Pronoted.com – Harapan investor terhadap fenomena Uptober kembali meredup. Hingga 26 Oktober 2026, Bitcoin (BTC) bergerak di sekitar US$80.236. Harga tersebut menunjukkan penurunan sekitar 4% sejak awal Oktober.
Kondisi ini mengingatkan pasar pada Oktober 2025. Saat itu, Bitcoin menutup bulan dengan penurunan 3,9%. Padahal, secara historis, Oktober mencatat rata-rata kenaikan Bitcoin sebesar 26,1%.
Sejumlah faktor menekan pergerakan Bitcoin sepanjang bulan ini. Arus keluar dana ETF, likuidasi posisi trading, dan kekhawatiran inflasi membuat investor semakin berhati-hati. Akibatnya, pasar kesulitan mempertahankan momentum kenaikan yang biasanya muncul pada Oktober.
“Baca Juga: Harga Perak 1 Gram Hari Ini, Oktober 2026“
1. Bitcoin Harus Kembali ke US$84.856 agar Oktober Tidak Merah
Bitcoin memulai Oktober 2026 pada level US$84.856. Harga BTC sempat naik hingga US$87.249 sebelum berbalik melemah. Pada akhir pekan, Bitcoin bahkan menyentuh titik terendah sekitar US$79.145.
Penurunan tajam tersebut juga memicu likuidasi posisi trading. Menurut laporan Cointelegraph, pasar melikuidasi sekitar US$150 juta posisi long hanya dalam dua jam.
Agar Oktober berakhir dengan kenaikan, Bitcoin harus kembali melampaui harga pembukaannya, yaitu US$84.856, sebelum 31 Oktober 2026. Namun, tekanan pasar membuat target tersebut semakin menantang.
Pada Oktober 2025, Bitcoin mencatat penurunan bulanan pertama setelah enam tahun berturut-turut menutup Oktober dengan kenaikan. Setelah itu, harga BTC kembali turun 17,5% pada November 2025.
Pengalaman tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati menghadapi sisa kuartal IV 2026. Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto besar juga mengalami tekanan.
Hingga pertengahan Oktober, Ethereum (ETH) turun 10,2%. XRP melemah 12,3%, sedangkan Solana (SOL) terkoreksi 11,5%. Penurunan ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya menyasar Bitcoin.
2. Arus Keluar ETF dan Likuidasi Menekan Investor
Investor institusi turut memengaruhi pergerakan Bitcoin melalui aktivitas ETF. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sekitar US$910 juta selama dua pekan hingga 17 Oktober.
Bahkan, pada 7 Oktober, investor menarik sekitar US$484,9 juta dalam satu hari. Laporan yang menjadi sumber informasi tersebut menyebut angka itu sebagai arus keluar harian terbesar sejak Juni.
Tekanan semakin terasa ketika harga Bitcoin turun di bawah estimasi rata-rata harga masuk investor ETF, yaitu sekitar US$82.300. Kondisi tersebut menempatkan sebagian investor dalam posisi rugi yang belum mereka realisasikan.
Sementara itu, trader ritel juga menghadapi risiko likuidasi. Pada 8 Oktober, likuidasi di pasar kripto mencapai US$974 juta. Posisi long menyumbang sekitar US$896 juta dari total tersebut.
Indeks Crypto Fear and Greed turut menunjukkan perubahan sentimen. Indeks itu turun dari level 68 atau kategori Greed pada 22 Oktober. Pada 23–25 Oktober, indeks bergerak di kisaran 51–54 atau kategori Neutral.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa antusiasme investor mulai melemah. Arus keluar dana institusi dan likuidasi trader ritel pun menyulitkan pasar membangun momentum beli baru.
3. Inflasi AS dan Keputusan The Fed Membayangi Bitcoin
Selain tekanan dari pasar kripto, kondisi ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan Bitcoin. Data inflasi konsumen AS atau CPI untuk September tercatat sebesar 3,7% secara tahunan, menurut data dalam laporan sumber.
Angka tersebut berada di atas perkiraan pasar. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Menjelang rapat FOMC pada 28 Oktober, pasar memperkirakan peluang lebih dari 90% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga. Kisaran yang disebut dalam laporan berada pada 3,75% hingga 4%.
Sementara itu, perkiraan pasar untuk Desember mengarah pada potensi kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase. Namun, investor tetap perlu memperhatikan keputusan resmi dan perkembangan data ekonomi terbaru.
Harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi. Brent sempat menyentuh US$117 per barel sehingga meningkatkan perhatian pasar terhadap tekanan harga energi.
Jika inflasi tetap tinggi, investor mungkin akan lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Kondisi tersebut dapat membatasi minat terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin.
4. Level US$79.300 Menjadi Penopang Penting Bitcoin
Dari sisi teknikal, area US$79.300 menjadi salah satu level penopang terdekat bagi Bitcoin. Jika harga menembus area tersebut, tekanan jual berpotensi semakin besar.
Sebaliknya, zona US$87.000 menjadi area penting yang perlu BTC lewati untuk memperkuat pemulihan. Zona ini juga mendekati harga pembukaan tahunan Bitcoin pada 2026, yaitu sekitar US$87.490.
Rata-rata pergerakan 20 bulan berada di sekitar US$87.165. Kedekatan sejumlah level tersebut membuat area US$87.000 menjadi perhatian pelaku pasar.
Meski demikian, level teknikal tidak menjamin arah pergerakan harga berikutnya. Investor tetap perlu mempertimbangkan volume perdagangan, arus dana ETF, dan perkembangan ekonomi global.
5. Rapat FOMC dan Laporan Keuangan Jadi Sorotan
Menjelang akhir Oktober, investor akan memantau keputusan The Fed dan laporan keuangan perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk kembali ke level pembukaan Oktober. Selain itu, arus dana ETF yang belum pulih dan kekhawatiran inflasi dapat membatasi peluang pemulihan harga.
Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga BTC hingga 31 Oktober. Pergerakan Bitcoin pada akhir bulan akan menentukan apakah Oktober 2026 kembali mencatat penurunan bulanan.
Investor juga perlu mengingat bahwa kinerja historis tidak menjamin hasil serupa pada masa mendatang. Pasar kripto memiliki volatilitas tinggi sehingga setiap keputusan investasi membutuhkan riset mandiri dan pengelolaan risiko yang cermat.
“Baca Juga: Barcelona Kalah dari Madrid, Flick Beri Libur Pemain“

















