Pronoted.com – Saham Netflix (NFLX) turun ke US$64,10 pada Rabu, 21 Oktober 2026. Harga tersebut menjadi level terendah sejak Agustus 2024.
Penurunan ini terjadi meskipun Netflix mencatat laba kuartal III 2026 di atas perkiraan analis. Selain itu, perusahaan juga meningkatkan pendapatan sebesar 12% dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, investor menyoroti proyeksi keuangan Netflix untuk kuartal IV. Perkiraan tersebut tidak memenuhi harapan pasar dan memunculkan kekhawatiran mengenai pertumbuhan perusahaan pada 2027.
Saat ini, harga saham Netflix berada sekitar 50% di bawah rekor US$134,12 pada pertengahan 2025. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan pasar terhadap prospek bisnis perusahaan.
“Baca Juga: Bitcoin Melemah, Cadangan Stablecoin di Bursa Menurun“
Laba Netflix Melampaui Ekspektasi, tetapi Proyeksi Mengecewakan
Netflix mencatat laba per saham sebesar US$0,87 pada kuartal III 2026. Angka tersebut melampaui perkiraan analis sebesar US$0,82.
Sementara itu, pendapatan perusahaan mencapai US$12,87 miliar. Pertumbuhan sebesar 12% tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Meski demikian, proyeksi kuartal IV memicu kekhawatiran investor. Netflix memperkirakan laba per saham sebesar US$0,67, lebih rendah daripada konsensus analis sebesar US$0,73.
Perusahaan juga memperkirakan pendapatan kuartal IV mencapai US$13,4 miliar. Angka tersebut sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar US$13,5 miliar.
Selain itu, Netflix menurunkan target pendapatan iklan 2026 menjadi sekitar US$2,7 miliar. Sebelumnya, perusahaan menargetkan pendapatan iklan sebesar US$3 miliar.
Netflix menjelaskan bahwa peluncuran fitur iklan berjalan lebih lambat daripada rencana awal. Akibatnya, perusahaan memperkirakan pendapatan iklan tidak mencapai target sebelumnya.
Restrukturisasi dan Pergantian Pimpinan Menambah Tekanan
Netflix juga menghadapi sejumlah perubahan internal dalam beberapa waktu terakhir. Perusahaan memangkas sekitar 1.000 karyawan, atau sekitar 6% dari total tenaga kerjanya.
Selain itu, Netflix mengganti chief creative officer dan kepala divisi film. Perubahan tersebut mencerminkan upaya perusahaan memperbaiki kinerja dan strategi kontennya.
Namun, biaya restrukturisasi diperkirakan menekan margin operasional kuartal IV hingga sekitar 26%. Faktor ini menambah perhatian investor terhadap kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas.
Co-CEO Ted Sarandos mengakui bahwa Netflix masih memiliki ruang untuk meningkatkan kinerja. Meski begitu, ia menilai perusahaan tidak perlu mengubah strategi secara mendasar.
Menurut Sarandos, Netflix perlu memperbaiki pelaksanaan strategi, terutama di pasar Amerika Serikat.
Analis Wall Street Menurunkan Target Harga Netflix
Sejumlah analis Wall Street mulai mengambil sikap lebih hati-hati terhadap saham Netflix. Needham bahkan menurunkan rekomendasinya dari Buy menjadi Hold.
Analis Laura Martin menyoroti perlambatan pertumbuhan pendapatan Netflix. Pertumbuhan berdasarkan kurs netral turun dari 14% pada kuartal I menjadi 12% pada kuartal II.
Pada kuartal III, pertumbuhan tersebut kembali melambat menjadi 11%. Martin juga memperkirakan pertumbuhan pendapatan Netflix bisa turun ke satu digit pada 2027.
Selain itu, Needham menilai Netflix menghadapi tekanan persaingan yang semakin kuat dari YouTube. Sejumlah perusahaan sekuritas lain juga memangkas target harga saham Netflix.
Bernstein menurunkan target harga dari US$95 menjadi US$80. Rosenblatt mengurangi targetnya dari US$75 menjadi US$71.
Sementara itu, Barclays memangkas target harga dari US$70 menjadi US$65. Langkah tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian sebagian analis terhadap prospek Netflix.
Meski demikian, beberapa analis masih melihat peluang pertumbuhan. JPMorgan dan Goldman Sachs menilai bisnis langganan utama Netflix tetap sehat.
Bank of America juga menilai valuasi Netflix masih masuk akal bagi platform global dengan lebih dari 300 juta pelanggan. Di sisi lain, Morgan Stanley melihat pengurangan karyawan dan pergantian pimpinan konten sebagai langkah tegas perusahaan.
Pendapatan Netflix Mencapai Rekor, tetapi Pertumbuhan Melambat
Secara fundamental, Netflix masih menunjukkan sejumlah pencapaian positif. Pendapatan selama 12 bulan terakhir mencapai sekitar US$50 miliar hingga September 2026.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi perusahaan. Netflix juga mencatat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 20,4% sejak 2015.
Selain itu, margin operasional meningkat menjadi 34,6%. Setahun sebelumnya, perusahaan mencatat margin sebesar 28,2%.
Namun, investor mulai mempertanyakan kemampuan Netflix mempertahankan pertumbuhan pelanggan. Firma analitik Antenna melaporkan bahwa Netflix tidak mencatat penambahan pelanggan bersih bulanan di Amerika Serikat sepanjang Januari hingga September 2026.
Netflix membantah kekhawatiran tersebut dengan menyatakan tingkat pelanggan yang berhenti berlangganan atau churn membaik. Perusahaan menyebut perbaikan itu terjadi di pasar global maupun Amerika Serikat.
Perbedaan pandangan tersebut membuat investor semakin memperhatikan perkembangan pelanggan. Mereka juga menilai kemampuan Netflix mempertahankan pertumbuhan pendapatan dalam persaingan layanan hiburan digital.
Persaingan YouTube dan TikTok Membayangi Saham Netflix
Persaingan memperebutkan waktu menonton menjadi tantangan penting bagi Netflix. YouTube dan TikTok menawarkan berbagai konten yang dapat menarik perhatian pengguna.
Karena itu, investor tidak hanya memperhatikan pertumbuhan laba Netflix. Mereka juga menilai kemampuan perusahaan mempertahankan pelanggan dan meningkatkan pendapatan iklan.
Dari sisi teknikal, saham Netflix kembali menguji area US$65 hingga US$70. Zona tersebut pernah menjadi area rekor harga pada 2021.
Jika harga saham menembus ke bawah zona tersebut dan bertahan, level Fibonacci US$61,29 berpotensi menjadi perhatian berikutnya. Sementara itu, resistance terdekat berada di sekitar US$75,20.
Meski begitu, level teknikal tidak menjamin arah pergerakan harga selanjutnya. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan perkembangan persaingan.
Pada akhirnya, laporan kuartal III menunjukkan bahwa Netflix masih mampu menghasilkan pendapatan dan laba yang kuat. Namun, proyeksi kuartal IV serta kekhawatiran mengenai pertumbuhan 2027 membuat investor mengambil sikap lebih berhati-hati.
Perkembangan pendapatan iklan, jumlah pelanggan, dan persaingan layanan streaming akan menjadi faktor penting bagi pergerakan saham Netflix berikutnya.
“Baca Juga: Candi Deres Jember: Sejarah dan Jejak Majapahit“
















