pronoted.com – Harga Bitcoin masih berada jauh di bawah puncaknya tahun lalu. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan aksi beli perusahaan publik di berbagai negara. Sebaliknya, banyak perusahaan justru meningkatkan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar.
Tren tersebut memunculkan pertanyaan penting. Apakah perusahaan melihat Bitcoin sebagai investasi jangka panjang, atau justru mengambil risiko yang lebih besar?
“Baca Juga: Jumlah XRP untuk Masuk 1% Pemilik Teratas Makin Turun“
Perusahaan Tambah Kepemilikan Bitcoin Sepanjang 2026
Data BitcoinTreasuries.net hingga 30 Juni 2026 menunjukkan pembelian Bitcoin oleh perusahaan publik terus meningkat.
Sejak awal 2023, jumlah pembelian masih berada di kisaran ribuan Bitcoin setiap kuartal.
Namun, tren tersebut berubah pada akhir 2024 ketika pembelian meningkat tajam.
Selanjutnya, laju pembelian sempat melambat sepanjang 2025.
Meski begitu, minat perusahaan kembali menguat pada kuartal II 2026.
Selama periode tersebut, perusahaan publik membeli sekitar 110.000 Bitcoin.
Jumlah itu meningkat sekitar 1,8 kali lipat dibandingkan gabungan dua kuartal sebelumnya.
Kepemilikan Korporasi Tembus 1,26 Juta Bitcoin
Peningkatan pembelian membuat total kepemilikan Bitcoin perusahaan publik melampaui 1,26 juta BTC.
Jumlah tersebut mewakili lebih dari enam persen total pasokan Bitcoin yang beredar.
Sepanjang 2026 hingga awal Juli, perusahaan menambah sekitar 166.984 BTC ke dalam aset mereka.
Angka itu bahkan melampaui jumlah Bitcoin baru yang dihasilkan para penambang pada periode yang sama.
Penambang hanya menghasilkan sekitar 81.153 BTC.
Data tersebut menunjukkan perusahaan membeli Bitcoin lebih cepat daripada pasokan baru yang masuk ke pasar.
Strategi Jangka Panjang Mulai Mendominasi
Banyak perusahaan tidak lagi memandang Bitcoin sebagai aset untuk perdagangan jangka pendek.
Sebaliknya, mereka mulai memanfaatkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi pengelolaan kas perusahaan.
Sebagian perusahaan membeli Bitcoin secara bertahap dalam jangka panjang.
Strategi tersebut membantu mengurangi dampak fluktuasi harga yang tajam.
Pendekatan seperti ini juga sering digunakan investor institusi ketika membangun portofolio investasi.
Apa Itu Rasio mNAV?
Selain harga Bitcoin, perusahaan juga memperhatikan rasio mNAV.
Rasio ini membandingkan nilai pasar perusahaan dengan nilai Bitcoin yang dimilikinya.
Nilai tersebut membantu perusahaan menentukan langkah berikutnya dalam menambah aset digital.
Jika rasio mNAV berada di atas satu, nilai perusahaan lebih tinggi dibandingkan aset Bitcoin yang dimiliki.
Dalam kondisi itu, perusahaan dapat menerbitkan saham baru untuk membeli Bitcoin tanpa banyak merugikan pemegang saham lama.
Sebaliknya, jika rasio mNAV berada di bawah satu, penerbitan saham baru berpotensi mengurangi nilai kepemilikan investor yang sudah ada.
Karena itu, banyak perusahaan lebih berhati-hati ketika rasio tersebut turun.
Risiko Tetap Menjadi Perhatian
Meski minat terhadap Bitcoin terus meningkat, perusahaan tetap menghadapi sejumlah risiko.
Harga Bitcoin dapat berubah dengan cepat dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi nilai aset perusahaan secara langsung.
Risiko menjadi lebih besar jika perusahaan membeli Bitcoin menggunakan utang atau dana hasil penerbitan saham.
Selain itu, penurunan nilai perusahaan juga dapat mengganggu rencana bisnis lain.
Misalnya, perusahaan dapat menghadapi tantangan saat melakukan merger atau akuisisi.
Karena itu, setiap perusahaan perlu menghitung risiko sebelum menambah investasi Bitcoin.
Tiga Hal Penting Sebelum Berinvestasi
Perusahaan sebaiknya mengevaluasi beberapa faktor sebelum menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan.
Pertama, perusahaan perlu menentukan besarnya dana yang akan dialokasikan untuk membeli Bitcoin.
Kedua, perusahaan harus memastikan sumber pendanaan yang digunakan.
Penggunaan kas internal tentu memiliki risiko berbeda dibandingkan pendanaan melalui utang atau penerbitan saham.
Ketiga, perusahaan perlu menetapkan jangka waktu investasi.
Perencanaan tersebut membantu perusahaan menghadapi fluktuasi harga yang sering terjadi di pasar kripto.
Minat Institusi terhadap Kripto Terus Meningkat
Semakin banyak perusahaan mulai mempertimbangkan aset kripto sebagai instrumen diversifikasi.
Likuiditas pasar yang tinggi menjadi salah satu faktor pendorong.
Selain itu, sebagian perusahaan melihat aset digital sebagai alternatif untuk mengelola dana menganggur atau idle cash.
Meski demikian, setiap keputusan investasi tetap memerlukan analisis yang matang.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan profil risiko, kondisi keuangan, serta tujuan investasi sebelum menempatkan dana pada aset kripto.
Dengan strategi yang tepat, Bitcoin dapat menjadi bagian dari diversifikasi aset. Namun, perusahaan tetap harus mengutamakan manajemen risiko agar keputusan investasi tidak membebani kondisi keuangan di masa depan.
“Baca Juga: Jadwal Piala Presiden Elite 2026: Grup dan Laga Lengkap“

















