Pronoted.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 30 Oktober 2026. Data Investing.com menunjukkan USD/IDR naik 37 poin atau sekitar 0,20 persen.
Pada pukul 11.53 WIB, pasangan mata uang tersebut mencapai Rp18.162 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan rupiah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan Jumat, USD/IDR bergerak dalam rentang Rp18.104,5 hingga Rp18.163. Dengan demikian, posisi rupiah pada pukul 11.53 WIB hampir menyentuh batas tertinggi harian.
“Baca Juga: Harga Emas Perhiasan 29 Oktober 2026 per Gram“
USD/IDR Sempat Menguat pada Pagi Hari
Pergerakan rupiah sempat menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Jumat. Namun, tekanan pasar kemudian mendorong dolar AS kembali naik terhadap rupiah.
Grafik Investing.com memperlihatkan USD/IDR sempat turun mendekati Rp18.108 pada Jumat pagi. Setelah itu, pasangan mata uang tersebut bergerak naik cukup tajam hingga mencapai Rp18.162.
Bloomberg Technoz juga mencatat penguatan rupiah pada awal perdagangan. Rupiah spot sempat mencapai Rp18.108 per dolar AS.
Namun, arah pergerakan tersebut berubah menjelang siang. Pada pukul 10.58 WIB, rupiah melemah sekitar 0,04 persen ke level Rp18.140 per dolar AS.
Selain itu, posisi USD/IDR saat ini mendekati batas atas rentang 52 minggu. Investing.com mencatat batas tersebut berada di sekitar Rp18.197,5.
Pertumbuhan Ekonomi AS Membatasi Penguatan Rupiah
Kondisi ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. CNBC Indonesia melaporkan ekonomi AS tumbuh 3,4 persen secara tahunan pada kuartal III-2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada kuartal sebelumnya. Hasil ini juga melampaui perkiraan pasar sebesar 3,2 persen.
Di sisi lain, inflasi AS masih menunjukkan tekanan. Inflasi berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) mencapai 3,6 persen secara tahunan pada September.
Sementara itu, inflasi inti PCE berada di angka 3,1 persen. Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan sikap hati-hati.
CNBC Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi yang tinggi dapat membatasi peluang penguatan rupiah. Sebab, pasar masih memperhatikan arah kebijakan suku bunga AS.
Meski demikian, indeks dolar AS justru mengalami penurunan. CNBC Indonesia mencatat indeks tersebut turun 0,30 persen menjadi 101,731 pada pukul 09.00 WIB.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga menyoroti sikap The Fed. Menurutnya, bank sentral AS belum memberikan sinyal jelas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Isu MSCI dan Defisit APBN Menambah Tekanan Rupiah
Selain faktor eksternal, sentimen pasar domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Bloomberg Technoz mengaitkan pelemahan rupiah dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada pukul 10.05 WIB, IHSG turun 108,06 poin atau sekitar 2,2 persen ke level 4.985. Penurunan tersebut mencerminkan tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia.
Rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar Indonesia menjadi Standalone Market juga memicu kekhawatiran investor. Bloomberg Technoz melaporkan sentimen tersebut mendorong aksi jual saham dan obligasi.
Selain itu, kondisi fiskal Indonesia turut menjadi perhatian pasar. Bloomberg Technoz menyebut defisit APBN 2026 berpotensi melampaui 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Hingga September 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp319 triliun atau sekitar 1,24 persen terhadap PDB. Perkembangan tersebut menambah perhatian investor terhadap kondisi keuangan negara.
Tim Riset Bloomberg Technoz memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.135 hingga Rp18.200 per dolar AS pada Jumat.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan kebijakan suku bunga BI bergantung pada perkembangan data ekonomi. Artinya, BI tidak otomatis mengikuti setiap keputusan The Fed.
Pergerakan Rupiah Turut Memengaruhi Harga USDT dan USDC
Perubahan nilai tukar rupiah juga memengaruhi harga aset digital yang mengikuti nilai dolar AS. Dua contohnya adalah Tether (USDT) dan USD Coin (USDC).
Kedua stablecoin tersebut dirancang untuk mempertahankan nilai yang mendekati satu dolar AS. Karena itu, perubahan kurs USD/IDR dapat memengaruhi harga keduanya dalam rupiah.
Investor dapat memantau pergerakan USDT dan USDC untuk memahami perubahan nilai dolar terhadap rupiah. Namun, pemantauan harga saja tidak cukup untuk menentukan keputusan investasi.
Aplikasi Pintu menyediakan informasi harga USDT dan USDC terhadap rupiah. Pengguna juga dapat melihat grafik historis untuk mempelajari perubahan harga dari waktu ke waktu.
Meski begitu, setiap investor perlu mempertimbangkan risiko dan profil investasinya. Pasar mata uang maupun aset kripto dapat mengalami perubahan harga dalam waktu singkat.
Disclaimer
Artikel ini bertujuan memberikan informasi mengenai perkembangan nilai tukar rupiah. Data dan informasi berasal dari sumber yang disebutkan dalam materi artikel.
Pergerakan harga pada masa lalu tidak menjamin hasil pada masa mendatang. Investasi dan perdagangan aset kripto memiliki risiko serta volatilitas tinggi.
Karena itu, lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Gunakan dana sesuai kemampuan dan pertimbangkan profil risiko masing-masing.
“Baca Juga: Australopithecus Africanus: Sejarah dan Ciri-Cirinya“

















