Pronoted.com – Setiap perusahaan teknologi besar yang melantai di bursa Amerika menarik perhatian investor Indonesia.
Banyak investor ingin membeli saham sejak harga IPO. Namun, akses harga penawaran awal tidak selalu mudah bagi investor ritel.
Investor perlu memahami beberapa pilihan sebelum membeli saham perusahaan Amerika. Selain itu, investor juga perlu mengetahui aturan dan risiko setiap pilihan.
“Baca Juga: Candlestick Saham dan Crypto: Cara Baca Polanya“
Mengapa Investor Ritel Sulit Membeli Saham IPO?
Secara umum, perusahaan dan broker memberikan alokasi saham IPO kepada investor institusi. Investor individu dengan kekayaan besar juga sering mendapat prioritas.
Broker tertentu bahkan menetapkan syarat khusus bagi nasabah yang ingin mengikuti IPO. Syarat tersebut dapat mencakup saldo rekening atau aktivitas transaksi tertentu.
Beberapa broker besar pernah menerapkan persyaratan dana hingga ratusan ribu dolar. Mereka juga dapat meminta nasabah memiliki riwayat transaksi aktif.
Namun, memenuhi syarat tersebut belum menjamin investor memperoleh seluruh saham yang mereka pesan. Broker biasanya membagi saham berdasarkan jumlah permintaan dan ketersediaan.
Karena itu, investor ritel perlu memahami bahwa permintaan saham tidak selalu menghasilkan alokasi penuh.
Membeli Saham IPO Amerika Lewat Broker Internasional
Investor Indonesia tetap memiliki beberapa pilihan untuk mengikuti IPO Amerika. Salah satunya melalui broker internasional yang menerima nasabah dari luar Amerika.
Investor dapat mengikuti beberapa langkah berikut:
- Buka rekening broker internasional. Pilih broker yang menerima nasabah dari Indonesia dan menyediakan akses IPO.
- Lengkapi dokumen pajak. Investor asing biasanya perlu mengisi formulir W-8BEN untuk mengonfirmasi status pajak.
- Periksa aturan IPO. Setiap broker memiliki persyaratan berbeda untuk mengikuti penawaran saham perdana.
- Ajukan permintaan saham. Investor dapat menyampaikan minat membeli saham ketika perusahaan menentukan rentang harga IPO.
- Tunggu hasil alokasi. Broker akan memberi informasi jumlah saham yang investor dapatkan menjelang pencatatan.
Investor perlu memahami bahwa setiap broker memiliki kebijakan berbeda. Karena itu, investor sebaiknya memeriksa seluruh ketentuan sebelum mengajukan permintaan.
Membeli Saham Amerika Setelah Resmi Listing
Bagi sebagian besar investor Indonesia, membeli saham setelah listing menjadi pilihan yang lebih praktis.
Investor dapat menggunakan broker atau platform yang menyediakan akses ke pasar saham Amerika. Setelah listing, investor dapat membeli saham seperti saham Amerika lainnya.
Saham yang sudah mulai diperdagangkan biasanya tersedia melalui bursa seperti NYSE atau Nasdaq. Investor tidak perlu mengikuti proses alokasi IPO untuk membeli saham tersebut.
Namun, harga saham setelah listing dapat berbeda jauh dari harga IPO. Permintaan pasar dapat mendorong harga naik atau turun dengan cepat.
Karena itu, investor perlu memperhatikan harga pasar sebelum melakukan pembelian.
Mengikuti IPO Melalui Fitur IPO Access
Beberapa broker juga menawarkan fitur khusus seperti IPO Access. Fitur tersebut memberi kesempatan kepada investor ritel untuk mengikuti penawaran saham perdana.
Investor tertentu dapat mengikuti IPO tanpa memenuhi syarat saldo besar. Namun, ketersediaan saham biasanya tetap terbatas.
Broker juga dapat menentukan penerima alokasi melalui mekanisme tertentu. Karena itu, investor tidak selalu mendapatkan jumlah saham sesuai permintaan.
Selain itu, beberapa broker menerapkan aturan anti-flipping. Aturan tersebut membatasi penjualan saham dalam periode tertentu setelah listing.
Investor yang melanggar aturan tersebut dapat kehilangan kesempatan mengikuti IPO berikutnya. Oleh sebab itu, investor perlu membaca ketentuan broker sebelum mengikuti IPO.
Pahami Risiko Saham yang Baru IPO
Investor juga perlu memahami risiko sebelum membeli saham IPO. Saham baru biasanya memiliki riwayat perdagangan yang masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat investor lebih sulit menilai pola pergerakan harga. Selain itu, pasar dapat merespons berita perusahaan secara sangat cepat.
Harga saham juga dapat bergerak tajam pada hari pertama perdagangan. Bahkan, harga pasar dapat berbeda jauh dari harga penawaran awal.
Karena itu, investor sebaiknya tidak menempatkan seluruh modal pada satu saham IPO. Investor juga perlu memahami kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan.
Tokenized Stocks Menjadi Alternatif
Investor kini juga mengenal saham tertokenisasi atau tokenized stocks. Produk tersebut memberikan eksposur terhadap saham melalui bentuk token digital.
Tokenized stocks menggunakan blockchain dalam proses pencatatan dan perdagangan. Penerbit atau kustodian mendukung token tersebut dengan saham yang sesuai.
Model tersebut memungkinkan investor membeli sebagian kecil nilai saham. Selain itu, investor dapat memperoleh fleksibilitas perdagangan yang berbeda dari pasar saham tradisional.
Sebagai contoh, artikel sumber menyebut saham SpaceX hadir dalam bentuk token digital setelah IPO. Produk tersebut tersedia melalui beberapa platform, termasuk Pintu.
Namun, investor tetap perlu memahami struktur dan aturan produk tersebut. Tokenized stocks tidak selalu memiliki mekanisme perdagangan yang sama dengan saham biasa.
Investor juga perlu memeriksa pihak penerbit, kustodian, biaya, serta hak yang melekat pada token. Langkah tersebut membantu investor memahami risiko sebelum membeli.
Pilih Cara Sesuai Kebutuhan dan Risiko
Investor Indonesia memiliki beberapa cara untuk memperoleh eksposur terhadap saham Amerika. Pilihan tersebut mencakup alokasi IPO, pembelian setelah listing, dan tokenized stocks.
Setiap pilihan memiliki aturan, biaya, akses, serta risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu memilih metode berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Investor juga sebaiknya membaca seluruh ketentuan platform sebelum melakukan transaksi. Dengan begitu, investor dapat memahami cara kerja produk dan risiko yang menyertainya.
“Baca Juga: Sejarah Gunting Syafrudin: Latar Belakang dan Tujuan“

















