pronoted.com – Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah rasio terhadap emas mencapai level oversold paling ekstrem dalam sejarah. Kondisi ini memunculkan optimisme baru karena pola serupa pernah mendahului reli besar Bitcoin pada siklus sebelumnya.
Sejumlah analis menilai tekanan jual terhadap Bitcoin sudah mendekati titik jenuh. Oleh karena itu, banyak investor mulai mengamati peluang perubahan tren dalam beberapa bulan mendatang.
Meski begitu, pasar masih membutuhkan konfirmasi tambahan sebelum tren kenaikan benar-benar terbentuk.
“Baca Juga: Harga Dogecoin Hari Ini 13 Juli 2026, Siap Tembus US$0,09?“
Rasio BTC/Gold Menunjukkan Kondisi Tidak Biasa
Rasio BTC/Gold mengukur nilai satu Bitcoin terhadap emas. Indikator ini membantu investor melihat aset mana yang memiliki performa lebih kuat dalam periode tertentu.
Saat rasio turun ke level oversold, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin diperdagangkan jauh lebih rendah dibandingkan emas.
Data terbaru memperlihatkan oscillator BTC/Gold berada di sekitar -1,81 standar deviasi dari tren jangka panjangnya.
Angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata empat tahun terakhir yang berada di kisaran -1,42.
Posisi itu menjadi salah satu level terendah sejak Bitcoin mulai diperdagangkan.
Selain itu, harga Bitcoin saat ini juga masih bergerak di bawah tren jangka panjang berdasarkan model power-law dan rata-rata empat tahunan.
Beberapa analis memperkirakan nilai wajar Bitcoin dalam model tersebut berada jauh di atas harga pasar saat ini.
Emas Menguat, Bitcoin Masih Tertekan
Kinerja emas sepanjang beberapa bulan terakhir terus menunjukkan penguatan.
Investor memilih emas karena aset tersebut dianggap lebih stabil ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.
Sebaliknya, Bitcoin menghadapi tekanan akibat volatilitas yang tinggi dan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.
Perbedaan performa kedua aset itu membuat rasio BTC/Gold turun semakin dalam.
Akibatnya, banyak analis mulai melihat peluang bahwa tekanan jual terhadap Bitcoin sudah mulai berlebihan.
Data Historis Tunjukkan Pola Serupa
Sejarah menunjukkan bahwa kondisi oversold pada rasio BTC/Gold sering muncul menjelang perubahan tren besar.
Fenomena tersebut pernah terjadi pada beberapa fase bear market.
Contohnya muncul pada tahun 2015, periode 2018 hingga 2019, saat pandemi COVID-19 pada 2020, dan setelah runtuhnya FTX pada 2022.
Setelah memasuki zona oversold, Bitcoin kemudian memasuki fase akumulasi sebelum akhirnya mencatat kenaikan yang signifikan.
Pada salah satu siklus sebelumnya, harga Bitcoin bahkan mampu melonjak lebih dari 660 persen dalam beberapa tahun berikutnya.
Meski setiap siklus memiliki karakter yang berbeda, pola historis tersebut tetap menarik perhatian pelaku pasar.
Likuiditas Global Menjadi Faktor Penting
Analis juga mengingatkan bahwa indikator oversold tidak selalu langsung menghasilkan reli harga.
Bitcoin biasanya bergerak lebih kuat ketika kondisi likuiditas global membaik.
Selain itu, perubahan kebijakan bank sentral juga dapat memengaruhi aliran dana menuju aset berisiko seperti Bitcoin.
Jika kondisi ekonomi mulai stabil dan minat investor terhadap aset digital meningkat, peluang kenaikan Bitcoin akan semakin besar.
Sebaliknya, tekanan makroekonomi masih dapat menahan pergerakan harga dalam jangka pendek.
Investor Mulai Menunggu Konfirmasi
Sejumlah pelaku pasar kini mulai memperhatikan beberapa indikator tambahan.
Mereka memantau volume perdagangan, arus dana institusional, serta sentimen pasar kripto secara keseluruhan.
Konfirmasi dari indikator-indikator tersebut akan membantu menentukan apakah Bitcoin benar-benar memasuki fase pemulihan.
Tanpa dukungan faktor tersebut, sinyal oversold hanya menjadi petunjuk awal yang belum tentu berkembang menjadi tren naik.
Apa Arti Kondisi Ini bagi Investor?
Level oversold pada rasio BTC/Gold menunjukkan bahwa Bitcoin sedang berada dalam kondisi yang sangat tertekan dibandingkan emas.
Situasi seperti ini memang pernah menjadi awal reli besar pada siklus sebelumnya.
Namun, investor tetap perlu memahami bahwa kondisi pasar saat ini memiliki tantangan yang berbeda.
Faktor ekonomi global, kebijakan moneter, dan arus investasi institusional masih menjadi penentu utama arah Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu indikator saat mengambil keputusan investasi.
Menggabungkan analisis teknikal, data fundamental, serta manajemen risiko tetap menjadi langkah yang lebih bijak.
Walaupun belum menjamin terjadinya reli baru, rasio BTC/Gold yang mencapai level terendah ini menjadi sinyal penting yang layak diperhatikan oleh pelaku pasar kripto di seluruh dunia.
“Baca Juga: Prancis vs Spanyol: Prediksi Semifinal Piala Dunia 2026“
















