Pronoted.com – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah pada perdagangan Jumat, 11 September 2026.
BBRI turun 1,51% atau Rp50 ke level Rp3.270 per saham.
Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kondisi pasar saham global turut memengaruhi pergerakan saham perbankan Indonesia.
Selain itu, kenaikan harga minyak dan ekspektasi kebijakan The Fed menambah tekanan terhadap pasar.
“Baca Juga: Fed 16 September 2026: Nasib Reli Altcoin“
Harga BBRI Turun: Saham BBRI Hari Ini
BBRI mengakhiri perdagangan 11 September pada level Rp3.270 per saham.
Harga tersebut turun Rp50 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp3.320.
Saham BBRI bergerak pada rentang Rp3.250 hingga Rp3.320 sepanjang perdagangan.
Volume perdagangan mencapai sekitar 217,3 juta saham pada akhir perdagangan.
Dengan harga Rp3.270, investor membutuhkan sekitar Rp327.000 untuk membeli satu lot BBRI.
Satu lot saham di Bursa Efek Indonesia berisi 100 lembar saham.
Data pasar menunjukkan BBRI masih bergerak dalam rentang 52 minggu Rp2.540 hingga Rp4.270.
Pasar Saham Tertekan Harga Minyak dan Kebijakan The Fed
Pasar saham menghadapi tekanan karena investor meningkatkan perhatian terhadap inflasi dan harga energi.
Harga minyak Brent sempat mencapai sekitar US$109,97 per barel pada Jumat.
Namun, harga tersebut kemudian turun dan Brent berada sekitar US$104,49 per barel.
Ketegangan geopolitik turut mendorong kekhawatiran mengenai pasokan energi dunia.
Selain itu, data inflasi Amerika Serikat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Inflasi konsumen AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026.
Inflasi tahunan juga mencapai 3,4%, sedangkan inflasi inti meningkat 2,4%.
Data tersebut membuat pelaku pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap saham karena investor menghadapi biaya dana lebih tinggi.
Saham Perbankan Ikut Menghadapi Tekanan
Saham perbankan besar Indonesia juga mengalami tekanan dalam kondisi pasar tersebut.
BBRI sebelumnya turun 2,92% pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.
Pada hari yang sama, investor asing mencatat penjualan bersih BBRI sekitar Rp116,19 miliar.
Sementara itu, BBCA turun 1,15% dengan penjualan bersih asing sekitar Rp276,20 miliar.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual juga menyebar ke saham bank besar lainnya.
Karena itu, investor perlu memperhatikan sentimen pasar global ketika memantau saham perbankan.
Analisis Teknikal BBRI Masih Menunjukkan Ruang Pergerakan
Data teknikal menempatkan BBRI pada area support sekitar Rp3.080.
Sementara itu, area resistance berada di sekitar Rp3.420.
Rata-rata pergerakan 20 hari berada sekitar Rp3.246,50. Nilai tersebut berada dekat dengan harga BBRI saat ini.
Rata-rata pergerakan 50 hari berada sekitar Rp3.062,80.
Indikator RSI berada di level 59,1. Angka tersebut masih berada dalam area netral hingga positif.
RSI tersebut juga belum menunjukkan kondisi jenuh beli.
Sementara itu, indikator MACD masih berada di area positif.
Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar secara keseluruhan.
Data teknikal hanya memberikan gambaran pergerakan harga dan bukan rekomendasi transaksi.
Pintu Hadirkan Tokenized Stocks
Selain saham Indonesia, Pintu juga menawarkan akses ke sejumlah saham Amerika Serikat melalui tokenized stocks.
Produk tersebut mencakup saham perusahaan seperti Apple, Nvidia, dan Microsoft.
Tokenized stocks memberikan bentuk akses digital terhadap aset yang mengikuti harga saham tertentu.
Namun, investor tetap perlu memahami risiko dan karakteristik produk sebelum melakukan transaksi.
Setiap keputusan investasi membutuhkan pertimbangan terhadap risiko, tujuan, dan kondisi keuangan masing-masing investor.
Disclaimer
Artikel ini hanya memberikan informasi dan edukasi mengenai pergerakan saham BBRI.
Artikel ini bukan nasihat atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham.
Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.
Investasi saham dan aset keuangan digital memiliki risiko tinggi.
Harga aset dapat turun dan investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh dana.
Kinerja masa lalu juga tidak menjamin hasil investasi pada masa mendatang.
“Baca Juga: Prediksi Levante vs Barcelona: Blaugrana Diunggulkan“

















