Pronoted.com – Harga perak dunia mengalami tekanan besar sepanjang Oktober 2026. Kontrak berjangka perak COMEX mencapai US$49,04 per troy ons pada 3 November 2026 pukul 14.06 WIB.
Angka tersebut turun sekitar 18,2% dari US$59,98 pada 2 Oktober. Bahkan, harga penutupan US$49,10 pada 30 Oktober menjadi level terendah sejak 7 November 2025.
Sementara itu, pasar spot juga menunjukkan pelemahan serupa. Kitco mencatat harga perak sebesar US$48,89 per troy ons pada 3 November pukul 14.16 WIB.
Harga tersebut turun 3,24% dalam sehari. Selain itu, nilainya sudah merosot sekitar 60% dari rekor US$121,67 pada 29 Januari 2026.
Penurunan perak bahkan jauh lebih dalam dibandingkan emas. XTB memperkirakan harga emas hanya turun sekitar 6% sepanjang Oktober.
“Baca Juga: Harga Saham Google Hari Ini Turun ke US$278,22“
Seberapa Dalam Penurunan Harga Perak Dunia?
Penurunan harga perak berlangsung cukup tajam sepanjang Oktober. Pada Jumat, 30 Oktober, harga perak spot merosot hampir 6% hingga mendekati US$48,95.
Namun, pasar sempat menunjukkan pemulihan pada awal November. Kitco mencatat harga perak spot naik 3,67% hingga mendekati US$50,80 pada Senin, 2 November.
Sayangnya, kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Sehari kemudian, harga kembali melemah dan bergerak antara US$48,87 hingga US$50,99.
Jika melihat pergerakan sejak awal tahun, tekanan harga terlihat semakin jelas. Kontrak berjangka perak mencatat penutupan tertinggi US$115,08 pada 26 Januari 2026.
Sementara itu, harga pada akhir 2025 masih berada di US$70,13. Dengan demikian, kontrak berjangka perak sudah kehilangan sekitar 30% nilainya sejak akhir tahun lalu.
Tiga Faktor yang Menekan Harga Perak
Sejumlah faktor mendorong pelemahan harga perak sepanjang Oktober. Berikut tiga tekanan utama yang memengaruhi pasar.
1. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan 28 Oktober 2026.
Namun, keputusan tersebut tidak menghilangkan kekhawatiran pasar. XTB mencatat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga Desember melebihi 70%.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik perak. Sebab, logam mulia tidak memberikan bunga seperti sejumlah instrumen keuangan lainnya.
2. Aksi Jual di Pasar Logam Mulia
Selain kebijakan moneter, aksi jual logam mulia turut menekan harga perak. XTB menyebut Oktober 2026 menjadi bulan terburuk bagi emas sejak 2008.
Perak mengalami penurunan yang lebih dalam. Bahkan, pelemahannya mencapai sekitar tiga kali penurunan emas menurut analisis XTB.
Kondisi tersebut menunjukkan perak menghadapi tekanan lebih besar ketika investor melepas aset logam mulia.
3. Permintaan Industri Mengalami Pelemahan
Perak memiliki fungsi penting dalam industri elektronik dan panel surya. Karena itu, perubahan kebutuhan industri dapat memengaruhi harganya.
The Silver Institute memperkirakan permintaan industri perak turun 3% sepanjang 2026. Lembaga tersebut juga memproyeksikan total permintaan turun 2% menjadi 1,11 miliar ons.
Namun, produksi tambang diperkirakan tidak banyak berubah. Akibatnya, pasar perak berpotensi mengalami defisit selama enam tahun berturut-turut.
The Silver Institute memperkirakan defisit pasokan mencapai 46,3 juta ons pada 2026.
Rasio Emas-Perak Naik ke Sekitar 80
Rasio emas-perak menunjukkan jumlah ons perak yang setara dengan satu ons emas. Investor sering menggunakan rasio ini untuk membandingkan pergerakan kedua logam.
Pada 3 November 2026 pukul 14.06 WIB, harga emas berjangka mencapai US$3.919,80. Sementara itu, harga perak berjangka berada di US$49,04.
Perhitungan kedua harga tersebut menghasilkan rasio sekitar 79,9. Angka ini menunjukkan perak mengalami pelemahan lebih dalam dibandingkan emas.
Sebagai perbandingan, rasio emas-perak hanya sekitar 44 ketika perak mencapai puncaknya pada Januari 2026.
Kepemilikan ETF dan Impor India Jadi Perhatian
Di sisi lain, data kepemilikan ETF perak memberikan gambaran tambahan mengenai pasar. iShares mencatat SLV menyimpan 506,68 juta ons perak pada 2 November 2026.
Jumlah tersebut setara sekitar 15.759,44 ton. Sementara itu, nilai aset bersih SLV mencapai US$25,38 miliar.
Pasar India juga menunjukkan perkembangan penting. Analis Heraeus menyebut India telah menerbitkan izin impor sekitar 6.500 ton perak untuk enam bulan berikutnya.
Namun, Heraeus memperkirakan permintaan domestik yang lemah dapat membatasi penggunaan kuota impor tersebut.
SLVon di Pintu Turun 18,21% dalam Sebulan
Penurunan harga perak juga memengaruhi SLVon di platform Pintu. Aset digital ini mengacu pada harga iShares Silver Trust (SLV) melalui Ondo Global Markets.
SLV merupakan produk investasi yang menyimpan perak batangan. Sementara itu, SLVon memberikan eksposur terhadap harga SLV melalui aset digital.
Pemegang SLVon tidak memiliki perak fisik maupun unit SLV secara langsung. Selain itu, mereka tidak memperoleh hak pemegang unit ETF tersebut.
Data Pintu pada 3 November 2026 pukul 14.21 WIB mencatat harga SLVon sebesar Rp803.908. Nilainya turun 3,71% dalam sehari dan 18,21% dalam sebulan.
Karena SLVon menggunakan harga acuan dalam dolar AS, perubahan nilai tukar rupiah juga memengaruhi harganya.
FAQ Seputar Penurunan Harga Perak
Mengapa harga perak turun sekitar 18% dalam sebulan?
Ekspektasi kenaikan suku bunga, aksi jual logam mulia, dan pelemahan permintaan industri menekan harga perak.
Seberapa jauh harga perak turun dari rekor tertingginya?
Harga spot US$48,89 pada 3 November 2026 berada sekitar 60% di bawah rekor US$121,67 pada Januari 2026.
Apa arti kenaikan rasio emas-perak?
Rasio yang meningkat menunjukkan harga perak melemah lebih dalam dibandingkan emas dalam periode tertentu.
Apa perbedaan SLV dan SLVon?
SLV merupakan ETF yang menyimpan perak batangan. Sementara itu, SLVon merupakan aset digital yang mengacu pada harga SLV. Pemegang SLVon tidak memiliki perak fisik atau unit ETF secara langsung.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi dan bukan ajakan membeli atau menjual aset. Investasi kripto dan aset digital memiliki risiko tinggi. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna.
Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa mendatang. Aset tertokenisasi juga tidak memberikan hak kepemilikan saham, hak suara, atau hak dividen secara langsung.
“Baca Juga: Masa Perundagian: Ciri Kehidupan dan Peninggalannya“

















