Pronoted.com – Harga Bitcoin (BTC) menghadapi tekanan setelah kehilangan level psikologis US$80.000 pada akhir pekan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi penurunan harga dalam waktu dekat.
Pembaruan analisis teknikal Investing.com pada Senin, 26 Oktober, menunjukkan pola segitiga menurun hampir terbentuk sepenuhnya. Pola tersebut telah mencapai sekitar 90 persen penyelesaian pada grafik harian.
Garis dasar pola berada di sekitar US$79.277. Sementara itu, Bitcoin sempat menyentuh level terendah harian sekitar US$79.200.
Kondisi tersebut membuat area US$79.200 hingga US$79.277 menjadi perhatian utama pelaku pasar. Jika pembeli mampu mempertahankan area tersebut, Bitcoin berpeluang menghindari tekanan penurunan lebih lanjut.
“Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini: Tembus Rp18.162 per Dolar AS“
Pola Segitiga Menurun Beri Sinyal Bearish
Pola segitiga menurun muncul ketika harga membentuk puncak yang semakin rendah. Pada saat bersamaan, harga terus menguji batas bawah yang relatif datar.
Investing.com mencatat Bitcoin sudah menguji support US$79.277 sebanyak tiga kali. Sebaliknya, resistance US$82.000 telah menahan kenaikan harga sebanyak empat kali.
Indikator Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan pelemahan momentum. Pada harga sekitar US$79.989, RSI berada di level 39,82.
Angka tersebut mendekati area jenuh jual atau oversold. Namun, RSI belum menembus ambang 30 yang biasanya menandai kondisi oversold.
Indikator teknikal lainnya turut memperlihatkan tekanan bearish. Harga Bitcoin berada di bawah rata-rata pergerakan 20, 50, dan 200 hari.
Selain itu, MACD berada di level -518, sedangkan garis sinyalnya mencapai -494. Posisi tersebut menunjukkan momentum penurunan masih mendominasi.
Candlestick pada 26 Oktober juga membentuk pola bearish marubozu. Sementara itu, awan Ichimoku di kisaran US$81.139 hingga US$82.070 menjadi hambatan kenaikan berikutnya.
Volume perdagangan yang menurun di sekitar support menunjukkan pembeli belum menunjukkan kekuatan besar. Di sisi lain, ATR harian berada di angka 825,52 atau sekitar 1,03 persen.
Level US$79.200 dan US$81.000 Jadi Penentu
Bitcoin telah bergerak dalam rentang US$80.000 hingga US$86.000 selama sekitar dua pekan. Pada periode yang sama, volatilitas 30 hari menyusut dari 13 persen menjadi 6 persen.
Pergerakan berikutnya bergantung pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area support. Jika harga menembus US$80.000 dan US$79.200 dengan volume besar, tekanan jual berpotensi meningkat.
Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpeluang turun menuju US$78.000 hingga US$78.600. Namun, penutupan harian di atas US$81.000 dapat membatalkan sinyal penurunan tersebut.
Level US$81.000 juga menjadi batas penting untuk mengembalikan harga ke rentang sebelumnya. Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan respons harga terhadap area tersebut.
Laporan 24/7 Wall St. turut menyoroti True Market Mean Glassnode di sekitar US$77.600. Sementara itu, rentang US$80.000 hingga US$81.500 menjadi basis biaya ETF Bitcoin spot dan perusahaan treasury.
Investing.com juga mengidentifikasi beberapa level support Fibonacci. Area pertama berada di US$77.781, sedangkan area berikutnya berada di US$74.821.
Selain itu, Bitcoin mencatat titik terendah mingguan di US$79.107. Level tersebut menjadi posisi terlemah dalam lebih dari satu bulan.
Klaster posisi long berleverage terbesar memiliki rata-rata harga masuk sekitar US$81.993. Jika Bitcoin terus bergerak di bawah level tersebut, tekanan likuidasi dapat memperbesar volatilitas.
Arus Dana ETF dan Faktor Makro Tekan Bitcoin
Selain indikator teknikal, sentimen ekonomi global turut memengaruhi pergerakan Bitcoin. ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sebesar US$635,5 juta pada 22 Oktober.
Jumlah tersebut menjadi arus keluar terbesar sejak Juni. Kondisi ini menunjukkan sebagian investor mengurangi eksposur terhadap Bitcoin.
Kenaikan harga minyak WTI hingga US$107,89 per barel juga menambah tekanan pasar. Selain itu, ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran investor terhadap aset berisiko.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah agenda ekonomi penting. Agenda tersebut mencakup keputusan suku bunga The Fed, data inflasi PCE September, dan pertumbuhan ekonomi AS kuartal III.
Perubahan kebijakan suku bunga dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko. Karena itu, hasil data ekonomi berpotensi menentukan arah pergerakan Bitcoin berikutnya.
Aktivitas Investor Ritel dan Whale Berubah
Data arus dana juga memperlihatkan perubahan aktivitas investor. Arus masuk investor ritel ke bursa meningkat dari US$5,5 miliar menjadi US$10,75 miliar dalam 30 hari.
Sebaliknya, arus masuk investor besar atau whale turun dari US$5,9 miliar menjadi US$3,8 miliar. Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan perilaku antara kedua kelompok investor.
Sementara itu, indeks Fear & Greed berada di angka 50. Posisi tersebut menunjukkan sentimen pasar masih berada dalam kategori netral.
Dengan demikian, Bitcoin menghadapi sejumlah tekanan teknikal dan makroekonomi. Area US$79.200 menjadi batas penting yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek.
Jika support tersebut bertahan, Bitcoin berpeluang membangun momentum pemulihan. Namun, penembusan support dengan volume besar dapat membuka ruang penurunan berikutnya.
Disclaimer
Artikel ini bertujuan memberikan informasi mengenai perkembangan pasar Bitcoin. Analisis teknikal dan data pasar tidak menjamin arah pergerakan harga selanjutnya.
Investasi aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Karena itu, lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Gunakan dana sesuai kemampuan dan pertimbangkan profil risiko masing-masing. Kinerja masa lalu juga tidak menjamin hasil investasi pada masa mendatang.
“Baca Juga: Australopithecus Africanus: Sejarah dan Ciri-Cirinya“

















