Pronoted.com – Bitcoin (BTC) kembali turun di bawah US$80.000 pada awal pekan ini. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bearish analis kripto Benjamin Cowen untuk kuartal keempat 2026.
Menurut BeInCrypto, Cowen sudah menandai dua dari sembilan langkah dalam peta analisisnya. Ia akan mempertahankan pandangan bearish tersebut sampai pasar menunjukkan sinyal yang membantah prediksinya.
Cowen menetapkan US$83.000 sebagai batas penting untuk menguji skenario tersebut. Jika Bitcoin kembali menembus level itu dan mempertahankannya, ia akan menganggap peta bearish tersebut gugur.
“Baca Juga: MSCI Turunkan Status Argentina, Apa Dampaknya bagi Pasar?“
Dua Sinyal Awal Menguatkan Prediksi Bearish
Cowen menetapkan penutupan mingguan Bitcoin di bawah US$83.000 sebagai langkah pertama. Bitcoin sudah memenuhi syarat tersebut.
Selanjutnya, Cowen menilai konfirmasi fakeout pada 25 Oktober sebagai langkah kedua yang telah selesai. Istilah fakeout merujuk pada pergerakan harga yang terlihat seperti menembus arah tertentu, tetapi kemudian berbalik.
Data Investing.com menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh US$79.146 pada Sabtu, 24 Oktober. Harga tersebut menjadi level terendah Bitcoin dalam lebih dari satu bulan.
Pada Minggu, harga Bitcoin kembali naik ke sekitar US$80.800. Namun, pemulihan itu belum mengubah gambaran teknis secara signifikan.
Bitcoin juga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, yang berada di sekitar US$81.700. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga masih membayangi pasar.
Gelombang Likuidasi Menekan Posisi Trader
Penurunan Bitcoin turut memicu likuidasi besar di pasar kripto. Data Coinglass yang dikutip Investing.com mencatat likuidasi posisi senilai lebih dari US$810 juta selama 24 jam.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$689 juta berasal dari posisi bullish. Trader membuka posisi bullish ketika mereka memperkirakan harga aset akan naik.
Sementara itu, BeInCrypto melaporkan likuidasi sekitar US$191 juta pada posisi long saat Bitcoin turun di bawah US$80.000 pada Sabtu. Posisi long memungkinkan trader memperoleh keuntungan ketika harga naik, tetapi penurunan harga dapat memicu kerugian.
Angka tersebut menunjukkan banyak trader masih mengharapkan kenaikan harga. Namun, pergerakan pasar justru berlawanan dengan perkiraan mereka.
Tujuh Langkah Berikutnya Bergantung pada Kondisi Ekonomi
Cowen masih menunggu konfirmasi untuk tujuh langkah berikutnya. Sebagian besar langkah tersebut berkaitan dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan kondisi ekonomi global.
Pertama, Cowen memperkirakan Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada keputusan 28 Oktober. Kedua, ia memperkirakan data inflasi PCE September pada 29 Oktober menunjukkan angka lebih tinggi daripada ekspektasi pasar.
Peta analisisnya juga mencakup kemungkinan kenaikan harga minyak hingga US$120 per barel akibat perang Iran. Selain itu, ia memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dapat naik kembali ke 5,3%.
Cowen kemudian memperhitungkan kemungkinan pelemahan pasar saham dan penurunan Bitcoin sepanjang kuartal keempat. Langkah terakhir dalam skenarionya mencakup penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang menjelang akhir tahun.
Meski demikian, seluruh langkah tersebut belum mendapat konfirmasi. Perkembangan data ekonomi dan respons pasar akan menentukan apakah skenario Cowen benar-benar berlanjut.
Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Jadi Perhatian
Sejumlah indikator ekonomi sudah bergerak mendekati perkiraan Cowen. Harga minyak Brent mencapai US$116,72 per barel saat penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober.
Sementara itu, data FRED milik Federal Reserve St. Louis mencatat imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sebesar 5,10% pada 15 Oktober. Angka tersebut masih berada di bawah target 5,3% dalam skenario Cowen.
Cowen juga menyoroti pola penurunan pasar pada kuartal keempat tahun pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Negara tersebut akan menggelar pemilu paruh waktu pada November 2026.
Namun, pola historis tidak menjamin pasar akan mengulangi pergerakan yang sama. Investor tetap perlu memperhatikan data ekonomi dan perkembangan geopolitik terbaru.
Level US$83.000 Menjadi Penentu Arah Bitcoin
Cowen menjadikan US$83.000 sebagai batas utama untuk mempertahankan atau membatalkan pandangannya. Selama Bitcoin belum kembali ke atas level tersebut dan bertahan, ia tetap melihat risiko penurunan.
Sebaliknya, Bitcoin yang berhasil merebut kembali US$83.000 akan membatalkan peta bearish miliknya. Karena itu, investor perlu memantau pergerakan harga di sekitar level tersebut.
Investing.com mencatat area US$78.400 dan US$77.876 sebagai level dukungan yang kini menjadi perhatian pasar. Pelaku pasar juga menantikan keputusan Federal Reserve pada 27–28 Oktober.
Harga minyak yang tinggi turut memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi. Oleh karena itu, keputusan suku bunga dan perkembangan inflasi dapat memengaruhi sentimen pasar kripto.
Meski dua langkah awal sudah terpenuhi, prediksi Cowen tetap berupa skenario analisis, bukan kepastian. Bitcoin masih dapat bergerak ke arah berbeda jika kondisi ekonomi dan sentimen investor berubah.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi, bukan saran investasi. Harga aset kripto memiliki volatilitas tinggi dan dapat berubah dengan cepat. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Gunakan dana yang siap menanggung risiko dan sesuaikan keputusan dengan kondisi keuangan masing-masing.
“Baca Juga: Australopithecus africanus: Sejarah dan Ciri Fisiknya“

















