pronoted.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak fluktuatif sepanjang 13 hingga 17 Juli 2026. Mata uang Garuda sempat melemah tajam pada awal pekan. Namun, rupiah berhasil memangkas tekanan dan kembali menguat menjelang akhir pekan.
Pada Senin, 13 Juli 2026, rupiah sempat menembus level Rp18.140 per dolar AS. Tekanan masih berlanjut pada Selasa dengan pergerakan di kisaran Rp18.100 per dolar AS.
Meski begitu, kondisi mulai berubah sejak pertengahan pekan. Rupiah perlahan menguat setelah sentimen pasar membaik dan tekanan eksternal mulai mereda.
Baca Juga: Ripple Gelontorkan Hibah untuk Bisnis Veteran AS“
Rupiah Menguat Menjelang Penutupan Pekan
Pergerakan rupiah menunjukkan tren yang lebih positif mulai Rabu, 15 Juli 2026. Saat itu, nilai tukar menguat ke sekitar Rp18.070 per dolar AS.
Penguatan berlanjut pada Kamis. Kurs referensi turun ke kisaran Rp17.978 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan kenaikan nilai rupiah sekitar 0,36 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Sementara itu, pada Jumat pagi, 17 Juli 2026, kurs BCA mencatat E-Rate beli di Rp17.940. Adapun kurs jual berada di Rp17.960 per dolar AS.
Posisi tersebut jauh lebih baik dibandingkan awal pekan. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda.
Harga Minyak Dunia Menjadi Pemicu Utama
Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan rupiah pada awal pekan.
Harga minyak mentah Brent naik setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia. Karena itu, gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi harga energi global.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas produksi energi di Rusia juga meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dunia semakin terbatas.
Indonesia Ikut Merasakan Dampak Kenaikan Minyak
Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Ketika harga minyak dunia naik, biaya impor energi ikut meningkat. Kondisi tersebut memengaruhi neraca perdagangan dan mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.
Akibatnya, tekanan terhadap mata uang Indonesia meningkat pada awal pekan.
Namun, situasi mulai membaik menjelang akhir pekan. Ketegangan geopolitik sedikit mereda sehingga harga minyak bergerak lebih stabil. Perubahan itu membantu rupiah kembali menguat.
Kebijakan Bank Indonesia Menopang Rupiah
Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati kebijakan Bank Indonesia.
Pada Rapat Dewan Gubernur 17 hingga 18 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan tekanan dari luar negeri.
Kenaikan suku bunga juga membantu menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, pelaku pasar tetap memperhatikan kondisi cadangan devisa Indonesia. Penurunan cadangan devisa dapat membatasi ruang gerak bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah apabila tekanan global kembali meningkat.
Pelaku Pasar Masih Mencermati Sentimen Global
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih bergantung pada berbagai faktor eksternal.
Harga minyak dunia tetap menjadi perhatian utama. Selain itu, perkembangan konflik geopolitik juga dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Di sisi lain, pelaku pasar akan terus mengamati langkah Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Apabila tekanan global kembali meningkat, volatilitas rupiah berpotensi bertambah. Sebaliknya, jika kondisi internasional membaik dan harga energi stabil, rupiah memiliki peluang untuk mempertahankan tren penguatannya dalam jangka pendek.
Baca Juga: Messi Akui Spanyol Jadi Lawan Terberat di Final Piala Dunia“
















