Pronoted.com – Meta Platforms kembali mencuri perhatian setelah merilis laporan keuangan kuartal kedua 2026. Perusahaan mencatat pendapatan yang melampaui perkiraan analis. Namun, kenaikan biaya operasional membuat margin keuntungan turun cukup tajam.
Kondisi tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar. Harga saham Meta melemah lebih dari lima persen dalam perdagangan setelah jam bursa. Investor kini menilai apakah investasi besar pada kecerdasan buatan atau AI dapat menghasilkan pertumbuhan jangka panjang.
“Baca Juga: Laba Microsoft Melonjak Berkat AI, Dampaknya ke Kripto?“
Pendapatan Meta Tumbuh di Atas Perkiraan
Meta membukukan pendapatan sebesar 60,80 miliar dolar AS pada kuartal kedua 2026.
Angka tersebut meningkat sekitar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hasil itu juga melampaui proyeksi analis yang memperkirakan pendapatan sekitar 59,50 miliar dolar AS.
Di sisi lain, laba per saham terdilusi turun menjadi 6,18 dolar AS.
Pada periode yang sama tahun lalu, Meta masih mencatat laba per saham sebesar 7,14 dolar AS.
Penurunan laba terjadi karena perusahaan mengeluarkan biaya operasional yang jauh lebih besar.
Biaya Operasional Meningkat Tajam
Meta mencatat total pengeluaran sebesar 42,03 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut naik sekitar 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan mengalokasikan dana besar untuk pengembangan infrastruktur AI.
Selain itu, Meta juga menanggung biaya hukum sebesar 2,40 miliar dolar AS.
Perusahaan turut membayar pesangon sekitar 1,18 miliar dolar AS setelah melakukan pengurangan karyawan pada Mei.
Akibatnya, margin operasional turun menjadi 31 persen.
Padahal, margin operasional Meta masih mencapai 43 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Bisnis Iklan Tetap Menjadi Penopang
Meski laba tertekan, bisnis iklan Meta tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Jumlah tayangan iklan meningkat sekitar 14 persen.
Sementara itu, harga rata-rata setiap iklan naik sekitar 12 persen.
Pertumbuhan tersebut membantu menjaga pendapatan perusahaan tetap tinggi.
Meta juga melaporkan jumlah pengguna aktif harian keluarga aplikasinya mencapai 3,60 miliar orang pada akhir Juni.
Jumlah itu meningkat sekitar tiga persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa ekosistem Meta masih memiliki daya tarik yang kuat.
Investasi AI Membuat Arus Kas Menyusut
Meta terus meningkatkan investasi untuk memperkuat teknologi AI.
Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi 130 hingga 145 miliar dolar AS.
Untuk tahun penuh, Meta bahkan memulai panduan pengeluaran dari angka 165 miliar dolar AS.
Pada kuartal kedua saja, belanja modal mencapai 31,08 miliar dolar AS.
Sementara itu, arus kas operasional sebesar 31,86 miliar dolar AS hanya menghasilkan free cash flow sekitar 784 juta dolar AS.
Nilai tersebut turun tajam dibandingkan 8,55 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Sebagian besar dana tersebut mengalir untuk pembangunan pusat data AI.
Meta juga bekerja sama dengan BlackRock dalam proyek pusat data senilai 14 miliar dolar AS di El Paso, Texas.
Selain itu, perusahaan memperkirakan tarif pajak efektif berada di kisaran 15 hingga 17 persen untuk sisa 2026.
Mark Zuckerberg Fokus pada Pengembangan AI
CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan bahwa AI menjadi prioritas utama perusahaan.
Menurutnya, teknologi tersebut akan memperkuat bisnis inti Meta.
AI juga membuka peluang baru untuk layanan perusahaan dan produk generasi berikutnya.
Karena itu, Meta memilih mempertahankan investasi besar meski biaya operasional terus meningkat.
Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan industri teknologi.
Saham Meta Turun Setelah Laporan Dirilis
Laporan keuangan tersebut memicu reaksi negatif dari investor.
Saham Meta turun lebih dari tujuh persen hingga menyentuh sekitar 543,54 dolar AS.
Sebelumnya, saham perusahaan ditutup di level 585,61 dolar AS.
Meski begitu, sejumlah analis masih melihat peluang pertumbuhan.
Meta memproyeksikan pendapatan kuartal ketiga berada di kisaran 61 hingga 64 miliar dolar AS.
Proyeksi tersebut masih menunjukkan pertumbuhan bisnis yang cukup kuat.
Investor Tetap Mewaspadai Sejumlah Risiko
Di sisi lain, Meta masih menghadapi sejumlah tantangan.
Utang jangka panjang perusahaan meningkat menjadi 83,66 miliar dolar AS.
Sebelumnya, utang tersebut berada di level 58,74 miliar dolar AS.
Selain itu, divisi Reality Labs kembali mencatat kerugian sebesar 4,62 miliar dolar AS.
Meta juga menghadapi gugatan hukum di Amerika Serikat terkait perlindungan anak dan remaja.
Kasus tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Persaingan AI Semakin Ketat
Persaingan di sektor teknologi terus meningkat.
Microsoft sebelumnya melaporkan pertumbuhan positif dari layanan Azure.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa investor masih mendukung perusahaan yang mampu menghasilkan pertumbuhan melalui AI.
Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan laporan keuangan Apple.
Investor ingin mengetahui apakah tekanan margin hanya terjadi pada Meta atau juga dialami perusahaan teknologi besar lainnya.
Untuk saat ini, Meta masih menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang solid.
Namun, besarnya investasi AI membuat perusahaan harus membuktikan bahwa pengeluaran tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar pada masa mendatang.
“Baca Juga: Jadwal Persib vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026“
















