Pronoted.com – Bitcoin (BTC) masih kesulitan melanjutkan kenaikan harga meskipun pasar belum mengalami penurunan tajam. Menurut laporan BeInCrypto pada 21 Oktober 2026, BTC bergerak di sekitar US$83.350.
Harga tersebut masih sekitar 4% di bawah puncak September. Sementara itu, data CryptoQuant dan Glassnode menunjukkan berkurangnya dana stablecoin di bursa kripto.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar kekurangan modal baru untuk mendorong kenaikan harga. Selain itu, tekanan jual di sejumlah level harga turut membatasi pergerakan Bitcoin.
“Baca Juga: ETF Bitcoin Inflow US$526,7 Juta, Apakah BTC Bottom?“
1. Cadangan Stablecoin di Bursa Terus Menurun
Analis CryptoQuant, Darkfost, mencatat penurunan saldo stablecoin ERC-20 di bursa kripto terbesar dunia. Nilainya kini mencapai US$41,6 miliar, level terendah dalam satu tahun.
Sejak April, sekitar US$6,3 miliar telah keluar dari bursa tersebut. Selain itu, perubahan kapitalisasi stablecoin selama 90 hari mencapai minus 4,7%.
Tren serupa juga terjadi pada tiga bursa besar lainnya. Secara keseluruhan, keempat bursa tersebut kehilangan sekitar US$13,5 miliar dana stablecoin.
Dari sisi pasokan, Tether (USDT) relatif stabil di sekitar US$183 miliar sejak April. Sebaliknya, pasokan USD Coin (USDC) turun dari US$78 miliar menjadi US$72 miliar.
Data CoinGecko menunjukkan penurunan pasokan USDC tersebut. Perubahan ini memperlihatkan bahwa kondisi likuiditas di pasar kripto masih menghadapi tekanan.
Darkfost mengemukakan beberapa kemungkinan penyebab tren tersebut. Bursa mungkin mengurangi persediaan stablecoin karena permintaan melemah.
Selain itu, sebagian pemegang aset mungkin memindahkan dana ke platform yang menawarkan imbal hasil. Mereka juga bisa menunggu kondisi pasar membaik sebelum kembali membeli kripto.
2. Reli Bitcoin Kehilangan Dukungan Modal Baru
Data CryptoQuant memperlihatkan perbedaan antara pergerakan harga Bitcoin dan cadangan stablecoin di bursa. BTC sempat naik lebih dari 30% dari titik terendah Agustus.
Pada 22 September, Bitcoin mencapai US$86.597. Namun, cadangan stablecoin di bursa justru terus menurun selama periode kenaikan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga belum mendapat dukungan kuat dari tambahan dana baru. Pemegang Bitcoin lama dan penggunaan posisi leverage kemungkinan turut mendorong reli tersebut.
Akibatnya, kenaikan harga berpotensi lebih rentan ketika tekanan jual meningkat. Sejak mencapai puncak September, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 4%.
Ethereum (ETH) juga mengalami tekanan yang lebih besar. Harganya turun sekitar 11% dari US$2.775, menurut data dalam laporan sumber.
3. Volume Perdagangan dan Aktivitas Trader Melemah
Selain berkurangnya cadangan stablecoin, aktivitas perdagangan Bitcoin juga mengalami penurunan. Rata-rata volume harian BTC turun 27% sejak April.
Pada April, volume harian mencapai US$38,6 miliar. Sementara itu, rata-rata volume harian selama Oktober berada di sekitar US$28,2 miliar.
Penurunan volume menunjukkan melemahnya aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut dapat menyulitkan Bitcoin mempertahankan momentum kenaikan.
Pasar derivatif juga belum memperlihatkan keberanian trader mengambil risiko lebih besar. Tingkat pendanaan kontrak perpetual BTC di bursa utama berada di sekitar 0,01%.
Angka tersebut menunjukkan kondisi yang relatif netral. Dengan demikian, trader belum menunjukkan kecenderungan kuat untuk mengambil posisi beli atau jual secara agresif.
4. Resistance Bitcoin Berada di Sekitar US$87.700
Riset Glassnode yang dikutip Cointelegraph pada 21 Oktober menyoroti tekanan jual di sekitar US$87.700. Level tersebut mencerminkan rata-rata harga beli investor yang mengakumulasi BTC enam hingga 12 bulan sebelumnya.
Sebagian investor dalam kelompok tersebut masih menanggung kerugian. Karena itu, mereka mungkin menjual Bitcoin ketika harganya kembali mendekati modal awal.
Tekanan jual tersebut dapat menghambat kenaikan harga. Selain itu, beberapa indikator teknikal juga menunjukkan hambatan di area yang sama.
Harga pembukaan Bitcoin pada 2026 berada di sekitar US$87.490. Sementara itu, rata-rata pergerakan 20 bulan berada di sekitar US$87.165.
Ketiga level tersebut membentuk area resistance penting. Bitcoin perlu menembus zona tersebut untuk memperkuat peluang pemulihan harga.
5. Zona US$80.000–US$81.500 Menjadi Support Penting
Glassnode memperkirakan harga perolehan ETF Bitcoin spot Amerika Serikat berada di sekitar US$81.500. Karena itu, rentang US$80.000–US$81.500 menjadi zona dukungan penting.
Jika Bitcoin bertahan di atas zona tersebut, pasar berpeluang menjaga kestabilan harga. Namun, penurunan di bawahnya dapat meningkatkan risiko koreksi lanjutan.
Glassnode menempatkan True Market Mean di sekitar US$77.500 sebagai level berikutnya yang perlu diperhatikan. Level tersebut dapat menjadi acuan jika tekanan jual terus meningkat.
Di sisi lain, Darkfost menyoroti indikator cadangan stablecoin sebagai sinyal pemulihan. Menurutnya, investor perlu mengamati perubahan cadangan stablecoin selama 90 hari.
Jika indikator tersebut kembali bergerak di atas nol, kondisi likuiditas mungkin mulai membaik. Meski demikian, investor tetap perlu memantau volume perdagangan dan permintaan Bitcoin secara langsung.
Kesimpulan: Pemulihan BTC Masih Membutuhkan Likuiditas
Bitcoin menghadapi tantangan untuk melanjutkan reli karena dana stablecoin di bursa terus menyusut. Pada saat yang sama, volume perdagangan melemah dan tekanan jual membatasi kenaikan harga.
Zona US$80.000–US$81.500 menjadi area penting untuk menjaga kestabilan BTC. Sementara itu, US$87.700 menjadi salah satu hambatan utama bagi pemulihan harga.
Namun, indikator tersebut belum memastikan arah pergerakan Bitcoin berikutnya. Investor perlu memantau aliran dana, permintaan pasar, dan perubahan likuiditas sebelum menarik kesimpulan.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
“Baca Juga: Sejarah Candi Bubrah di Prambanan dan Keunikan Arsitekturnya“
















