120 negara.
Selanjutnya, Robinhood menyelesaikan akuisisi WonderFi di Kanada.
Perusahaan juga mulai menawarkan perdagangan perpetual futures di Uni Eropa.
Selain itu, Robinhood berencana memperluas layanan kripto ke Inggris.
Diversifikasi Menjadi Strategi Utama
Robinhood menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis mampu menjaga pertumbuhan perusahaan.
Pendapatan dari kripto memang menurun.
Namun, pertumbuhan pada bisnis saham, opsi, dan kontrak event berhasil menutup pelemahan tersebut.
Saat ini, kontribusi bisnis kripto terhadap total pendapatan juga semakin kecil.
Perusahaan tidak lagi bergantung pada satu sumber pendapatan.
Selain memperluas produk, Robinhood juga meningkatkan efisiensi operasional.
Manajemen bahkan menurunkan proyeksi beban operasional dan kompensasi berbasis saham untuk 2026.
Strategi tersebut bertujuan menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
Ke depan, pertumbuhan pengguna, inovasi produk, dan ekspansi layanan akan menjadi faktor penting bagi kinerja Robinhood.
Investor juga akan terus mencermati perkembangan bisnis kripto serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di tengah persaingan industri keuangan digital.
“Baca Juga: Jadwal Persib vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026“
















